
1 tahun yang lalu, di halte depan Kementerian Perdagangan, satu keluarga 3 generasi bersama dengan orang-orang lain sedang berjalan menikmati hari Minggu selepas berjalan kaki di Car Free Day. Tiba-tiba ada mobil menyambar mereka dan menewaskan 9 orang, termasuk 1 keluarga tersebut.
Reaksi publik bermunculan keras. Menyoroti betapa buruknya kondisi trotoar di Jakarta.
Kontan muncul komitmen dari Gubernur saat itu Fauzi Bowo mengenai percontohan trotoar di daerah Gajah Mada, Hayam Wuruk dan Cikini. Termasuk diantaranya melarang parkir mobil sepanjang Gajah Mada dan Hayam Wuruk, pekerjaan fisik di trotoar Jalan Cikini.
Namun bagaimana selepas 1 tahun kejadian tersebut?
Laju motor-motor di atas trotoar mengancam pejalan kaki. Motor dan mobil tetap parkir di trotoar, bahkan menutup akses pejalan kaki. Tidak ada yang berubah, seakan kejadian tragis 22 Januari 2012 tersebut tak ubahnya seperti hari Minggu biasa.
Padahal 18 pejalan kaki tewas di trotoar setiap harinya. Perlu berapa banyak korban lagi supaya kita semua serius memperbaiki kondisi trotoar dan kenyamanan pejalan kaki?
