Pidato Mohammad Hatta Pada Kongres Perumahan Rakyat Kedua di Jakarta, 4 Agustus 1952

YANG PERLU BAGI KITA SEKARANG INI!

Apabila kita memandang sejenak ke belakang, ke mana yang lampau, dan mengenang cita-cita lama yang senantiasa kita kemukakan dalam pergerakan nasional, maka tergambarlah di muka kita, bahwa cita-cita yang dahulu itu sebagian besar masih tetap jadi cita-cita sekarang.

Indonesia Merdeka dan berdaulat yang menjadi pokok tujuan pergerakan kebangsaan telah kita capai dan kita miliki. Memang, kita masih menghadapi masalah Irian, yang pemecahannya akan tetap menjadi usaha Pemerintah Republik Indonesia di masa datang sampai pulau sengketa itu kembali ke dalam pangkuan Ibu Pertiwi. Tetapi, masalah Irian adalah soal yang mengenai luasnya tanah air kita, dan tidak mengurangi sifat dan derajat kemerdekaan dan kedaulatan negara kita. Kita adalah bangsa yang merdeka dan berdaulat penuh!

Akan tetapi, sebagaimana saya kemukakan berkali-kali, tujuan kita bukanlah semata-mata Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Sejak dari masa pergerakan nasional dahulu kita berkata, bahwa Indonesia Merdeka bagi kita hanya syarat untuk mencapai Indonesia yang adil dan Indonesia yang makmur. Kita katakan “syarat”, oleh karena cita-cita itu hanya dapat diselenggarakan oleh bangsa yang mempunyai kedaulatan penuh atas tanah airnya, kuasa dan sanggup melaksanakan apa yang dipandangnya baik untuk hidupnya.

Setelah kita menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat, maka syarat yang kita kemukakan dahulu itu telah tercapai. Sekarang kewajiban kita ialah memberi isi kepada kemerdekaan itu. Isinya tak lain daripada cita-cita kita dahulu, yaitu Indonesia yang adil dan Indonesia yang makmur. Semuanya itu tidak terjadi dengan sendirinya sebagai pembawaan daripada emerdekaan, maunya diusahakan dengan segala usaha dan kemauan yang ada pada kita sebagai bangsa.

Keadilan dan kemakmuran juga tidak lahir dengan semboyan yang berapi-api, dengan agitasi yang memecah angkasa, melainkan hanya timbul sebagai buah kerja sendiri, kerja kita sebagai bangsa.

Kemudian, keadilan dan kemakmuran juga tidak terlaksana dengan menuntut saja kepada Pemerintah, karena Pemerintah tidak mempunyai guci wasiat yang menyimpan segala hal yang dikehendaki oleh rakyat. Kesanggupan Pemerintah untuk menyelenggarakan cita-cita kita semuanya sangat terbatas, dibatasi oleh alat-alat dan perbelanjaan negara yang ada pada kita. Akhirnya, segala beaya yang diperlukan untuk memenuhi kehendak-kehendak dan cita-cita kita dipikulkan kepada rakyat, dengan cara langsung atau tidak langsung, yang dibebankan kepada masa sekarang dan masa datang.

Memang, kewajiban rakyatlah untuk mengingatkan selalu kepada Pemerintah akan cita-cita kita, mengawasi Pemerintah dalam segala tindaknannya untuk melaksanakan cita-cita itu, agar supaya Pemerintah jangan teledor dan menyelenggarakan tugasnya. Akan tetapi janganlah segala kewajiban dan tanggung-jawab dipikulkan kepada Pemerintah saja. Tiap-tiap anak Indonesia harus ikut serta bertanggung-jawab tentang melaksanakan cita-cita nasional kita. Latihan hidupnya mestilah hendaknya menginsafi senantiasa tanggung-jawab kita itu terhadap keselamatan nusa dan bangsa. Janganlah hidup dengan “menuntut” saja, tetapi hiduplah dengan menunaikan tugas, yang berharga.  Pemerintah tidak akan mampu menyelenggarakan tugas yang begitu berat, apabila tidak dibantu oleh rakyat seluruhnya dengan sehebat-hebatnya. Dibantu dengan buah pikiran dan dengan usaha dan dengan perbuatan yang patut dicontoh. Kritik atas Pemerintah perlu dan harus, tetapi yang lebih perlu ialah kritik pada diri sendiri.

Tanyailah diri kita, setiap waktu, dengan pertanyaan sebagai yang diucapkan Walther Rathenau, seorang ekonom-filosof Jerman yang kesohor itu yang meninggal sebagai korban cita-cita nasionalnya, pertanyaan yang tertulis di dalam bukunya Wirtschaft und Gessellschaft (p. 307):

“Haben wir die Kraft, ein eigenes Haus zu bauen?”

Adakah kita mempunya tenaga yang bersemangat untuk membangunkan rumah sendiri? Rumah Indonesia merdeka, berdaulat, adil dan makmur?

Indonesia yang adil menurut cita-cita kita ialah Indonesia yang pemerintahannya dari atas sampai ke bawah, pada pusat dan pada daerah, berdasarkan kepada “perintah dari yang diperintah”. Rakyat menerima perintah yang harus dijalankannya, akan tetapi sumber perintah itu datang dari rakyat sendiri. Pendek kata, Indonesia yang berdasarkan kedaulatan rakyat, yang dijalankan dengan rasa tanggung-jawab. Negeri adil, sebab tiap-tiap orang merasai aman hidupnya, bebas dari rasa takut dan kesengsaraan hidup; apabila tiap-tiap orang dapat merasai adanya keadilan sosial dalam masyarakat Indonesia.

Ini bukanlah cita-cita yang dapat dilaksanakan dalam setahun dua tahun. Untuk terlaksananya, berangsur-angsur, ia menghendaki waktu, guna mengasuh rasa tanggung-jawab pada rakyat dan pada Pemerintah beserta dengan alat-alatnya. Iapun menghendaki alat-materi, yang belum lengkap atau jauh daripada lengkap pada kita.

Indonesia yang makmur menurut cita-cita kita ialah saat dalam hidup bangsa kita, di mana tiap-tiap orang dalam masyarakat Indonesia mulai merasakan kemakmuran, dalam arti jasmani maupun rohani. Saat di mana tiap-tiap orang merasai hidup yang bercahaya, merasai hasil dari pada pekerjaannya sendiri dan buah kekayaan alam tanah airnya.

Kemakmuran yang sebesar-besarnya tidak akan pernah tercapai, sebab kemakmuran adalah perasaan seimbang antara kehendak dan alat pemuaskannya. Setiap kali kemakmuran bertambah, semangkin besar terasa kekurangan yang kita ingin memperolehnya. Tetapi rasa kekurangan kemakmuran yang tak berkeputusan itu ada baiknya, karena itulah yang menjadi cambuk bagi kita untuk mencapai yang lebih tinggi.

Celakalah bangsa, yang massanya, yang rakyatnya yang terbanyak dihinggapi oleh rasa menyerah kepada nasib, yang filsafat hidupnya dikuasai oleh perasaaan “apa boleh buat”. Dan inilah nikmat yang diperoleh dengan Revolusi Nasional, bahwa perasaan menyerah kepada nasib itu semangkin kurang, bahwa rakyat kita mulai menjadi rakyat yang bercita-cita, ingin menjadi rakyat yang makmur. Cita-cita kemakmuran yang mulai hidup dalam kalangan rakyat jelata harus senantiasa kita hidupkan, kita kuatkan.

Kita gambarkan kepada rakyat kita kemungkinan-kemungkinan yang dapat dicapai daripada alam kita yang begitu subur dan kaya, asal kita mau mengerjakannya, asal kita dapat memiliki kepandaian dan pengetahuan untuk melaksanakan usahanya. Gambarkan semuanya itu kepada rakyat kita dengan menghidupkan serentak rasa tanggung-jawabnya dan memperkuat kepercayaannya pada diri sendiri. Akan tetapi janganlah rakyat kita dididik menjadi tukang minta-minta, yang hidup dari pemberian orang. Hidupkan kembali semangat self-help dalam membangun dan mengokohkan perumahan nasional.

Saya sering-sering menganjurkan kepada rakyat ramai bahwa kita harus mempunyai cita-cita yang tinggi, akan tetapi jangan lupa daratan tempat kita setiap waktu berpijak. Gantungkan cita-citamu pada langit yang tinggi, akan tetapi jangan lupa realitet, keadaan yang nyata. Dengan mempergnakan cita-cita itu sebagai pedoman, hadapilah realitet itu sebagaimana kita dapati dan usahakanlah merobahnya berangsur-angsur dengan segiat-giatnya, agar supaya segala perobahan yang dicapai berturut-turut itu mendekatkan kita senantiasa kepada apa yang kita ciptakan.

Ciptakanlah tingkat kemakmuran bagi bangsa kita yang cukup tinggi dan besar, tetapi mungkin pula dicapai. Saya tidak akan memimpikan sorga di atas dunia apabila saya katakan, bahwa kita harus mencapai suatu waktu tingkat kemakmuran bangsa begitu rupa, sehingga tiap-tiap orang, tani di puncak bukit dan nelayan di ujung pulau sekalipun, mempunyai lampu listerik di rumahnya. Jika tidak setiap orang mempunyai radio di rumahnya, sekurang-kurangnya tiap-tiap desa mempunyai radio umum, yang dapat merombak rasa sunyi dan terpencil, dan memperhubungkan desa-desa itu dengan pusat-pusat pemerintahan dalam negeri dan dengan centra kebudayaan seluruh dunia.

Apabila bangsa asing dapat mencapainya, apa sebab kita tidak? Dengan keadaan alam kita yang begitu kaya, dikarunia Tuhan dengan logam dan bahan berbagai rupa, dengan sumber tenaga yang begitu banyak, dan dengan kemajuan teknik yang semangkin sempurna di dunia ini, pasti kita dapat menyelenggarakannya. Memang, cita-cita itu tidak ajab tercapai dalam 10 atau dua puluh tahun. Tetapi dalam 40 tahun atau setengah abad pasti dapat dicapai, apabila kita sungguh-sungguh mau dan berusaha dengan penuh kepercayaan.

Jangan hendaknya ada orang yang berkata “mustahil”, terpengaruh oleh keadaan yang dihadapinya sekarang. Lima belas tahun dahulu juga rata-rata orang mengira dalam hatinya, mustahil kita akan merdeka. Pada waktu itu Belanda demikian kuatnya dan kita demikian lemahnya. Menganjurkan “Indonesia Merdeka” saja berarti masuk bui, dikirim ke pembuangan di pulau-pulau yang jauh dan sunyi.

Tetapi sekarang! Sekarang kita telah merdeka dan berdaulat. Apa yang kiranya mustahil dahulu itu, sekarang sudah menjadi kenyataan. Kita bukan saja sudah merdeka dan berdaulat, akan tetapi juga menjadi anggota daripada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Malahan lebih dahulu kita diterima menjadi anggota daripada negara-negara yang dahulu dipandang besar, seperti Jerman, Italia dan Jepang, yang sampai sekarang belum dapat masuk.

Sebab itu, tak ada yang mustahil, apabila kita mau mengamalkan dan mengerjakan sungguh-sungguh.

Kecuali daripada menciptakan kemakmuran yang setinggi-tingginya yang mungkin dicapai dalam lingkungan alam kita yang begini kaya, rakyat kita sudah mulai merasa hidup makmur, apabila telah dipenuhi syarat hidup yang terutama bagi tiap-tiap manusia, yaitu:

  1. Cukup makanan
  2. Cukup pakaian
  3. Baik perumahan
  4. Terpelihara kesehatan

Rakyat kita telah merasa beruntung, apabila ia telah mendapatkan kepuasan dalam hal empat itu dapat kita selenggarakan.

Kita semuanya tahu, bahwa belum ada satu di antara keperluan yang terpenting yang empat itu dapat kita penuhi sekarang.

Rakyat kita masih kekurangan makanan. Tidak saja karena pembagian yang tidak sempurna, melainkan juga karena tanah air kita yang begini luas dan subur belum dapat menghasilkan makanan rakyat secukup-cukupnya. Akan tetapi kita yakin dan percaya, bahwa di masa yang akan datang yang tidak terlalu jauh kita akan mencapai self-supporting, malahan mungkin kelebihan beras yang dapat kita pertukarkan dengan barang industri kepada bangsa asing.

Demikian juga keadaan pakaian rakyat. Sebagian besar daripada rakyat kita, istimewa yang jauh dipedalaman, malahan juga dikota-kota besar di bawah pelupuk mata kita sendiri, masih menderita kekurangan pakaian. Memang, selembar kain untuk penutup(i) badan, saban orang punya. Tetapi bukan tingkat kemiskinan ini yang menjadi patokan kita. Ciptaan (cita-cita?) kita ialah supaya tiap-tiap orang cukup pakaiannya. Tidak saja cukup untuk dipergantikan memakainya guna menjaga kebersihan, tetapi juga supaya tiap-tiap orang mempunyai pula persediaan pakaian yang perlu dipakai pada waktu selamatan dan hari-hari raya lainnya. Juga dalam hal pembuatan bahan pakaian yang diperlukan rakyat, lambat-laun kita harus self-supporting. Barang yang halus-halus boleh dipesan dari luar negeri, ditukari dengan hasil negeri sendiri, akan tetapi bahan pakaian rakyat sehari-hari harus dapat kita hasilkan sendiri.

Tentang perumahan rakyat, kita menunjukkan ketinggalan yang terbesar. Sering-sering saya berkata, sebagian besar daripada rumah-rumah rakyat lebih menyerupai kandang sapi daripada tempat kediaman manusia. Perumahan yang semacam itu tidak layak bagi suatu bangsa yang merdeka dan tahu (harga?) diri. Keadaan yang primitif itu sebagian disebabkan oleh kemiskinan dan sebagian oleh tradisi, kebiasaan, dan pandangan hidup bangsa kita. Orang sudah senang, kalau mempunyai pondok tempat berlindung pada malam hari dan pada waktu hujan. Tertekan oleh hidup yang berabad-abad orang belum melihat rumah itu sebagai tempat kesenangan hidup dan tempat memelihara kesehatan. Kalau ada rumah, jendelanya kurang atau tak ada sama sekali, sehingga di dalamnya gelap, menjadi tempat yang nyaman bagi berbagai kuman penyakit untuk menerkam mangsanya. Tidak begitu salah, apabila kukatakan bahwa sebagian besar dari rumah rakyat jelata adalah sarang penyakit. Tidak mengherankan, apabila begitu banyak rakyat kita yang sakit tuberculose.

Dalam masalah rumah rakyat itu, kita tidak saja berhadapan dengan soal kekurangan rumah, akan tetapi juga dengan soal pembaruan rumah rakyat sama sekali. Masalah ini mengenai jiwa dan pandangan hidup rakyat yang harus diubah. Barulah cita-cita baru tentang rumah rakyat yang murah dan sehat itu dapat dipahamkan oleh rakyat. Pemerintah mempunyai kewajiban yang besar sekali dalam hal ini. Akan tetapi rakyat dan gerakan rakyat juga.

Hati kita luka melihat begitu banyak rumah terbakar di masa yang akhir ini. Akan tetapi, jika kita menekan sedih kita sementara dan menyangkutkan pada peristiwa yang sedih itu suatu renungan filsafat, maka tampaklah pula melintas di situ suatu cuaca yang terang. Apakah ini bukan rahmat Tuhan kepada manusia yang lalai, yang bertahan kepada yang buruk, supaya di atas pembakaran gubuk-gubuk itu terdiri kemudian kampung yang teratur, dengan rumah-rumah yang layak didiami oleh manusia yang adab dan tahu harga diri? Kadang-kadang terpikir oleh kita, pindahkan rakyat dari kampung-kampung yang busuk di kota-kota besar itu ke tempat yang disiapkan sementara. Dan bakari kampung-kampung yang menghina kemanusiaan itu, supaya habis serentak dengan itu kuman-kuman penyakitnya dan semangat primitifnya. Di atas itu dibangunkan kembali, dengan jalan gotong royong, kampung rakyat dan rumah rakyat yang layak didiami oleh bangsa yang merdeka, adab dan kenal harga diri sendiri.

Demikian kesan saya tentang keadaan perumahan rakyat. Keadaan yang sangat menyedihkan, yang harus kita ubah secepat-cepatnya ke jurusan perbaikan. Bukan suatu pekerjaan yang mudah, karena mengenai berjuta-juta rumah, yang harus dibarui, dan diadakan baru untuk mengatasi kekurangan rumah dan untuk penampung tambahan jiwa yang berjumlah kira-kira satu juta setahun. Di sini terdapatlah suatu obyek yang terpenting untuk dijadikan isi daripada pemerintah otonomi daerah!

Demikian juga terhadap kesehatan rakyat. Ketinggalan dalam memelihara kesehatan rakat tidak kurang dari ketinggalan yang kita lihat pada perumahan rakyat. Di sini kita dapati segala kurang: kurang dokter, kurang rumah sakit, kurang juru rawat, kurang obat. Ya, kurang segala yang diperlukan. Hebat usaha yang dikehendaki untuk mengatasi semuanya ini. Seluruh lapisan rakyat ikut serta hendaknya memikirkan. Saya kira beberapa rumah sakit dan poliklinik dapat dibangunkan secara gotong royong.

Saudara Ketua, hadirin yang terhormat! Apabila saudara perhatikan apa yang saya katakan tadi, mengertilah saudara apa sebab besar sekali hati saya menyambut Kongres Perumahan Rakyat yang kedua ini. Saya berharap mudah-mudahan Kongres yang kedua ini membawa hasil yang lebih besar daripada Kongres yang pertama di Bandung, dua tahun yang lalu.

Apabila Kongres yang pertama menimbulkan kegiatan, yang titikberatnya terletak pada keinsyafan akan pentingnya membangun perumahan rakyat yang sehat, pada rencana tentang bentuknya dan anjuran tentang membangunkan badan-badan yang membelanjai sebagai “bouwspaarkas”, bank hipotik dan lain-lainnya, akibat daripada Kongres kedua ini hendaklah kelihatan pada realisasi dari segala pembangunan yang diperlukan itu secara sistematis.

Seperti saya katakan tadi, titik berat daripada usaha membangun rumah rakyat yang murah dan sehat itu hendaklah terletak di daerah, sebagai isi yang terpenting daripada pemerintahan otonomi. Membangun rumah rakyat yang menjamin kesehatan, dan kesenangan diam di dalamnya dan murah harganya, itulah masalah yang harus dipecahkan.

Rumah rakyat hendaklah terbuat dari bahan dan material yang dihasilkan oleh bumi Indonesia. Lambat-laun hendaklah segala bahan yang perlu untuk membuat rumah diperbuat di sini. Jika dipikirkan betapa pentingnya membuat segala bahan itu sendiri, karena dengan itu ongkos rumah akan bertambah murah, maka kita heran apa sebab Kementerian Perekonomian sampai sekarang belum juga menyelenggarakan pembelian paberik semen, yang rencananya telah diterima oleh Pemerintah RIS dahulu dan telah dimasukkan dan diterima pula sebagai obyek yang bakal dibelanjai dengan pinjaman Exim-bank. Keperluan kita akan semen sedemikian banyaknya, sehingga kapital yang dibayarkandalam dua tahun ini untuk mengimpor semen sudah sebanyak atau hampir sebanyak harga satu paberik semen. Berapa banyak rugi kita, kalau keadaan terus-menerus semacam ini?

Pembangunan rumah rakyat, yang murah dan sehat akan mendorong kegiatan produksi yang bersangkut-paut dan mungkin pula memperbesar rasionalisasi dan efisiensi pada perusahaan yang telah ada. Yang terang sekali terseret ke dalam aktifitas ialah perusahaan membuat genteng, batubata, papan dan tonggak, kapur, oendek kata membuat segala bahan yang diperlukan sampai kepada tanaman bambu dan lain-lain. Dan apabila semuanya itu dikerjakan menurut rencana, maka untuk memurahkan ongkos rumah dapat pula dihidupkan perusahaan-perusahaan tukang kayu, yang membuat tiang dan pintu dan jendela sekali banyak menurut ukuran yang tertentu. Dasar normalisasi dapat dimasukkan ke dalam perusahaan.

Soal yang penting pula, yang bersangkutan rapat dengan masalah ini ialah, betapa merasionalkan usaha jabatan kehutanan negara, agar rakyat dapat membeli kayu dengan harga yang murah.

Inilah berbagai soal yang terlintas di muka saya tatkala saya diminta memberikan amanat pada Kongres Perumahan Rakyat yang kedua ini.

Sebab itu saya doakan, moga-moga Kongres ini berhasil dengan baik, dapat mendorong cita-cita pembangunan Rumah Rakyat ini ke jurusan realisasinya yang praktis dan teratur. Karena, realisasi, sekarang yang berguna, bukan lagi cita-cita saja. Mudah-mudahan keinginan membuat rumah sendiri dengan jalan menyimpan dan berkoperasi mendapat dorongan pula dari sini. Mudah-mudahan, berkat Kongres yang kedua ini, timbullah kegiatan di kalangan rakyat sendiri yang memberi jawaban yang positif, dengan perbuatan, atas pertanyaan Rathenau yang saya sebutkan tadi: “Haben wir die Kraft ein eigenes Haus zu bauen?”

Negara di bawah pimpinan Pemerintah membangun perumahan nasional Indonesia, sampai tercapai keadilan dan kemakmuran.

Rakyat, didorong oleh semangat auto-aktivitet dan gotong royong, berusaha sedapat-dapatnya membuat rumah sendiri, yang memberikan kesenangan hidup padanya.

Demikianlah hendaknya!

Merdeka!

Sumber: Winayanti (2010), yang mengutip dari Hatta, Mohammad, Kumpulan Karangan III. Jakarta, Penerbitan dan Balai Buku Indonesia: 1954.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *