Plewo Doi

Noesa bersama sanggar seni Watubo dan Na’ni House menyelenggarakan acara bertajuk Plewo Doi pada 2-13 Mei 2015 yang lalu. Noesa adalah sebuah studio yang aktif dalam kegiatan pelestarian seni dan budaya Indonesia yang turut berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan. Kegiatan ini terlaksana antara lain berkat dukungan Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan yang diselenggarakan oleh Rujak Center for Urban Studies.

Plewo Doi berasal dari bahasa Sikka yang memiliki arti memperkenalkan diri. Pada acara Plewo Doi ini Noesa memperkenalkan kesenian tenun ikat Sikka dan pewarnaan alam kepada masyarakat. Noesa merangkul 22 pengrajin dari Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur yang akan menampilkan hasil karyanya dan juga berbagi pengetahuan tentang tenun ikat Sikka dan pewarnaan alam.

Plewo Doi diselenggarakan beragam bentuk workshop di Museum Tekstil Jakarta. Di antaranya adalah workshop pintal, workshop ikat, worskhop tenun dan workshop warna. Setiap workshop tersebut diisi oleh para pemegang tradisi, yaitu pengrajin – pengrajin dari Maumere. Selanjutnya pada 22-24 Mei 2015, pameran kain dan pagelaran tarian dan musik Plewo Doi diadakan di Dia.lo.gue Artspace.

PlewoDoi-Mardi Gregorius Doko_9717
Di hari kedua, sebelum talkshow dimulai, Watubo menampikan tarian tradisional
PlewoDoi-Mardi Gregorius Doko_9779
Daniel David, selaku narasumber pada diskusi tentang motif bersejarah di Maumere

Pembukaan pameran dilaksanakan pada Jumat, 22 Mei 2015 pukul 19.30 dengan diiringi oleh pergelaran musik dan tarian oleh Sanggar Seni Watubo. Selain pameran kain bersejarah, Noesa juga menampilkan beberapa instalasi yang menceritakan tentang proses pewarnaan alam dan perempuan di balik selembar kain. Dalam acara ini ditampilkan demonstrasi pembuatan kain tenun dan bazaar. Pada hari Sabtu 23 Mei 2015 kembali diadakan workshop warna alam dengan teknik Tie-dye. Dan pada hari Minggu diadakan bincang-bincang dengan Daniel David dari Nani House yang membahas cerita dan sejarah di balik simbol maupun motif pada kain Sikka.

PlewoDoi-Mardi Gregorius Doko_9671
Mama Virginsia yang mendemonstrasikan proses tenun

 

PlewoDoi-Mardi Gregorius Doko_9121
Venue Bazaar di Dialogue, tenant yang mengikuti bazaar Plewodoi: Fika Julia, Osem Store, Praiyawang, Warlami, Noesa, Made, watubo
PlewoDoi-Mardi Gregorius Doko_9071
Wokshop Plewo Doi, mencelupkan kain kedalam pewarna alam

Dengan diadakannya Plewo Doi beserta rangkaian acaranya, Noesa berharap kegiatan ini dapat memperkenalkan, mengajarkan, dan memberikan kesempatan kepada semua lapisan masyarakat untuk turut mengapresiasi usaha pelestarian budaya lokal, khususnya pembuatan tenun ikat dan pewarnaan alam sebagai salah satu kekayaan warisan budaya Indonesia. Selain itu juga memberikan wadah bagi para pemerhati dan pencinta seni dan budayawan untuk berkumpul dan secara aktif memberikan dukungan bagi usaha pelestarian seni dan budaya lokal di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *