Merekam Kota Dalam Pandemi: Resiliensi, Harapan dan Kemungkinan

Pada 27 April-7 Mei 2020, Rujak Center for Urban Studies yang didukung oleh Antipode menyelenggarakan Sekolah Urbanis dalam rangka melahirkan urbanis baru untuk mendorong produksi pegetahuan bersama secara kolektif terkait permasalahan kota masa pandemi. Menjadi seorang urbanis berarti menjadi warga kota yang peka terhadap berbagai macam aspek yang menjadi faktor penentu keadaan kota. Terlebih pada masa pandemi covid-19 ini, tentu beragam problematika kota muncul dan penting untuk di ekspose.

Selama dua pekan para peserta “bersekolah” dengan para peneliti dan praktisi interdisiplin pengetahuan dan membuahkan pemikiran mereka kedalam sebuah narasi perkotaan di masa pandemi. Melalui proses yang panjang, karya kolaborasi Sekolah Urbanis 2020 telah rampung,  dengan tema “Merekam Kota Dalam Pandemi: Resiliensi, Harapan dan Kemungkinan”, setelah kerja panjang ini, segenap panitia tim sekolah urbanis dan juga para peserta  menyerahkan sepenuhnya karya ini kepada publik luas untuk sama-sama membincangkan nasib kota dan masa depan kota dalam bayang-bayang resiliensi, harapan dan kemungkinannya.

Ada 66 peserta yang terlibat dalam program Sekolah Urbanis 2020. Sebagian besar adalah mahasiswa (51%) baik dalam proses Pendidikan Strata 1 atau Strata 2, menempuh studi urban, arsitektur, geografi, antropologi, dan lain-lain. Latar belakang peserta lainnya adalah mereka yang bekerja di organisasi atau lembaga swadaya masyarakat (21%), kantor pemerintahan (9%) dan perusahaan swasta (5%). 

Dari keseluruhan peserta, 29 orang terlibat dalam penyusunan buku ini, yang terbagi atas sembilan tulisan kaya kolaboratif dan tiga karya individual. Rekaman atas pandemi disusun dalam linimasa peristiwa dan kebijakan di tingkat nasional dan daerah terkait pandemi, juga ragam kisah para pihak yang berada di garda terdepan penanganan COVID-19 seperti pemerintah, petugas kesehatan, pemimpin wilayah (RT), pelaku sektor informal, peneliti, akademisi, dan warga.

Tentunya Buku ini juga memuat refleksi peserta Sekolah Urbanis terhadap pandemi COVID-19, dan merangkum ide-ide peserta yang menghubungkan isu pandemi dengan kota. Ragam isu seperti hunian, mobilitas, sektor ekonomi informal, ketahanan pangan, dan lingkungan dibahas secara menyeluruh. Ide-ide dan proposal peserta terkait upaya membangun dan mengelola kota secara lebih baik menjadi intisari buku ini. 

Persoalan yang muncul terkait kualitas hunian, ketahan ekonomi, dan pangan menginspirasi peserta Sekolah Urbanis untuk menawarkan ide-ide alternatif yang mungkin bisa menjadi solusi. Antara lain, desain hunian dan material bangunan yang lebih adaptif, urban farming di kampung dan pinggiran kota, penataan kota yang lebih baik melalui system mobilisasi terpadu, konsep kota 15 menit, dan masih banyak lagi. Melalui Sekolah Urbanis, peserta diajak berhenti sejenak, menganalisis dan mensintesis apa yang terjadi di sekitarnya selama masa pandemi.

Buku ini dibagi menjadi empat tema besar. Pertama adalah Covid-19 di Indonesia. Tema ini membahas mengenai relasi kota dan pandemi, bahwa pandemi dan kerentanan atasnya merupakan fenomena yang tidak terpisah dari pola pembangunan kota. Tema ini juga membahas respon terhadap pandemi selama sebelas bulan terakhir. Pembahasan tema dimulai dengan linimasa Covid-19 di Indonesia yang dilengkapi analisis ekonomi politik dan profil aksi, yaitu mereka yang berada di garda terdepan penanganan Covid-19. 

Terlepas dari tujuan di atas, buku ini tidak bermaksud membahas semua aspek kota dan pandemi. Dengan keterbatasannya, buku ini diharapkan bisa menjadi penghantar bagi kita untuk melintasi portal, sebagaimana Arundhati Roy memaknai pandemi ini. Pandemi sebagai portal, di mana kita bisa memanfaatkannya untuk membayangkan dunia lain yang lebih baik. Akhir kata, kami berharap buku ini dapat menginspirasi kita semua untuk berhenti sejenak, melihat sekitar, berefleksi dan menganalisa apa yang mungkin untuk masa depan kota yang lebih baik. Selamat membaca.

DOWNLOAD BUKU Merekam Kota Dalam Pandemi :

klik disini 

Selamat Membaca!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *