Ruang Tengah di Jakarta

Ragam kegiatan Rujak di Cikini 37B

Dalam bincang-bincang Seni & Pusaka di GoetheHaus 9 Agustus 2017 silam, Afrizal Malna mengemukakan pentingnya kehadiran ruang tengah atau ruang antara di masa kini. Dengan kondisi kota Jakarta yang makin tersegregasi, tak hanya pada masyarakat dan ruangnya, kesenian harus membangun ruang antara sambil terus melakukan distribusi pengetahuan. Ruang antara atau ruang tengah tersebut memungkinkan terjadinya pertukaran ide, pertemuan muka dan diskusi, yang memungkinkan dan mengajak pengguna ruang untuk berpikir kritis dan mempertanyakan kebenaran tunggal.

Dalam acara terpisah lain, yaitu Seminar Kebangsaan: Merawat Kebhinnekaan dan Menurunkan Ketimpangan untuk Kedamaian, Ketua Lembaga Demografi Universitas Indonesia, Dr. Turro Wongkaren menyatakan dibandingkan kebhinnekaan yang primordial (agama, suku, dan ras) yang seharusnya dijaga itu adalah keberagaman ide. Karena dalam kelompok yang mungkin saja berkulit dan beragama sama, tetap selalu ada ide dan ideologi yang berbeda.

Keberagaman ide bisa muncul, tumbuh subur dan dijaga melalui ruang tengah itu. Ruang tengah meniadakan solusi tunggal dan menipiskan stereotip. Jika kota, yang pada acara silam disebut Dolorosa Sinaga, sebagai institusi kekuasaan, maka ruang tengah ini yang harusnya membawa kekuasaan menjadi komunalitas dalam kota. Ruang tengah pun menjadi tempat warga kota berpartisipasi. Jika kota kita yang makin bercita-cita mengglobal dan memintar namun ahistoris, maka ekosistem dan jaringan ruang tengah ini harus pelan-pelan mengantar kota menjadi pedagogik.

Rujak Center for Urban Studies sebagai wadah pemikir-pelaku dan lembaga yang percaya pada ko-produksi pengetahuan bersama warga dan komunitas, memiliki misi untuk menjadikan segenap kegiatan dan tempat yang dikelola oleh Rujak sebagai Ruang Tengah di dalam kota. Bersituasi dan terletak di batas ‘Garden City’ Menteng yang merupakan real-estat pertama di Batavia dan Kampung Kali Pasir, Rujak membuka pintu dan menjadi ruang tengah yang terus membuka dialog diantara kedua entitas yang berbeda itu.

Setelah 7 tahun berkantor di ruang kecil sudut Sarinah, Rujak kini berlokasi baru di salah satu  Cikini 37B, tak hanya hadir dalam rupa perpustakaan dan ruang diskusi belaka, ia akan hadir kembali sebagai tempat belajar dan menonton, tempat berekspresi dan berembug sambil mendorong keberagaman ide dan kreativitas.

Selain program publik yang sebelumnya kerap dijalankan Rujak, seperti #DiskusiKota, #KajiKota dan #KelasMenulis, Rujak pun hadir dengan berbagai program baru seperti Agenda Baru Perkotaan membahas tentang , Festival #BhinnekaKota, #Nobarkota dan #WorkInProgress. Selain itu, Rujak mengundang kolaborasi segenap pihak demi membangun ekosistem ruang tengah di kota Jakarta.

Mari bersama membangun kota kita.

One thought on “Ruang Tengah di Jakarta

  1. Marco says:

    Pikir-pikir, benar lucuk juga ya: kantor Rujak itu punya dua pintu: yang satu menghadap ke Kampung Menteng, yang satu menghadap ke Kampung Kali Pasir. Yang mana yang (pintu) depan dan (pintu) belakang? Suar dikatakan. Dan sebaiknya mungkin tak perlu disebut depan belakang. Seluruh Rujak adalah Ruang Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *