Upacara, Lomba dan Memori Kolektif Warga Akuarium

Warga kampung Akuarium bersama mahasiswa Bina Sarana Informatika tengah melakukan upacara HUT- RI ke-73 di kampung Akuarium, Jakarta Utara pada tanggal 17 Agustus 2018

 

“Ayo segera kumpul ketengah, sebentar lagi upacara mau dimulai.” Tutur salah seorang warga Kampung Akuarum, Jumat, 17, Agustus 2018.

pagi hari, Jumat, 17 Agustus 2018, warga kampung Akuarium bersiap-siap untuk melakukan upacara dalam memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-73.  Upacara kali ini diikuti oleh hampir seluruh warga kampung Akuarium, di tengah lingkaran shalter mereka yang berdiri saat ini.

Upacara kali ini juga dihadiri kalangan mahasiswa dari Bina Sarana Informatika (BSI) dengan melakukan bakti sosial dalam mengadakan berbagai kegiatan lomba bersama warga kampung Akuarium.

Upacara berjalan khidmat dan lancar, setelah upacara, para warga berfoto bersama para mahasiswa, para warga tersenyum, juga bersyukur di tengah terik matahari pagi, bahwa sampai saat ini mereka masih berada disana dan tinggal disana sambil menunggu pembangunan rumah mereka berdiri kembali.

Pada peringatan hari kemerdekaan kali ini, warga kampung Akuarium juga tidak ketinggalan sosok Jun Kitazawa, seorang seniman berkebangsaan Jepang yang juga turut hadir untuk mengadakan lomba di kampung Akuarium.

Pada peringatan hari kemerdekaan tahun lalu, Jun juga mengadakan lomba di kampung Akuarium dengan tema “lomba rumah ideal” yang diikuti oleh seluruh warga kampung Akuarium.

Pada kesempatan ini, tema lomba yang dibawakan oleh Jun sedikit berbeda, namun tetap memberikan makna yang sama kepada warga, yaitu mengajak warga berefleksi tentang kehidupan masa lalu, tentang apa yang ada di kampung itu sebagai sebuah refleksi historis.

“lomba gerobak memori” merupakan tema yang diselenggarakan kali ini di kampung Akuarium. Mengapa gerobak? Menurut Jun bahwa gerobak merupakan sarana ekonomi warga kota di Jakarta khususnya yang sangat humanis dalam memberi peluang ekonomi. Tidak seperti halnya di Jepang, jualan dengan gerobak itu susah, perizinannya sangat ketat. Jun berharap Jepang juga dapat memberi makna pada gerobak bagi warga Jepang.

Sebelumnya, gerobak juga menjadi tema pameran seni Jun Kitazawa di Jepang dengan tema “neighbor`s land” di Yokohama. Kali ini, Jun menggagasnya untuk Inonesia, khususnya di kampung Akuarium. Tema ini kiranya berangkat dari perspektif seninya terkait seni dan antropologi sebagai metode praktik berkesenian.

Pada dasarnya lomba gerobak memori ini merupakan tema refleksi, perjalanan historis warga kampung akuarium yang dapat diimplementasikan melalui karya seni. Tema gerobak yang dibuat oleh warga pun beragam. Seperti halnya gerobak buatan pak Tedi warga kampung Akuarium yang membuat gerobak monas. Ada  pun gerobak Yokohama, gerobak bakso, gerobak jembatan, gerobak mushala, gerobak museum bahari, gerobak cupang akuarium dan gerobak layangan.

Gerobak monas saya buat merupakan gambaran bahwa kampung ini adalah wilayah DKI Jakarta, kita bagian dari DKI Jakarta, juga bagian dari yang paling luas yaitu Indoensia.”Tutur pak Tedi, warga kampung Akuarium, peserta lomba gerobak memori.

Gerobak Monas merupakan karya dari pak Tedi seorang warga kampung Akuarium dan peserta lomba gerobak memori

Lain halnya tema gerobak yang dibawakan oleh Topas, seorang warga kampung Akuaium yang memilih tema gerobak jembatan merah. Menurut Topas, bahwa gerobak jembatan merah ini adalah memorinya pada kenangan jembatan merah yang ada di kampung Akuarium, jembatan itu telah berjasa menghubungkan daerah kampung Akuarium dan kampung Luar Batang. Tapi kini jembatan itu sudah tiada, hilang dilahap pembangunan normalisasi sungai. “Tutur Topas, peserta lomba gerobak dan warga kampung Akuarium.

“Melalui gerobak jembatan itulah, topas dan anggota timnya mengenang kisah masa kecil, masa dewasa dan masa bujangnnya. Topas memiliki kenangan manis, termasuk soal asmara.” Tutur Topas sambil tertawa.

 

Gerobak jembatan merah karya Topas salah seorang warga kampung Akuarium dan peserta lomba gerobak memori

Adapun peserta lain bernama Umaidi, salah seorang warga kampung Akuarium dan peserta lomba gerobak memori. Umaidi mengangkat tema gerobak mushala, Umaidi menuturkan bahwa mushala itu dibangun sekitar tahun 1980-an awal di kampung Akuarium. Mushala itu telah berjasa memberi tempat teduh untuk beribadah warga Kampung Akuarium. Umaidi menceritakan bahwa warga menshalatkan jenazah, untuk akad nikah warga yang menikahkan anaknya dan tempat bersilaturahmi warga Akuarium kerap di mushala. Bahkan ketika penggusuran lalu yang membuat warga trauma dan kejam itu sementara waktu warga berteduh di mushala ini. “Tuturnya.

Semua yang menjadi tema gerobak untuk merayakan HUT-RI ke-73 itu sudah tiada, warga hanya dapat mengenang dari masing-masing karya peserta lomba, sambil tertawa penuh suka-cita. Esok hari mereka optimis bahwa kampung mereka akan berdiri kembali, shalter (tempat sementara yang dibangun) ini adalah kado terbaik bagi warga kampung Akuarium, sambil menungu rumah mereka dibangun kembali.

Penghancuran merupakan kejahatan yang luar biasa  bagi umat manusia, khususnya warga kampung Akuarium yang dihancurkan rumah-rumah mereka. Penghancuran dengan paksaan dan tindakan kesewenang-wenangan terhadap hak asasi merupakan tragedi yang tidak boleh terulang.

Kisah penggusuran demi membangun Gelanggang Olahraga Bung Karno (GBK), komplek Senayan adalah kenyataan yang dapat diprioritaskan, memindahkan orang tidak sama halnya memindahkan “barang,” perlu keseriusan, cara berpikir yang sehat dan matang agar tidak menimbulkan kerugian baik fisik mau pun materil, apa lagi menghilangkan hak asasi manusia.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *