Mengapa atap ini beda-beda warnanya?

Mengapa atap ini beda-beda warnanya? Cikini 10 Juni 2010

Blok “rumah-toko” di Jalan Cikini Raya ini dibangun bersamaan dengan pengembangan kawasan menteng sebagai hunian di awal abad ke-20. Pada tiap-tiap kavling, masing-masing unit yang di lantai atas dan yang di lantai bawah memiliki pintu masuk tersendiri. Jadi yang lantai bawah dapat menjadi toko dan yang di lantai atas dapat menjadi apartemen dengan akses terpisah.  Tangga menuju ke lantai atas langsung dapat dicapai dari kaki-lima (trotoir) tanpa harus melewati unit yang di lantai bawah.

Uniknya lagi, di belakang blok ini ada bangunan satu lantai yang dipisahkan oleh jalan-pelayanan dengan blok yang di depan ini. Tipologi seperti ini memungkinkan pemilik unit menjadikan lantai bawah sebagai toko, dengan di belakangnya ada unit lagi untuk gudang atau tempat tinggal pekerja. Bisa juga kepemilikan masing-masing unit ini (di lantai atas, bawah dan belakang) berbeda tanpa saling mengganggu.

Tipologi yang persis sama pernah saya lihat di Pekanbaru. Saya duga ada juga di Maliboro, Jogyakarta, kalau belum dibongkar, dan di kota-kota besar lain yang mengalami pengembangan di awal abad ke-20 di Hindia belanda (Indonesia sekarang).

Jalan Cikini sejak 5 tahun terakhir mengalami revitalisasi spontan, dengan tanda-tanda terutama terjadi pada blok yang menyambung dengan Kantor Pos Cikini (di ujung utara) ini. Rupa-rupanya tipologi ini terasa tepat untuk menampung fungsi-fungsi seperti restoran yang menginginkan suasana khusus yang tidak terlalu formal, akrab dan tidak terlalu mahal.

Atap merupakan unsur yang sering diganti ketika banguan direnovasi. Atap asli blok ini adalah sirap, kayu ulin/besi yang sudah langka. Maka terjadilah atap-atap baru yang berbeda-beda karena selain memang tidak ada aturan yang menharuskan atap yang sama, juga tidak mudah memperoleh atap sirap sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *