Kurasi di Ambang Laut: Menulis Kota dari Tepian Air

Refleksi Kuratorial Pameran “Living at the Urban Seafront” di Goethe-Institut Jakarta
oleh Elisa Sutanudjaja.

Pada pertengahan 2024, saya menerima ajakan Goethe-Institut Jakarta untuk menjadi tim seleksi, kurator dan penyusun narasi kuratorial sebuah pameran foto lintas kota dan lintas negara. Pameran ini kemudian diberi judul Living at the Urban Seafront, sebuah frasa yang sederhana, namun menyimpan ketegangan antara hidup dan tenggelam, antara kota dan laut, antara infrastruktur dan manusia.

Saya tidak sendiri. Dalam proses ini, saya bekerja bersama dua kurator lain: Irene Barlian, fotografer yang dikenal atas karyanya mengenai komunitas terdampak krisis ekologis dan perubahan iklim, serta Sigit D. Pratama, desainer dan seniman kontemporer yang juga merancang keseluruhan desain ruang pamer. Goethe Haus, lokasi pameran ini, bukan ruang putih steril seperti galeri umumnya, tetapi ruang hidup dengan banyak batas visual dan spasial, lalu transparan, lengkung, solid, dalam-luar, dan ruang-ruang sisa. Ini menjadi tantangan (untungnya untuk Sigit, dan bukan saya) karena medium utama pameran adalah fotografi, yang menuntut kepekaan penempatan, skala, hingga narasi visual. Pemilihan foto, urutan, dan tata letaknya menjadi bagian integral dari cerita.

Tugas saya, sebagai penulis teks kuratorial dan narasi tiap dinding pameran, bukan hanya menjelaskan gambar, tetapi menjahitnya menjadi lanskap yang dapat dibaca dengan emosi dan pemikiran. Foto-foto yang kami pilih berasal dari Jakarta, Bekasi, Gresik, Makassar, hingga Bremen di Jerman. Mereka menampilkan kehidupan pesisir dalam segala ketimpangan dan keteguhannya: tanggul yang menjulang tanpa menjawab akar persoalan, rumah yang dibangun ulang setelah rob, pompa-pompa yang datang terlambat, hingga anak-anak yang bermain di tanah yang pelan-pelan hilang.

Yang menantang, sekaligus menguatkan, adalah bagaimana saya harus merangkai semua ini dengan menggunakan pengetahuan kumulatif yang Rujak dan saya bangun selama 15 tahun terakhir. Pengetahuan yang tidak lahir dari laporan teknokratik saja, tetapi dari kerja lapangan, diskusi dengan warga, pertukaran dengan akademisi, dan kerja-kerja bersama seniman dan aktivis. Dari Kampung Muara Angke hingga Akuarium, dari debat soal NCICD hingga upaya adaptasi berbasis komunitas, semua itu menjadi sumber untuk menuliskan satu pertanyaan besar: Apa artinya hidup bersama air, bukan hanya sebagai risiko, tetapi sebagai kondisi?

Di balik lanskap visual tersebut juga mengendap narasi maladaptasi: tanggul beton raksasa seperti proyek NCICD di Kampung Dadap justru menggusur warga atas nama perlindungan. Infrastruktur yang diklaim sebagai penyelamat iklim ternyata mengabaikan warga yang selama ini hidup berdampingan dengan air, dan justru memperbesar kerentanan baru. Dalam laporan IPCC AR6, proyek seperti ini dikategorikan sebagai bentuk adaptasi yang keliru, karena memperburuk kondisi sosial dan ekologis yang ada.

Di sisi lain dari kegagalan negara dan proyek teknokratik itu, pameran ini juga menampilkan kerja-kerja yang lebih sunyi namun vital: kerja tubuh, kerja perawatan, kerja yang setiap hari menjaga kota agar tidak tenggelam. Kita melihat Pasukan Biru, petugas kebersihan kanal di Jakarta, yang turun ke got, mengangkat lumpur dengan tangan kosong dan minim alat bantu dan perlindungan, serta memastikan air mengalir. Mereka adalah wajah nyata dari metabolisme kota yang tak terlihat. Seperti yang dikemukakan sosiolog AbdouMaliq Simone, “people as infrastructure.” Dalam konteks kota dengan sistem formal yang rapuh, adaptasi iklim tidak mungkin berlangsung tanpa pengakuan terhadap pengetahuan dan tenaga kerja yang menopangnya dari bawah.

Saya tidak ingin narasi pameran ini berujung pada kepasrahan, tetapi juga tidak ingin menjebaknya dalam retorika harapan palsu. Maka saya mencoba memilih bentuk narasi yang terbuka dan berlapis. Setiap dinding bukan sekadar urutan, melainkan percakapan antar-tema: tentang taktik warga di bantaran sungai; tentang hubungan timpang antara manusia dan infrastruktur; tentang tubuh-tubuh yang menjadi infrastruktur itu sendiri; dan tentang sinyal-sinyal kecil yang muncul di ujung pelabuhan, di antara mangrove sisa, atau di balik tanggul beton.

Dalam satu bagian, saya menulis tentang Kampung Susun Akuarium yang dibangun kembali setelah penggusuran. Ini bukan sebagai kisah sukses semata, tetapi sebagai bukti bahwa model hunian berbasis komunitas bisa menjadi kenyataan, dan itu terjadi karena perjuangan politik dan keberanian untuk membayangkan masa depan di tempat yang telah dicap sebagai “rawan banjir”. Di bagian lain, saya menulis tentang mercusuar di Pelabuhan Sunda Kelapa yang disebut warga sebagai “lampu lalu lintas laut”, dan saya cerminkan dengan mercusuar merah yang miring di Bremen, dan bahkan sudah hilang sekarang. Bagi orang Bremen, warna merah dan hijau pada mercusuar adalah biasa. Namun bagi orang Jakarta, belum tentu mereka bisa melihat kedua mercusuar di perairan Sunda Kelapa, karena letaknya di lepas panta. Kedua pasang itu menjadi semacam metafora diam tentang krisis dan kontinuitas, termasuk keterbengkalaian. 

Pameran ini bukan dokumentasi belaka, melainkan interpretasi; interpretasi visual para fotografer yang saya bingkai ulang dalam kata-kata, agar membentuk lanskap yang bercerita. Bukan tentang menyimpulkan, tapi tentang menahan kontradiksi. Dan dalam proses itu, saya kembali teringatkan bahwa kota yang kita huni bukan hanya hasil dari perencanaan atau investasi, tapi juga dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan manusia setiap hari: untuk tetap tinggal, untuk membangun ulang, atau untuk tidak menyerah.

Saya menikmati proses ini, dan menutup proses kreatif ini dengan menulis haiku pertama saya, terinspirasi dari kekuatan diam menghanyutkan sang Air:

Tanpa Gemuruh

laut perlahan

menyusup

seolah biasa

No Storm, yet the Sea

climbs gently into

the port

like it never left

Dalam banyak hal, Living at the Urban Seafront bisa menjadi bagian dari perayaan kecil atas 15 tahun perjalanan Rujak. Perayaan yang tidak berupa pesta, tetapi berupa ajakan untuk melihat kembali kota dari pinggirannya, secara harfiah maupun politis. Karena dari tepianlah, kita bisa membaca arah air, arah angin, dan arah perubahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *