Pentingnya Sinergitas Membangun Kemitraan Multipihak dalam Pelaksanaan Sustainable Development Goals (SDGs)

 

Penulis : Siti Nurdiyana. Mahasiswa Sosiologi. Universitas Indonesia

Sebagaimana kita ketahui, Sustainable Development Goals (SDGs) diimplementasikan untuk mencoba meraih keidealan kesejahteraan hidup baik dari segi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Salah satu aspek SDGs yang harus sama-sama diperhatikan, yaitu partnership. Maknanya, dalam implementasi SDGs membutuhkan kerja sama dan relasi dengan berbagai pihak atau yang selanjutnya biasa dikenal dengan sebutan kemitraan. Adapun kemitraan sendiri termasuk salah satu dari tujuh belas tujuan SDGs, yaitu tujuan ke tujuh belas yang berbunyi “menguatkan perangkat implementasi dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan”. Pentingnya kemitraan dalam sebuah pembangunan berkelanjutan menjadi landasan awal diskusi salah satu panel kelompok yang menarik dan dimoderatori oleh anggota International NGO for Indonesia Development (infid), Hamong Santono. Bersama dengan tiga narasumber dengan latar belakang berbeda, mengarahkan para peserta untuk mendapatkan pengetahuan yang beragam.

Kemitraan dari segi kepemerintahan dan kaitannya dengan peran organisasi masyarakat sipil, dibahas oleh Fahmi Hidayat, Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Bappeda Wonosobo. Dalam presentasinya, beliau memaparkan refleksi kemitraan sebuah program di Wonosobo, yaitu Program Pemulihan Dieng sekitar 2006 hingga 2013. Secara umum, deskripsi programnya adalah mengatasi masalah degradasi lingkungan di kawasan Dieng (dengan memerhatikan aspek lingkungan, sosial, dan kemanusiaan); melibatkan 6 Kabupaten dan Pemerintah Provinsi; menarik minat CSO dan NGO; partnership diobsesikan menjadi satu pihak; awalnya berniat untuk mengadakan program yang multistakeholders collaborative planning/actions. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya memang masih ditemukan berbagai kekurangan, seperti keraguan (dari pihak organisasi masyarakat sipil) akan program yang bersifat multistakeholder collaborative planning. Artinya, masih banyak pihak yang meragukan keberhasilan dari program yang bersifat demikian.

Kemudian ada kemitraan yang menyoroti partisipasi masyarakat dalam perwujudan pelaksanaan SDGs. Materi ini disampaikan oleh pembicara kedua, yaitu Eko sebagai perwakilan Kabupaten Kulon Progo. Pada awal penyampaiannya, dipaparkan gambaran umum Kulon Progo bahawa sebenarnya banyak potensi yang ada pada masyarakat lokal. Sesuai dengan salah satu poin dari visi Kulon Progo sendiri, yaitu untuk mewujudkan Kabupaten Kulon Progo yang mandiri. Inovasi solusi yang digagas dan sudah dikembangkan adalah melalui sebuah slogan “bela beli Kulon Progo” dimana tujuannya adalah membela produk lokal, dimana proses pembuatan produknya dikerjakan oleh masyarakat lokal Kulon Progo itu sendiri. Hasil-hasil produk ini berupa batik, air mineral, atau beras. Adapun kemitraan yang dibangun melalui program pengembangan produk lokal ini, antara lain Koperasi, UMKM, PDAM. Dengan adanya kegiatan inovatif ini, maka mendukung pula keberlangsungan perwujudan pelaksanaan SDGs yang ingin dicapai dengan mengaitkannya dengan pengentasan kemiskinan melalui peningkatan ekonomi.

Hubungan, pola, dan tipe kemitraan sebuah organisasi atau kelompok dalam membangun mitra dengan kelompok lain tidak hanya secara praktikal disampaikan dalam diskusi parallel/panel 3 ini. Hal ini dikaji secara teoritis melalui riset yang dilakukan oleh Company-Community Partnerships for Health Indonesia (CCPHI) dan dalam diskusi ini disampaikan oleh Dian Rosdiana (Direktur Eksekutif CCPHI). Riset tentang kemitraan yang dilakukan oleh CCPHI. Hasil riset menunjukkan berbagai ‘bisnis’ atau program-program baik itu antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, maupun Corporate Social Responsibility itu diperlukan adanya kemitraan. Apabila mengacu pada tujuan-tujuan SDGs, maka yang paling bersinggungan dalam kegiatan kemitraan adalah pada aspek “people” dan “planet”. Artinya,  masalah kehidupan sosial eknomi manusia, dan peningkatan kualitas lingkungan menjadi isu yang penting dalam pelaksanaan kemitraan.

Apabila ditelaah dari ketiga pembicara diskusi parallel/panel 3, kemitraan memang sangat diperlukan untuk mewujudkan tujuan-tujuan SDGs. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa ketika dilakukan kemitraan, harus ada kesamaan nilai yang terinternalisasi bagi semua stakeholder (Hidayat, 2018). Kesamaan nilai inipun juga tidak serta merta hanya dilakukan oleh kelompok atau organisasi yang melakukan kemitraan saja. Mengacu pada penjelasan Hidayat (2018), diperlukan pula adanya kesadaran dari masyarakat lokal suatu daerah itu sendiri untuk dapat berpartisipasi dan mampu mengembangkan program yang inovatif dan benar-benar mencerminkan apa yang disebut sebagai multistakeholder collaboration planning/action. Salah satunya, mungkin yang digambarkan oleh pembicara kedua terkait pengembangan pemberdayaan masyarakat lokal untuk tujuan kesejahteraan melalui peningkatan ekonomi dan kemandirian masyarakat. Berkaitan dengan hal itu, dalam penelitian-penelitian sebelumnya pun juga menyatakan hal yang sama, misalnya Badri (2009) dan Sunaryo (2013) menyebutkan bahwa pengembangan komunitas secara berkelanjutan membuat masyarakat perkotaan menjadi mandiri sehingga akan terjadi peningkatan secara ekonomi. Dengan penggambaran seperti itu, kita bisa melihat bahwa ada sinergitas antara masyarakat yang diberdayakan melalui program-program inovatif, misalnya peningkatan ekonomi dibantu oleh pihak mitra (seperti UMKM atau koperasi) untuk pengelolaan ekonomi warga, dan juga pemerintah dalam hal regulasi atau kebijakan.

Suasana ruang diskusi pararel 3

 

Referensi:

Badri. (2009). Peran PR dalam Membangun Citra Perusahaan Melalui Program CSR. Retrieved September 25, 2018, from http://ruangdosen. wordpress.com /2009/01/15/peran-pr-dalam-membangun-citra-perusahaan-melalui-program-csr/

Hidayat, Fahmi. (2018). Perda Kemitraan Daerah sebagai Upaya Penanggulangan Kemiskinan Dipresentasikan dalam Diskusi Panel Seminar Nasional SDGs. Jakarta. 20 September

Rosdiana, Dian. (2018). Kemitraan dan SDGs (Pembelajaran dari Studi Kasus Forum Kemitraan CCPHI. Dipresentasikan dalam Diskusi Panel Seminar Nasional SDGs. Jakarta. 20 September

Sunaryo. (2013). Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Perspektif Pembangunan Berkelanjutan. Jurnal Ilmu Hukum, Vol.7, No.1, hal. 264-276

Wardoyo, Hasto. Praktek Sederhana Pemberdayaan Masyarakat dan Membangun Kemitraan menuju Kesejahteraan Berbasis Ekonomi Kerakyatan, EKonomi Kreatif. Dipresentasikan dalam Diskusi Panel Seminar Nasional SDGs. Jakarta. 20 September

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *