Belajar Dari Kawasan Cagar budaya Kotagede

“Pada awalnya sekelompok anak muda merasa heran, bagaimana mungkin kota yang dahulu Berjaya di masa kerajaan ini, kini sudah tidak tersisa lagi kejayaan itu. Tempat berkumpulnya pengrajin perak, kawasan bersejarah masa kerjaan dan pusat perak paling diminati ini hanya tinggal cerita.” Tutur Yuli Kusworo.

Pada dasarnya Kotagede merupakan sebuah kawasan strategis yang dikelilingi oleh gunung dan laut, sehingga tidak menutup kemungkinan juga bahaya yang mengancam Kotagede bisa menghampiri, dari sebelah selatan yaitu ancaman tsunami dari laut dan sebelah utara terdapat ancaman gunung meletus. Namun dua sisi kekayaan alam ini juga menjadi makro kosmos bagi kawasan Kotagede khususnya kota Yogyakarta.

Pada dasarnya Kotagede merupakan tanah bekas kerajaan Mataram Hindu yang banyak meninggalkan ornament fisik berupa bangunan tua, selain itu tentunya juga tidak terlepas dari peninggalan budaya, kehidupan ekonomi dan tradisi masyarakat setempat. Pada masa dahulu, Kotagede merupakan kota besar di Jawa dan menjadi pusat ekonomi di pulau Jawa.

Selain itu, kemakmuran rakyat pada saat itu terjamin dari hasil kerajinan perak dan emas yang dapat dipenuhi oleh masyarakat setempat sebagai pengrajinnya. Talenta dalam menjadi pengrajin perak inilah yang membuat orang-orang Kotagede menjadi makmur baik secara ekonomi dan kehidupan kotanya. Namun itu semua kini hanya menjadi cerita, kejayaan sudah hamper habis dimakan usia tanpa ada warisan yang diturunkan. Oleh sebab sekelompok anak muda yang resah itu membuat sebuah kegiatan di sebuah kampung bernama Jagalan.

“Menurut yuli Kusworo bahwa kegiatan ini tentunya melibatkan seluruh aktor kampung sebagai pelaku utama yang terlibat secara penuh untuk mengembalikan kejayaan Kotagede. Warga menjadi aktor periset, pelaku pengrajin perak dan emas untuk mengenang kejayaan masa dahulu dan mengembalikan kreatifitas para pengrajin. Hal yang kita lakukan sangat sederhana meliputi pemetaan berbasis komunitas yang meliputi pencarian data kampung termasuk mendata jumlah bangunan bersejarah dan jumlah pengrajin yang tersisa. “Tutur Yuli Kusworo.

Lebih lanjut menurut Yuli Kusworo bahwa para warga melakukan riset sederhana mendata rumah tradisional, kuliner tradisional termasuk para pengrajin dan seniman perak yang tersisa. Ada cerita menarik menurut Yuli Kusworo bahwa di daerah Kotagede dahulu setiap rumah sangat berisik suara para pengrajin perak, gairah itu kiranya dapat dihadirkan kembali setelah sekian lama sudah tidak terdengar lagi.

“Jadi pada dasarnya bahwa kerangka kerjanya bagi para pengrajin adalah menciptakan kerajinannya, ArKom (arsitek komunitas) mencari jaringan pasar dan para karang taruna disini mengkonsolidasikan para jaringan lokalnya. Dengan begitu semua begerak pada bidangnnya masing-masing.” Tutur Yuli Kusworo

Selain itu para aktor dari warga belajar membuat peta terutama peta wisatawan yang akan berkunjung ke Kotagede, mereka dapat bercerita tentang sejarah rumah mereka masing-masing yang sangat dengan nilai sejarah, serta memetakan sisa-sisa kuliner khas lokal serta tempat-tempat menarik di Kotagede.

Dalam kegiatan ini tentunya kita mengadakan workshop untuk membuat produk-produk baru dan desain yang tidak pasaran. Kegiatan ini juga untuk mengakomodasi pengetahuan desain para pengrajin yang hampir punah akibat tekanan pasar. Dengan ini juga kita mendatangkan ahli perak dari Inggris, dan kita meminta dokumentasi foto perak masa dahulu untuk membangkitkan kreatifitas para pengrajin. Setelah itu gairah pengrajin perak pun perlahan mulai bangkit, setelah pengorganisasian ini kita membuat festival yang tersebar di 24 titik dengan tema pameran dengan tema Jagalan yang juga berasal dari nama kampung mereka di Kotagede.

Maka jelas bahwa kemiskinan, kota dan kawasan cagar budaya merupakan permainan segelintir orang, kalau-kalau mereka tidak peka, maka mereka bisa tergilas dan termarginalkan oleh system ekonomi lokal tersebut. Karena memang kemiskinan tidak terjadi begitu saja, melainkan karena tidak dibuka aksesnya, bahwa kemiskinan bukanlah takdir, melainkan dapat dirubah melalui perbaikan system.

Cara yang kita lakukan melalui festival Jagalan adalah upaya perbaikan system yang telah mematikan kreatifitas pengrajin perak selama ini, yang secara mitologi bahwa keberadaan mereka hidup dahulu sangatlah sejahtera.

Kampung dan kawasan cagar budaya merupakan hal tak terpisahkan, bahwa keduanya merupakan kesatuan yang terintegrasi. Melalui peran masyarakat lokal itulah unsur kebudayaan dalam bangunan cagar budaya dapat terus berlangsung hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *