Posts Tagged ‘Architecture’


19 Jul 2010

Lebih Baik Bikin Kolam Terbuka di Lapangan Monas

Pemda akan bikin reservoir bawah-tanah di Lapangan Monas (Kompas hari ini). Apakah tidak lebih baik bikin kolam besar sekalian yang terbuka sehingga menjadi feature yang berfungsi menampung air sekaligus bisa dinikmatii?Lapangan Monas sekarang dari segi landscape sangat datar dan karenanya sangat bising. Galian tanah untuk bikin kolam besar bisa untuk membentuk bukit dan lembah yang akan menjadi ruang-ruang mikro yang terlindung dari bising jalan sekitarnya.

Berikut ini visi yang pernah diajukan pada “Imagining Jakarta, 2004″ hasil kolaborasi antara seniman dan arsitek.

Lapangan MONAS dan Kota Bukittinggi

Medium: kayu, kaca

Marco Kusumawijaya, Hedi Harijanto

Lapangan Merdeka (dan sesungguhnya: seluruh Jakarta) perlu belajar dari Kota Bukittinggi tentang: ukurannya sendiri, keragaman dalam kepadatan melalui mixed-use, ekologi, topografi yang berbukit-bukit dan skala yang manusiawi.

Hampir seluruh inti-kota Bukittinggi muat di dalam Lapangan MONAS. Dengan topografi Bukittinggi, Lapangan MONAS (dan Jakarta) akan memiliki permukaan hijau yang lebih luas. Bukit akan juga menciptakan oase yang hening di lembah dan lereng dalamnya, melindunginya dari bising jalan di sekitar. Waduk raksasa berbentuk Ngarai Sianok akan menyimpan air. Topografi akan memberikan rentang probabilitas pengalaman yang tak terbatas. Dengan peningkatan kapasitas ekologis ini, maka ke dalam Lapangan MONAS dapat dimasukkan stasiun kereta api khusus dalam-kota yang sangat dibutuhkan oleh seluruh Jakarta, dan sebaliknya akan membuat Lapangan MONAS dapat dijangkau secara murah dan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.

Imagining Jakarta is a collaboration in 2004 by architects, urban designers/planners, poets, graphic designers, photographers, sculptors, and multi-media artists, to “imagine” visions for some urban spaces and issues in Jakarta. It was conducted through a series of  workshop in 2004, and the results were exhibited at Gallery Cemara in December 2004. The participants are: Marco Kusumawijaya, Adi “Mamo” Purnomo, Dewi Susanti, Bonifacius Djoko Santoso , Yuka, Irwan Ahmett, Paul Kadarisman, Erik Prasetya, Enrico Halim, Akhmad “Apep” Tardiyana, Gregorius Supie Yolodi, Hedi Hariyanto, Budi Pradono ,Yuka Dian Narendra and David  Setiadi.

DSC05079

Bagaimana kalau Lapangan Monas berkontur Bukittinggi? Dengan ngarai untuk menampung air, dan bukit serta lembah-lembah sebagai ruang mikro yang lebih dapat dinikmati daripada keadaan sekarang.

MarcoWork3IJ

Ruang pameran: sepadat dan sehiruk pikuk metropolis Jakarta. Bundaran HI (kini HIK) yang permukarannya diturunkan, dengan stasiun MRT di bawahnya, suatu visi yang kini mau tidak mau akan/harus terwujud segera.

For more pictures, see: http://www.flickr.com/photos/rujak/sets/72157620952348995/ (more…)

2 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


15 Jul 2010

Arsitektur dan Produksi Ruang Kota

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


29 Jun 2010

Pertemuan Regional Arsitek Komunitas

Pertemuan arsitek komunitas se-Asia di Chiang Mai, Thailand pada tanggal 12-16 Juni 2010 lalu mungkin bukan pertemuan arsitek komunitas pertama yang pernah terselenggara. Tetapi, dalam hal jumlah peserta puluhan institusi terutama terdiri dari LSM dan akademik mengirimkan 125-an ‘arsitek komunitas’ –nya, mewakili lebih dari 23 negara-negara Asia plus negara-negara selatan Afrika, Australia, Selandia Baru, dan Kolombia menjadikan pertemuan ini istimewa. Tibet Heritage Fund dan Shack/Slum Dwellers International adalah dua kontingen organisasi internasional yang menambah keragaman. Pertemuan ini adalah inisiatif dari Asian Coalition for Housing Rights (lihat Box 1) untuk membangun jaringan arsitek dan para-arsitek (Chang Chumchon Thailand, jaringan tukang kampung) yang bekerja dengan komunitas dalam konteks Asia.

Sesi diskusi konservasi bersama komunitas

Sesi diskusi konservasi bersama komunitas

Box.1 Asian Coalition for Housing Rights (ACHR)

ACHR berawal dari sekumpulan arsitek dan aktivis dari belasan negara-negara Asia yang bergerak bersama menentang penggusuran berkaitan dengan penyelenggaraan Olimpiade di Korea Selatan pada tahun 1986. Adalah Arsitek-Pastor J.E. Anzorena yang dalam 30 tahun terakhir secara teratur mengunjungi negara-negara di Asia dan menulis tentang arsitek yang bekerja bersama komunitas dalam jurnal Selavip. Tahun 2009 ACHR meluncurkan program Asian Coalition for Community Action untuk perbaikan kampung-kampung miskin kota di Asia. Somsook Boonyabancha menjabat sekretaris jendral ACHR.

www.achr.net

Di tengah arus globalisasi yang juga menjadi arus penyeragaman dalam berbagai hal istilah arsitektur komunitas sebagai sebuah konsep memang masih sangat sumir. Namun seperti disaksikan lewat pertemuan ini juga pada kesempatan lain cukup banyak inisiatif konkrit yang secara kolektif memberi makna pada istilah ‘arsitektur komunitas’ (lihat Box 2). Dan sepertinya pada saat ini kerja lapangan atau pengalaman empiris lebih awal dibanding pengembangan teori. Berkaitan dengan hal ini sebuah buku setebal 96-halaman berwarna tentang kinerja arsitek komunitas di Asia turut diluncurkan lewat acara ini.

Workshop bahan bangunan alami oleh Pun Pun Thailand

Workshop bahan bangunan alami oleh Pun Pun Thailand

Ada empat tema besar arsitektur komunitas yang diusung melalui diskusi panel, pameran, dan sesi pemutaran film; (1) upgrading atau perbaikan kampung, (2) pemulihan pasca bencana, (3) perencanaan kota partisipatif, dan (4) konservasi bersama komunitas. Sebagai tambahan diselenggarakan juga workshop bahan/teknik bangunan alami, kunjungan ke proyek perbaikan kampung Baan Mankong yang difasilitasi Community Organization’s Development Institute (sebuah badan pemerintah khusus menangani perbaikan kampung) dan kunjungan ke beberapa proyek konservasi partisipatif pemenang penghargaan UNESCO.

“Di umur saya, selama ini saya sering merasa sendiri dalam menggeluti bidang arsitektur komunitas” -Ivana Lee, arsitek komunitas Jaringan Relawan Kemanusiaan

Latar belakang dan rentang pengalaman peserta pertemuan adalah sebagian dari banyak aspek keragaman yang mewarnai pertemuan ini. Para relawan mahasiswa Fakultas Arsitektur Universitas Chiang Mai yang menjadi tuan rumah merupakan kelompok peserta termuda dapat memperoleh dukungan penyemangat dari seniornya dari Jepang hingga India. Sementara peserta lainnya berada pada pertengahan karir dan sudah memiliki pengalaman yang berarti. Dukungan senior dan kesinambungan antar generasi adalah penting bagi arsitek komunitas, sebuah ceruk sepi di alam profesi arsitek.

Arsitek komunitas lintas generasi lintas bangsa

Arsitek komunitas lintas generasi lintas bangsa

Di akhir pertemuan beberapa hal yang menjadi perhatian bersama bagi peserta adalah perlunya perubahan paradigma dalam sistim pendidikan arsitektur sehingga lebih akomodatif dan tidak semata-mata mejadi penyedia kebutuhan pasar. Selanjutnya juga muncul perhatian bersama tentang kesinambungan profesi arsitek komunitas mulai dari aspek penghidupan hingga aspek pengembangan keahlian.  Terakhir, adalah pentingnya untuk menyadari bahaya bila unsur ’komunitas’ justru tertinggal saat arsitektur komunitas sebagai sebuah gerakan telah bergulir.

Akhir kata, pertemuan sebesar ini harus menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar kesenangan mendapat teman dan pengalaman baru. Pertemuan ini selayaknya menjadi pemula, pembuka peluang kerjasama dan pengembangan jaringan, sehingga menjadi langkah awal bagi gerakan arsitektur komunitas di Asia.

Box.2 Siapakah dia Arsitek Komunitas?

  1. Arsitek yang bekerja untuk kaum tuna wisma atau ‘miskin hunian’.
  2. Yang terlibat di perbaikan kampung miskin kota, rekonstruksi pasca bencana, dan perbaikan desa.
  3. Yang bekerja lebih untuk kepuasan daripada untuk uang, lebih sebagai respon terhadap situasi sosial daripada sebagai pemilik kualifikasi akademik.
  4. Yang menghormati tradisi, budaya, pengetahuan dan keahlian rakyat dalam hal rancang bangun, yang percaya dan melaksanakan metode partisipatif.
  5. Yang berkomitmen untuk biaya-murah dan teknologi tepatguna dan kearifan lokal dan konteks.
  6. Yang mendengarkan rakyat, memahami hidup dan kebutuhannya, menolak untuk memaksakan pandangan, representasi, dan kekuatan dirinya di dalam rancang bangun.
  7. Yang peduli terhadap aspek psikologis penghuni dan dimensi sosio-kultural dari pengembangan hunian.
  8. Yang memperhatikan iklim dan lingkungan dan berkomitmen untuk pembangunan lestari.
  9. Yang perjuangan kreatifitasnya tidak dibatasi oleh pencarian bentuk baru melainkan doing more with less, dan seeing big in small.
  10. Yang memiliki klien tidak hanya individu, kelompok, dan komunitas, melainkan juga kelas (rakyat miskin, kelompok terkena bencana, tuna wisma) bahkan masyarakat secara keseluruhan.
  11. Yang lebih bekerja dengan rakyat daripada untuk rakyat.
  12. Yang inventif menggali sumberdaya dari rakyat dan lingkungan terdekat sebelum mencari keluar
  13. Yang bekerja tidak sebatas menangani gejala melainkan menangani akar masalah. Dia tahu kemiskinan hunian adalah gejala dan ketidak-adilan sosial adalah akar masalah.
  14. yang memiliki visi kemasyarakatan
  15. yang selamanya dalam proses belajar
  16. yang pekerjaannya tidak selalu menyediakan melainkan juga memfasilitasi
  17. yang tidak bangga dengan apa yang dia lakukan tetapi menjadi sebab
  18. Mereka bukan individu melainkan tim. Mereka bekerja bersama dan kebersamaan adalah etos mereka. Sinergi adalah mantra mereka. Mereka multi-disipliner dalam hal keahlian dan karakter.
  19. Bukan menyediakan jasa melainkan pemberdayaan adalah visi mereka
  20. Proyek kecil adalah pijakan untuk belajar, up-scaling dan city-wide adalah tujuan
  21. yang bertindak lokal dan berpikir global. Yang ruang semestanya mikro maupun makro
  22. Yang memimpikan perubahan sistem/ kemapanan, yang mereformasi persepsi dan praktek.
  23. Tidak terlatih secara formal kadang justru berasal dari komunitas.

Demikian sebagian 23 dari sekian karakter yang dimiliki olek arsitek komunitas seperti disampaikan oleh Kirtee Shah, seorang arsitek komunitas senior dari Ahmedabad, India.

Box.1 Asian Coalition for Housing Rights  (ACHR)
ACHR berawal dari sekumpulan arsitek dan aktivis dari belasan

negara-negara Asia yang bergerak bersama menentang penggusuran

berkaitan dengan penyelenggaraan Olimpiade di Korea Selatan pada

tahun 1986. Adalah Arsitek-Pastor J.E. Anzorena yang dalam 30 tahun

terakhir secara teratur mengunjungi negara-negara di Asia dan

menulis tentang arsitek yang bekerja bersama komunitas dalam jurnal

Selavip. Tahun 2009 ACHR meluncurkan program Asian Coalition for

Community Action (ACCA) untuk perbaikan kampung-kampung miskin kota

di Asia. Somsook Boonyabancha menjabat sekretaris jendral ACHR.

1 Comment »

Topics: , | Agent of Change: none |


09 Jun 2010

Ziarah Arsitektur, Seminar, Lomba Foto

Ikatan Arsitek Indonesia – Jakarta menyelenggarakan  ”3 in One Konservasi:  Ziarah Arsitektur, Seminar, Lomba Foto”.

Pembekalan materi & tinjauan foto Cina Benteng
oleh Jay Subiakto & Yori Antar
Jumat, 11 Juni 2010
18.00-21.00 WIB
di JDC, Orchid 1, lantai 6, Slipi, Jakarta.

3 in One
Sabtu, 12 Juni 2010
07.00-18.00 WIB

objek :
Bentara Budaya – Romo Mangun
Istana Negara RI
Gereja Cilincing – Romo Mangun

Untuk keterangan lebih lanjut silakan hubungi IAI Jakarta

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


03 May 2010

Rujak Center for Urban Studies

Lahir pada 1 Mei 2010, RCUS dimaksudkan untuk mengisi kesenjangan dalam proses peralihan masuk ke dalam abad ekologi. Semboyannya adalah “Menuju kelestarian kota dan wilayah”.

Namun, perlu ditegaskan bahwa menjadi lestari bukan hanya berarti selamat dari perubahan iklim dan bencana ekologis lainnya, tetapi juga menyelesaikan berbagai masalah perkotaan lainnya yang telah mendahului kesadaran kita tentang tentang masalah-masalah ekologis. Tetapi, kami percaya bahwa kesadaran akan ekologi, dan produksi pengetahuan yang dipercikkannya, telah memberikan perspektif dan kesempatan untuk merumuskan tindakan secara berbeda dalam rangka menyelesaikan masalah-masalah perkotaan yang telah lama menunggu kita seperti misalnya kemiskinan, keadilan, pluralisme dan keberagaman, dan lain-lain. Sesungguhnyalah, semua itu telah memungkinkan suatu cara baru dalam membangun kota.

RCUS bermaksud memusatkan kerjanya pada kota-kota sebagai wilayah manusia yang merangkum kebanyakan, kalau bukan semua, persoalan masa kini dan masa depan manusia. Pada tahun 2007 dunia telah mencapai tingkat urbanisasi 50% karena terutama tingkat-tingkat urbanisasi tertinggi di kota-kota negeri sedang berkembang.
RCUS memandang keluar ke seluruh Asia Tenggara dan Timor Leste sebagai wilayah kerjanya, sementara mulai dengan berpijak kuat di Indonesia.

RCUS dibangun di atas pengalaman dan latar-belakang berbeda dari para pendirinya yang telah melakukan berbagai kegiatan penelitian, pembangunan kapasitas dan advokasi kebijakan secara tersebar di dalam dua dasawarsa terakhir, seringkali tanpa dukungan organisasi apa pun, karena mereka melakukannya sebagai “individu yang tidak terlembaga”, sebagai sukarelawan warga. Dalam perjalanannya, kami juga perlahan mengumpulkan dukungan yang tidak teratur, kadang dari orang perorang, kadang dari lembaga-lembaga. Para pendiri juga memiliki beberapa pengalaman profesional yang berhasil dalam bidang kepemerintahan yang baik, seni dan budaya, pusaka budaya, strategi pembangunanj, dan pembangunan kemabli pasca bencana (di Aceh).

Ketika kami belajar sambil berbuat, akhirnya kami sadar bahwa perubahan memerlukan rancangan langkah-langkah, skala dan kerjasama yang lebih besar, komitmen jangka panjang, daya tahan, dan karena itu peng-organisasi-an yang sungguh-sungguh. Kami berharap menggabungkan penelitian, pembangunan kapasitas dan advokasi kebijakan di bawah satu atap RCUS untuk membuat upaya kami lebih efektif.

Orientasi tetap kami adalah terus menerus memperluas kepemilikan perubahan lestari oleh warga, melalui prakarsa dan partisipasi aktifnya dalam membangun kota dan wilayah. Optimisme kami didasarkan pada pengalaman bertahun-tahun bertemu dan bekerja dengan makin banyak prakarsa bebas dan otonom warga di tingkat akar-rumput. Dalam semua kerja kami, kami ingin selalu membangun prasarana, ruang dan kebiasaan bagi prakarsa dan partisipasi warga, bukan sebagai produk-sampingan, tetapi sebagai tujuan itu sendiri. Kami mendudukan diri kami sebagai fasilitator agar beragam pemangku-kepentingan dapat melanjutkan pekerjaan yang dimulai bersama-sama.

Born on May 1, 2010, RCUS is founded to fill the gaps in the necessary process of transition into the ecological age. Our tag-line is “Towards sustainability of cities and regions”.

However, it must emphasised that by sustainability we mean not only surviving climate change and other ecological disasters, but also solving other urban problems that have predated our awareness about ecological problems. Nevertheless, we do believe that the awareness about ecology, and new production of knowledge that it sparked, have created a new perspective and opportunities for conceptualising our actions differently to solve those other outstanding urban problems such as poverty, justice, pluralism and diversity, etc. Indeed, they make possible a new way of building cities.

RCUS wishes to focus on cities as human territories that amalgamate most, if not all, of contemporary and future human problems. In 2007 the world has passed the irreversible 50% urbanisation rate, due mostly to the highest rates in cities of developing countries.
RCUS is looking out to the whole South East Asia and Timor Leste as it area of works, while starting firmly in Indonesia.

We are building on different experiences and backgrounds of RCUS’s co-founders who have been doing a multitude of research, capacity building and policy advocacy sporadically in the past two decades or so, often without any organisational support, as they did so as “non-institutionalised individuals”, as voluntary citizens. In the process we have gathered a lot of sporadic supports, too, sometime from individuals, sometime from institutions. They have successful proffesional working experiences in the fields of good governance, arts and culture, heritage, development strategy, and post-disaster reconstruction (in Aceh).

As we learned by doing, however, we realised that changes require designed steps, bigger magnitude and collaboration, long-term commitments, perseverence, and hence serious organising. We wish to combine research, capacity building and policy advocacy under one roof of RCUS to make our efforts more effective.

Our persistent orientation is towards ever expanding ownership of sustained changes by citizens, through their initiatives and active participation in city- and region-building. Our optimism is based on many years of encountering and working, at grass root levels, with growing number of citizens’s independent and autonomous initiatives. In all our works we wish to always build infrastructures, spaces, and habits for citizens’ initiatives and participation, not as by-products, but as the very goal itself. We envision ourselves as facilitators for multi-stakeholders to carry on works that we start together.

3 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


24 Apr 2010

Pluit Village: Berapa Hijaukah Pengembang Kita yang terkenal itu?

Gunawan Tanuwidjaja
(Dari milis Green Map Jakarta)
Beberapa saat yang lalu, diadakan Sustainable Jakarta Conference, yang memang merupakan upaya untuk membuat Jakarta lebih berkelanjutan.[1] Ada sebuah pengembang terkenal yang mengajukan konsep Green Master Plan. Tetapi mirisnya ternyata pengembang ini hanya menjual konsep “Green”-nya yang kosong dan tidak menerapkan dalam bisnisnya.

Pengembang tersebut terlibat dengan sebuah di proyek Kawasan Jakarta Utara, Pluit Village.
Ternyata pengembang ini tidak mempraktekkan “Green and Responsible Water Resource Management.”

Pertama, Pengembang diduga telah “menkonversi badan air menjadi komersial, helipad dan jalan internal (melanggar UU Tata Ruang no 26 tahun 2007 dan UU Sumber Daya Air no 7 tahun 2004)”. Selain itu pengembang ini diduga telah mengganggu sistem polder yang ada dengan menutup saluran air yang masuk ke dalam Danau Pluit dan meninggikan lansekap di sekitar Danau tsb. Sehingga terjadi genangan di kawasan perumahan di Utara dan Selatan. Sungguh pengembang ini diduga tidak memiliki “kesatuan kata dan perbuatan.”

Terbukti pada 2008 – 2010, Warga Pluit telah menikmati beberapa serangan “Rob.” Padahal tadinya warga sempat merasakan aman dari Banjir Besar 2007 karena Polder Pluit yang berjalan dengan baik.

Mungkin sebuah sentuhan baru yang ditawarkan oleh Pluit Village.[2] Dari tinggal di dalam polder seperti di Belanda, menjadi “tinggal di Venesia, Italia, (alias setengah terendam banjir ketika hujan atau pasang laut datang). Jadi konsepnya dengan pengembang biasa yang menjual promosi BEBAS BANJIR. Mungkin judulnya silahkan tinggal di kawasan yang PASTI BANJIR!

Kalau kami boleh mengutip sebuah kata-kata bijak “Janganlah memutarbalikkan KEADILAN, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. ” Kmemang mengakui bahwa pengembang ini mampu mengatasi segala birokrasi untuk mewujudkan keinginannya di atas. Tetapi apakah hal ini tidak berlawanan dengan cita-cita mulia dan pelayanan Bpk James Riady,[3] bos besar pengembang ini. Apakah memang halal untuk merusak sistem lingkungan orang lain demi kepentingan ekonomi semata-mata?

Jika ada pertanyaan atau tanggapan silahkan baca dulu artikel kami di website kami dengan link sbb:

http://greenimpactindo.wordpress.com/2010/04/24/challenges-in-creating-sustainable-urban-polder-in-developing-countries-case-study-development-of-pluit-polder-jakarta/

Atau dapat kontak lewat email saja gunteitb@yahoo.com atau telpon ke 0812 212 208 42.

Terimakasih
Gunawan Tanuwidjaja
Pemerhati Pluit

Pro: Kami juga minta dukungan semua pihak agar Sistem Polder Pluit bisa direvitalisasi, Dan 14 Pompa yang dibeli dan dikonstruksi oleh PU DKI Jakarta bisa dipakai untuk operasi Polder Pluit dengan perencanaan yang baik “bukan merusak sistem polder yang sudah ada.”

Footnote
1 – Mr Gordon Benton OBE, architect and urban planner, giving lecture `The future of urban development in Jakarta and role of private developer’ in Sustainable Jakarta Convention, http://www.sjconvention.com/Downloads/Sustainable%20Jakarta%20Seminar%20Speakers.pdf

2 - http://www.lippokarawaci.co.id/retailmalls/pluitvillage.aspx

3 - http://en.wikipedia.org/wiki/James_Riady
http://www.grii.org/
http://www.ladangtuhan.com/komunitas/jadwal-acara-gathering/seminar-ekonomi-antisipasi-krisis-global-bagi-indonesia/

No Comments »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


23 Apr 2010

Kaki Lima Kota dan Arsitektur

23 April – 2 MeiKami dari panitia HUT SKETSA,

Lomba Desain Konsep

Workshop (23,24,27 April 2010)

Lomba Fotografi (penjurian 28 April 2010)

Seminar Arsitektur (29 April 2010)

Pameran Arsitektur di eX (30 April-2 Mei 2010)
Talkshow: Fengshui dalam Arsitektur (2 Mei 2010 )

Launching: Public Expose jilid 1 (1 Mei 2010)

INFO:
Vincent (08978820856)Lydia (08170139193)

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


19 Apr 2010

TEDxGreenJakarta

The first TEDxGreenJakarta on the eve of the Earth Day. Wednesday, April 21, 2010, at 6-9 pm, Time Out Building, Jalan Pangeran Antasari 19. See you there!

1 Comment »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


15 Apr 2010

Healthy Movement in Architecture

Sebagai negara tropis, indonesia mempunyai salah satu sumber daya alam yang berlimpah. Sumber daya alam tersebut adalah kayu. Keberagaman sumber daya alam yang ada di Indonesia seharusnya membuat kita menjadi kreatif tetapi juga tepat dan tajam dalam mengeksplorasinya.

Jika kita menilik arsitektur etnik yang ada di Indonesia maka jelas terlihat bahwa kekreatifitasan dan kekritisan tersebut telah ada pada mereka. Masyarakat yang masih membangun arsitektur etnik ini lebih jujur dan peka dalam menanggapi apa yang terjadi d sekitar mereka. Oleh karena itu apa pun teknologi yang mereka kembangkan selalu berkesinambungan (sustainable).

Kayu karet sejak tahun 70-an telah dikenal dan digunakan sebagai bahan baku berbagai industri, salah satunya adalah industri furniture. Kayu karet tergolong kayu kelas II setara dengan kayu hutan alam seperti kayu ramin, perupuk, akasia, mahoni, pinus, meranti, durian, ketapang, keruing, sungkai, gerunggang, dan nyatoh. Walau mempunyai potensi positif, Kayu Karet masih belum dimanfaatkan dan dikenal secara optimal dan meluas terutama dalam ranah arsitektur.

Melalui kegiatan ini kami ingin mencapai dan menggapai kedua hal tersebut. Kami ingin mencoba memperlihatkan potensi lain dari kayu karet melalui eksplorasi desain arsitektur. Dengan potensinya tersebut kami merasa kayu karet dapat juga menjadi komponen inti arsitektur yang berestetika baik. (more…)

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


01 Apr 2010

Summer School for Sustainable Design

Summer School for Sustainable Design will take place between the 30. August and the 4. September in Germany, in a cloister very close to Cologne.

The initiators are: Wuppertal Institute (www.wupperinst.org), ecosign (Academy for ecologic design, www.ecosign.net), Folwang University (www.folkwang-uni.de/), Luzern University (i.a.).

You can find information about the last Summer School here: http://www.designwalks.org/

We are looking for a lecturer, that could run/lead the workshop “Urban Creative Lifeworlds”, that will take place on September, the 1st. in the frame of the Summer School.

If you have an idea about someone, who can combine theoretical competences with practical experiences in this field, please contact me: Every information is welcome.

***

Urban Creative Lifeworlds

The first cities were founded about 5000 years ago. Since then, cities are functioning as centers of cultural, economic and creative growth. The sizzling urban lifestyles however grow in the urban peripheries, within flexible and informal networks. Throughout the 19th century, urban development was closely linked to industrialization; the last decades of deindustrialization however are a challenge for many cities like the former US-motor city Detroit or the urban Ruhr region (“Ruhr Metropolis”). At the same time this challenge can be a chance for a sustainable development of cities – and peripheries. Participation, networks and creativity are decisive factors for such challenges.

The “Ruhr Metropolis” adjacent to our venue, is a model for these structural changes of urban lifeworlds;  remarkable efforts have been made to face the challenges. This is why it has been rewarded as Europe’s Cultural Capital for 2010, following the maxim “Culture through Change, Change through Culture”.

There are, however, still many questions to be answered: How can the social and economic problems be transformed into new and more sustainable solutions? What is labour, what is leisure, what is a citizen in the post-industrial age? How can creativity be enhanced? How can we take advantage of the creative forces of urban peripheries? What are the perspectives of urban life in the future?

Our workshop will develop new concepts of urbanity, and creative solutions for future sustainable lifeworlds. Just the appropriate challenge for sustainable designers! The workshop will provide you with diverse perspectives from theory to real-life projects. We will go five steps to gain results:

1.     Analyzing urban living environments and discussing their structures, urban phenomena and problems, artificial and natural environments, culture and nature, creativity and transversality, and looking at the city as a system depending on interaction with its ecological, social, cultural, and emotional environment.

2.     Immersing into a real-life project of turning a normal urban environment into a creative lifeworld to explore new and sustainable ways of lifestyles, urbanity and creativity, opening altogether new and different perspectives.

3.     Providing you a space for your creativity to shape new ideas, and to apply the theoretical and practical insights to your personal experiences and backgrounds. You will shape visions of new and sustainable urban lifeworlds.

4.     Discussing and evaluating your ideas and sketches, thinking about consequences and requirements. This will be the real-life-test for your ideas.

5.     Presenting your work results to the other workshops and discussing them with the whole summer school group.

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |