Malang Melintang Infrastruktur Jakarta

Tidak semua kawasan dan jalan Jakarta beruntung seperti jalan Thamrin dan Sudirman: areal pejalan kaki yang nyaman kadang ditemani pohon rimbun, pemberhentian TransJakarta hanya selemparan batu, serta jembatan penyeberangan berkanopi. Bahkan pengendara sepeda pun bisa melenggang dengan bebas tanpa takut terserempet motor atau bis kota. Lampu penerangan jalan pun tercukupi, tanpa perlu khawatir melewati jalan tersebut pada tengah malam.

Tapi mari kita tengok daerah sejauh 10 kilometer dari Tugu Monas yaitu perempatan Daan Mogot, Cengkareng. Di daerah tersebut terjadi tambal sulam infrastruktur: ada yang baru, ada yang hilang. Terbaru adalah lintasan jalan tol lingkar luar tepat diatas perempatan sibuk Daan Mogot – Arteri Kapuk. Tak jauh dari situ, ada proyek penurapan Kali Mokervart sepanjang Jalan Daan Mogot yang sebentar lagi tuntas, dan diharapkan selesai sebelum musim penghujan.

Persimpangan Daan Mogot, Cengkareng

Kesemrawutan, apakah hal tersebut harus terjadi seiring dengan pembangunan? Tak hanya pada masa konstruksi, tak jarang setelah konstruksi pun kerap meninggalkan kesemrawutan. Seperti ketika deretan pohon di jalur pembatas MH Thamrin harus ditebang demi pelebaran jalan kontan mewariskan tutup-tutup saluran air yang tak rata dan banjir – dan akhirnya dibongkar lagi bulan ini.

Problematika infrastruktur Jakarta tak hanya berhenti pada masalah tambal sulam akibat proses renovasi dan pembangunan, tapi juga pada banyaknya elemen infrastruktur dan pelengkap yang harus ditampung, mulai dari lampu jalan, lampu lalu lintas, rambu lalu lintas, drainase, kabel listrik, telepon, gas, pejalan kaki, tempat sampah, panel listrik, jembatan penyeberangan hingga papan reklame dan masih banyak lagi. Tak jarang pula infrastruktur contohnya jalur pejalan kaki pun diinvasi oleh pedagang kaki lima, motor, tempat parkir hingga terminal bayangan. Infrastruktur jalan di Jakarta pun dituntut harus mampu melayani berbagai macam kepentingan, mulai dari TransJakarta, mobil pribadi, motor, angkutan umum hingga sepeda dan pejalan kaki.

Jakarta bagaikan sang artis kecanduan operasi plastik. Namun selama ini warga mungkin kerap melirik dan menuduh ketidakbecusan pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat dalam mengkoordinasi pekerjaan lapangan. Tapi jika dikembalikan kepada diri sendiri, maka carut marut dan cantiknya infrastruktur pun tergantung dari warganya, apakah mereka pun mau menjaganya? Apakah mereka rela tidak parkir di trotoar, apakah pengemudi motor rela tidak naik trotoar di kala macet, apakah pedagang kaki lima rela tidak berjualan di trotoar menutupi saluran air, apakah warga menahan diri untuk tidak membuang sampah di drainase, apakah pengguna mikrolet rela turun di halte resmi dan bukannya turun di sembarang tempat, apakah pemilik gedung tidak semena-mena membuat jalan pintu masuk keluar mobil seenaknya dan merusak trotoar, apakah rela tidak mengebor air tanah seenaknya. Dan jika pemerintah berupaya, warga rela dan berpartisipasi, niscaya infrastruktur Jakarta memiliki masa depan lebih cerah.

4 thoughts on “Malang Melintang Infrastruktur Jakarta

  1. adrian says:

    Kalau prasarana dibuat tapi tidak ada yang mengatur, ya percuma juga. Kita perlu:
    1) Mengajar orang menyetir yang benar; juga pejalan kaki yg suka ngalor-ngidur
    2) Menaikkan gaji polisi dan beri mereka insentif serta tanggung jawab sebagai pelaksana.
    Sebaiknya dua hal ini jalan dulu deh sebelum bangun yg lain-lain. Ini sasaran yg realistis. Kalau orang setuju besok juga bisa mulai. Tapi, mau tidak?

  2. supardi says:

    Masalah kesemrawutan infrastruktur Jakarta tidak terlepas dari disiplin kita semua, baik itu petugas beserta pejabatnya dan masyarakat pengguna, kesemrawutan Jakarta itu bertambah tatkala kita mulai menuju ke pinggiran Jakarta sebut saja mulai dari perempatan slipi menuju perempatan Tomang hingga perempatan Grogol di setiap perempatan ini ada terminal bayangan yang sudah pasti melibatkan pedagang K5, ojek, pengamen, pengemis dan petugas yang tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Dan bukan rahasia lagi kawasan jakarta yang sering dilalui pejabat akan lebih tertib daripada yang tidak. Oh Jakarta….

  3. deddy duke says:

    Jangan lupa..,bahwa kesemrawutan infrastruktur walau ditata dengan teknologi yg canggih pun belum dapat menjawab semua kesemrawutan.
    Kaum komuter yg setiap pagi dan sore berbondong bondong, sepertinya sudah tidak sabaran.Menerobos adalah yg terbaik..lalu diikuti oleh yg lainnya.Itu sudah jadi suatu sikap mental yg terbangun karena tidak adanya sikap ketegasan dari petugas lalin.Bantuan petgas dari Dephub..cuma bisa mengejar-ngejar mobl angkutan atau mobil boks. Shock terapi apalagi yg haru dilakukan???

  4. Tarun says:

    Tentu saja semua masalah tidak terhubungkan dengan kelalainan atau kekurangan efisiensi para pihak pemerintah. Tetapi pada saat yang sama, pemerintah sendiri itu punya kekuatan yang sangat jitu yaitu kekuatan propaganda. Dengan mengadakan program-program visual dengan rangka public service message, yang menunjukkan kekurangan disiplin kita semua serta dampak dampak negatif sosial dan ekonomi (dengan tambahan case study yang menunjukkan kisah kisah menyedihkan dan mengharukan) ataupun memburuknya keadaan kota secara umum, maka acara ini akan langsung berfokus untuk menyadarkan seluruh lapisan masyarakat untuk bertindak sehari hari dengan disiplin berbeda (tetapi pada saat sama menggunakan ide2 klasik seperti gotong royong dan tolong menolong dan juga save present for the future of our children). Dan acara ini tentu diikuti dengan solusi-solusi praktis dimana para pemerintah dapat menyediakan pusat pelayanan/bantuan untuk mengubah tindakan disiplin kita semua. Give the problem and the solution an emotional and breathtaking human touch and slowly and hopefully, we can change our disciplinary attitudes.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *