Sekolah di Kampung Akuarium..

Kamis, 13 September 2018 bertempat di Kampung Akuarium, Jl Pasar Ikan, Jakarta Utara, Rujak Center for Urban Studies bekerja sama dengan Kanki Lab, Kyoto University dan JRMK (Jaringan Rakyat Miskin Kota) mengadakan kegiatan “International Field School at Kampung Akuarium” ada pun topik yang diangkat pada kegiatan ini menyangkut temporarity (sementara) heritage (cagar budaya), commons (kebersamaan) dan landscape (pemandangan) merupakan sebuah gagasan tentang persoalan kehidupan kampung dikawasan cagar budaya. kegiatan ini dilakukan selama tujuh hari penuh terhitung mulai tanggal 10 sampai dengan 16 September 2018.

Melalui kegiatan ini para peserta melakukan observasi menyeluruh terhadap kawasan kampung Akuarium, juga kampung-kampug lain seperti kampung Lodan, Kampung Tongkol dan kampung Kerapu untuk mempelajari tata ruang, kemungkinan harapan masa depan, potensi mau pun masalah yang terjadi di kampung Akuarium.

Seluruh keluaran hasil observasi adalah narasi dan desain gambar kampung Akuarium hari ini, esok dan masa mendatang berdasarkan lintas disiplin ilmu pengeahuan. para peserta pada umumnya merupakan mahasiswa, termasuk mahasiswa Kyoto University dan warga kampung Akuarium.

Tidak hanya itu, kegiatan ini juga didukung oleh kuliah umum yang membicarakan tentang makna landscape, commons dan heritage dengan narasumber diantaranya, Elisa Sutanudjaja dari Rujak Center for Urban Studies, Profesor Kiyoko Kanki dari Kyoto University dan Yuli Kusworo dari ArKom (arsitek komunitas) Jogjakarta.
Pada dasarnya ada yang patut untuk dilihat dari perkembangan kota, terutama wiayah cagar budaya.

Menurut Elisa Suntanudjaja bahwa banyak terdapat kampung yang tanpa disadari berada pada kawasan cagar budaya, lebih lanjut menurut Elisa bahwa pengetahuan kota yang penting ini kerap tidak dimengerti oleh para pelaku birokrat pemerintah dalam proses pembangunan tata ruang kota. Di era demokratisasi hari ini telah mengajarkan kita bahwa kampung dibangun tidak serta-merta melalui hubungan transkasional, melainkan itikad hidup bersama (commons) sebagai pionir penting atas interaksi kehidupan di kampung sehari-hari.

lebih lanjut menurut Elisa dalam paparannya bahwa praktik sehari-hari yang dibangun melalui basis capital tentu akan melahirkan pola hidup yang transaksional, disini kampung menjadi anti tesis atas fenomena kehidupan capital, selain itu ruang demokrasipun sudah terjadi dalam kehidupan warga kampung kota hari ini, seperti adanya proses perencanaan bersama yang menjadi pondasi dalam membangun kampung.

Menurut Profesor Kiyoko bahwa kedepannya program atau kegiatan sekolah kampung ini dapat terus berjalan dan dapat memberi usulan dengan berbagai metode “sekolah lapangan,” namun setidaknya juga tidak sekedar usulan, melainkan usulan tersebut dapat dipertimbangkan untuk kampung Akuarium itu sendiri maupun kegiatan yang berkelanjutan. kegiatan sekolah di kampung Akuarium di Tutup dengan presentasi empat kelompok yang diakhiri dengan makan siang bersama pada Minggu 16 September 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *