Daur-Ulang Sampah dengan Peran Aktif Warga di Nagoya

Warga berperan Aktif memilah dan membawa sampahnya ke tempat pengumpulan.
Warga berperan Aktif memilah dan membawa sampahnya ke tempat pengumpulan.

39 ton dari total 107 ton “sampah” kota Nagoya per hari didaur ulang. Ini pada tahun 2006. Pada tahun 1998, hanya 14 ton dari total 114 ton per hari yang didaur ulang.

Perubahan besar terjadi pada tahun 1999, ketika rencana kota mengubah hamparan lahan basah (wetland), yang menjadi tempat singgah burung berpindah, menjadi Tempat Pembuangan Akhir ditolak Kementerian Lingkungan Hidup Jepang. Maka terjadi krisis.

Tetapi, Kota Nagoya menjawab krisis dengan melirik kepada alternatif daur ulang yang telah dirintis suami isteri Hagiwara sejak tahun 1980, ketika Pak Hagiwara berusia 27 tahun, melalui Perkumpulan Gerakan Daur Ulang Chubu. Pada tahun 1980an, ekonomi Jepang sedang mencapai puncaknya dengan pasar baru non-Amerika terbuka. Konsumsi meningkat. Begitu juga sampah. Pak Hagiwara yang ketika itu sudah bekerja sebagai salary man tergugah, merasakan ada yang tidak beres. Ia keluar dari pekerjaannya, dan merintis Chubu. Seperti banyak orang Jepang ketika merintis banyak hal, mereka turun ke jalan dalam arti harafiah memperkenalkan kegiatannya.

Pada tahun 2008, Chubu mengelola sejumlah 3700 ton bahan daur-ulang. Ia mengurus 46 stasiun pengumpulan. Sekitar 5,000 keluarga datang dua minggu sekali ke tempat-tempat ini menyerahkan “sampah”nya. Umumnya sudah dipilah secara garis besar: kertas, botol, kaleng, tekstil, keramik, dan lain-lain. Para sukarelawan memilah lebih lanjut: berbagai macam botol dipilah menurut warnanya, juga botol yang dapat dikembalikan ke produser (misalnya coca-cola) dipisahkan tersendiri. Sistem ini bertumpu pada peran aktif warga. Bahan-bahan daur-ulang yang telah dipisah kemudian dijemput oleh para pembeli (pemilik pabrik daur ulang).

Chubu mengurus sekitar 26 prosen dari total 14,235 ton per tahun bahan daur ulang Kota Nagoya. Sisanya dikelola berbagai pihak lain dan pemerintah dengan mencontoh sistem dari sumi-isteri Hagiwara. Pada kasus sampah tekstil: 30 persen menjadi bahan pengisi bantal dan tempat duduk/sandaran, 30 prosen lain menjadi bahan pengepel, 30 prosen lain lagi dijual di pasar barang bekas, dan hanya 10 prosen yang harus dibuang.

Total sampah Kota Nagoya hampir stabil atau turun sedikit selama 30 tahun terakhir , dengan jumlah penduduk stabil dan jumlah keluarga meningkat (dengan rata-rata jumlah anggota per keluarga mengecil). Tetapi residu sampah yang benar-benar harus dibuang menurun drastis dari 100 ton/hari pada tahun 1998 menjadi hanya 68 ton per hari pada tahun 2006. Ini menunda krisis pembuangan sampah akhir setidaknya sampai beberapa tahun lagi sejak sekarang. Setelah itu? Sangat tergantung pada seberapa banyak total sampah yang dapat didaur-ulang, dan seberapa banyak sisa (residu) yang dapat dikurangi.

Pak Hagiwara adalah juga pemrakarsa Peta Hijau di Nagoya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *