Posts Tagged ‘Architecture’


17 Oct 2011

Literature l Architecture

Kamis/Thursday, 20 October 2011

Multifunctional Room

Istituto Italiano di Cultura

JL. Hos Cokroaminoto, 117
Menteng, 10310 Jakarta – Indonesia

10.00—17.00

ARCHITECTURE/LITERATURE

Workshop on relationship between architecture and literature

held by Avianti Armand and Elisa Sutanudjaja

Architecture and Literature has for so long inspired one another. And Italian culture has two masterpieces that inspired the world most: Divine Comedy by Dante Alighieri and Invisible Cities by Italo Calvino. Divine Comedy is rendered by bizarre image of the world construction, while Calvino’s work, Invisible Cities, crafted and detailed with beautiful and amazing architectures, had changed our way of thinking about a city forever. In this workshop, we will see in details how the two fields– architecture/literature–collide, intersect, effect, and superimpose one another.

Ruang multifungsi

Istituto Italiano di Cultura

10.00—17.00

ARCHITECTURE/LITERATURE

Lokakarya mengenai hubungan antara arsitektur dan kesusastraan

oleh Avianti Armand e Elisa Sutanudjaja

Arsitektur dan kesusastraan sudah sejak lama saling memberikan inspirasi. Kebudayaan Italia memiliki dua karya sastra yang telah memberikan inspirasi di seluruh dunia: La Divina Commedia karya Dante Alighieri yang ditandai dengan imaji-imaji aneh dalam konstruksi dunia, dan Le Città Invisibili karya Italo Calvino, memiliki ciri khas, yaitu arsitekturnya yang indah dan mengagumkan, yang mana telah mengubah untuk selamanya, bagaimana kita membayangkan sebuah kota.  Dalam lokakarya ini, akan dilihat lebih detil lagi, bagaimana kedua bidang tersebut saling berkaitan, bersilangan dan bertindihan satu sama lain.

Pendaftaran workshop dan Informasi:

Istituto Italiano di Cultura Jakarta 
JL. Hos Cokroaminoto, 117
Menteng, 10310 Jakarta – Indonesia
telephone: 62 21 3927531 – 62 21 3927532
fax: 62 21 3101661
email: iicjakarta@esteri.it

3 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


17 Oct 2011

Three Recommended Articles Today

2 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


28 Jun 2011

“Bangunan Peka” bersama Prof. Uwe Rieger, Indonesian Dream dan Arsitek Komunitas

BANGUNAN PEKA

Arsitektur Tanggap Lingkungan

6 Juli 2011, 16:00 WIB

Tur pameran dan bincang-bincang bersama kurator Uwe Rieger (The University of Auckland)

Museum Nasional Indonesia
Jalan Merdeka Barat No. 12

PameranBangunan Peka-Arsitektur Tanggap Lingkungan” di Museum Nasional 6-20 Juli 2011 diselenggarakan oleh Goethe-Institut Indonesien bekerja sama dengan Uwe Rieger, guru besar tamu untuk desain, ketua departemen arsitektur di School of Architecture and Planning The University of Auckland.

Pameran ini mengangkat tema arsitektur reaktif, yaitu arsitektur yang dapat menyesuaikan diri secara dinamis dengan iklim, cuaca, perencanaan atau pengguna. Tujuh instalasi akan dipamerkan. Lima di antaranya didatangkan dari Selandia Baru, sementara dua lainnya dari Indonesia: Ciliwung Recovery Programme (CRP) karya Indonesian Dream (Rezza Rahdian, Erwin Setiawan, Ayu Diah Shanti, Leonardus Chrisnantyo, Mario Lodeweik Lionar, Petrus Narwastu) dan Rumah Bambu Swapasang karya Arsitek Komunitas dari Yogyakarta.

Goethe-Institut Indonesien dengan Rujak Centre for Urban Studies (RCUS) mengundang Anda untuk tur keliling pameran dan bincang-bincang bersama Uwe Rieger pada:

Rabu, 6 Juli 2011 di Museum Nasional, mulai 16:00 WIB.

Acara akan dipandu oleh Marco Kusumawijaya dari RCUS.

Fakta-fakta menarik yang dapat didiskusikan antara lain adalah:
• Kebutuhan untuk mengembangkan arsitektur yang menghemat energi dan bahan dengan bereaksi positif atas alam
• Kebutuhan untuk mentransformasi pengetahuan dan kebijaksanaan dari bentuk-bentuk vernakular/tradisional arsitektur Indonesia ke konteks kontemporer dan perkotaan menggunakan metode ilmiah.

Kami mengharapkan pertukaran pikiran di antara kurator dan Anda semua!

Untuk mendaftarkan kehadiran pada acara ini Anda dapat menghubungi (selambatnya 5 Juli 2011):

Dinyah Latuconsina

Goethe-Institut Indonesien

Jl. Sam Ratulangi 9-15

Jakarta 10350

Tel. +62-21-23550208 – 147

Latuconsina@jakarta.goethe.org

1 Comment »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |


19 Jul 2010

Lebih Baik Bikin Kolam Terbuka di Lapangan Monas

Pemda akan bikin reservoir bawah-tanah di Lapangan Monas (Kompas hari ini). Apakah tidak lebih baik bikin kolam besar sekalian yang terbuka sehingga menjadi feature yang berfungsi menampung air sekaligus bisa dinikmatii?Lapangan Monas sekarang dari segi landscape sangat datar dan karenanya sangat bising. Galian tanah untuk bikin kolam besar bisa untuk membentuk bukit dan lembah yang akan menjadi ruang-ruang mikro yang terlindung dari bising jalan sekitarnya.

Berikut ini visi yang pernah diajukan pada “Imagining Jakarta, 2004″ hasil kolaborasi antara seniman dan arsitek.

Lapangan MONAS dan Kota Bukittinggi

Medium: kayu, kaca

Marco Kusumawijaya, Hedi Harijanto

Lapangan Merdeka (dan sesungguhnya: seluruh Jakarta) perlu belajar dari Kota Bukittinggi tentang: ukurannya sendiri, keragaman dalam kepadatan melalui mixed-use, ekologi, topografi yang berbukit-bukit dan skala yang manusiawi.

Hampir seluruh inti-kota Bukittinggi muat di dalam Lapangan MONAS. Dengan topografi Bukittinggi, Lapangan MONAS (dan Jakarta) akan memiliki permukaan hijau yang lebih luas. Bukit akan juga menciptakan oase yang hening di lembah dan lereng dalamnya, melindunginya dari bising jalan di sekitar. Waduk raksasa berbentuk Ngarai Sianok akan menyimpan air. Topografi akan memberikan rentang probabilitas pengalaman yang tak terbatas. Dengan peningkatan kapasitas ekologis ini, maka ke dalam Lapangan MONAS dapat dimasukkan stasiun kereta api khusus dalam-kota yang sangat dibutuhkan oleh seluruh Jakarta, dan sebaliknya akan membuat Lapangan MONAS dapat dijangkau secara murah dan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.

Imagining Jakarta is a collaboration in 2004 by architects, urban designers/planners, poets, graphic designers, photographers, sculptors, and multi-media artists, to “imagine” visions for some urban spaces and issues in Jakarta. It was conducted through a series of  workshop in 2004, and the results were exhibited at Gallery Cemara in December 2004. The participants are: Marco Kusumawijaya, Adi “Mamo” Purnomo, Dewi Susanti, Bonifacius Djoko Santoso , Yuka, Irwan Ahmett, Paul Kadarisman, Erik Prasetya, Enrico Halim, Akhmad “Apep” Tardiyana, Gregorius Supie Yolodi, Hedi Hariyanto, Budi Pradono ,Yuka Dian Narendra and David  Setiadi.

DSC05079

Bagaimana kalau Lapangan Monas berkontur Bukittinggi? Dengan ngarai untuk menampung air, dan bukit serta lembah-lembah sebagai ruang mikro yang lebih dapat dinikmati daripada keadaan sekarang.

MarcoWork3IJ

Ruang pameran: sepadat dan sehiruk pikuk metropolis Jakarta. Bundaran HI (kini HIK) yang permukarannya diturunkan, dengan stasiun MRT di bawahnya, suatu visi yang kini mau tidak mau akan/harus terwujud segera.

For more pictures, see: http://www.flickr.com/photos/rujak/sets/72157620952348995/ (more…)

2 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


15 Jul 2010

Arsitektur dan Produksi Ruang Kota

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


29 Jun 2010

Pertemuan Regional Arsitek Komunitas

Pertemuan arsitek komunitas se-Asia di Chiang Mai, Thailand pada tanggal 12-16 Juni 2010 lalu mungkin bukan pertemuan arsitek komunitas pertama yang pernah terselenggara. Tetapi, dalam hal jumlah peserta puluhan institusi terutama terdiri dari LSM dan akademik mengirimkan 125-an ‘arsitek komunitas’ –nya, mewakili lebih dari 23 negara-negara Asia plus negara-negara selatan Afrika, Australia, Selandia Baru, dan Kolombia menjadikan pertemuan ini istimewa. Tibet Heritage Fund dan Shack/Slum Dwellers International adalah dua kontingen organisasi internasional yang menambah keragaman. Pertemuan ini adalah inisiatif dari Asian Coalition for Housing Rights (lihat Box 1) untuk membangun jaringan arsitek dan para-arsitek (Chang Chumchon Thailand, jaringan tukang kampung) yang bekerja dengan komunitas dalam konteks Asia.

Sesi diskusi konservasi bersama komunitas

Sesi diskusi konservasi bersama komunitas

Box.1 Asian Coalition for Housing Rights (ACHR)

ACHR berawal dari sekumpulan arsitek dan aktivis dari belasan negara-negara Asia yang bergerak bersama menentang penggusuran berkaitan dengan penyelenggaraan Olimpiade di Korea Selatan pada tahun 1986. Adalah Arsitek-Pastor J.E. Anzorena yang dalam 30 tahun terakhir secara teratur mengunjungi negara-negara di Asia dan menulis tentang arsitek yang bekerja bersama komunitas dalam jurnal Selavip. Tahun 2009 ACHR meluncurkan program Asian Coalition for Community Action untuk perbaikan kampung-kampung miskin kota di Asia. Somsook Boonyabancha menjabat sekretaris jendral ACHR.

www.achr.net

Di tengah arus globalisasi yang juga menjadi arus penyeragaman dalam berbagai hal istilah arsitektur komunitas sebagai sebuah konsep memang masih sangat sumir. Namun seperti disaksikan lewat pertemuan ini juga pada kesempatan lain cukup banyak inisiatif konkrit yang secara kolektif memberi makna pada istilah ‘arsitektur komunitas’ (lihat Box 2). Dan sepertinya pada saat ini kerja lapangan atau pengalaman empiris lebih awal dibanding pengembangan teori. Berkaitan dengan hal ini sebuah buku setebal 96-halaman berwarna tentang kinerja arsitek komunitas di Asia turut diluncurkan lewat acara ini.

Workshop bahan bangunan alami oleh Pun Pun Thailand

Workshop bahan bangunan alami oleh Pun Pun Thailand

Ada empat tema besar arsitektur komunitas yang diusung melalui diskusi panel, pameran, dan sesi pemutaran film; (1) upgrading atau perbaikan kampung, (2) pemulihan pasca bencana, (3) perencanaan kota partisipatif, dan (4) konservasi bersama komunitas. Sebagai tambahan diselenggarakan juga workshop bahan/teknik bangunan alami, kunjungan ke proyek perbaikan kampung Baan Mankong yang difasilitasi Community Organization’s Development Institute (sebuah badan pemerintah khusus menangani perbaikan kampung) dan kunjungan ke beberapa proyek konservasi partisipatif pemenang penghargaan UNESCO.

“Di umur saya, selama ini saya sering merasa sendiri dalam menggeluti bidang arsitektur komunitas” -Ivana Lee, arsitek komunitas Jaringan Relawan Kemanusiaan

Latar belakang dan rentang pengalaman peserta pertemuan adalah sebagian dari banyak aspek keragaman yang mewarnai pertemuan ini. Para relawan mahasiswa Fakultas Arsitektur Universitas Chiang Mai yang menjadi tuan rumah merupakan kelompok peserta termuda dapat memperoleh dukungan penyemangat dari seniornya dari Jepang hingga India. Sementara peserta lainnya berada pada pertengahan karir dan sudah memiliki pengalaman yang berarti. Dukungan senior dan kesinambungan antar generasi adalah penting bagi arsitek komunitas, sebuah ceruk sepi di alam profesi arsitek.

Arsitek komunitas lintas generasi lintas bangsa

Arsitek komunitas lintas generasi lintas bangsa

Di akhir pertemuan beberapa hal yang menjadi perhatian bersama bagi peserta adalah perlunya perubahan paradigma dalam sistim pendidikan arsitektur sehingga lebih akomodatif dan tidak semata-mata mejadi penyedia kebutuhan pasar. Selanjutnya juga muncul perhatian bersama tentang kesinambungan profesi arsitek komunitas mulai dari aspek penghidupan hingga aspek pengembangan keahlian.  Terakhir, adalah pentingnya untuk menyadari bahaya bila unsur ’komunitas’ justru tertinggal saat arsitektur komunitas sebagai sebuah gerakan telah bergulir.

Akhir kata, pertemuan sebesar ini harus menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar kesenangan mendapat teman dan pengalaman baru. Pertemuan ini selayaknya menjadi pemula, pembuka peluang kerjasama dan pengembangan jaringan, sehingga menjadi langkah awal bagi gerakan arsitektur komunitas di Asia.

Box.2 Siapakah dia Arsitek Komunitas?

  1. Arsitek yang bekerja untuk kaum tuna wisma atau ‘miskin hunian’.
  2. Yang terlibat di perbaikan kampung miskin kota, rekonstruksi pasca bencana, dan perbaikan desa.
  3. Yang bekerja lebih untuk kepuasan daripada untuk uang, lebih sebagai respon terhadap situasi sosial daripada sebagai pemilik kualifikasi akademik.
  4. Yang menghormati tradisi, budaya, pengetahuan dan keahlian rakyat dalam hal rancang bangun, yang percaya dan melaksanakan metode partisipatif.
  5. Yang berkomitmen untuk biaya-murah dan teknologi tepatguna dan kearifan lokal dan konteks.
  6. Yang mendengarkan rakyat, memahami hidup dan kebutuhannya, menolak untuk memaksakan pandangan, representasi, dan kekuatan dirinya di dalam rancang bangun.
  7. Yang peduli terhadap aspek psikologis penghuni dan dimensi sosio-kultural dari pengembangan hunian.
  8. Yang memperhatikan iklim dan lingkungan dan berkomitmen untuk pembangunan lestari.
  9. Yang perjuangan kreatifitasnya tidak dibatasi oleh pencarian bentuk baru melainkan doing more with less, dan seeing big in small.
  10. Yang memiliki klien tidak hanya individu, kelompok, dan komunitas, melainkan juga kelas (rakyat miskin, kelompok terkena bencana, tuna wisma) bahkan masyarakat secara keseluruhan.
  11. Yang lebih bekerja dengan rakyat daripada untuk rakyat.
  12. Yang inventif menggali sumberdaya dari rakyat dan lingkungan terdekat sebelum mencari keluar
  13. Yang bekerja tidak sebatas menangani gejala melainkan menangani akar masalah. Dia tahu kemiskinan hunian adalah gejala dan ketidak-adilan sosial adalah akar masalah.
  14. yang memiliki visi kemasyarakatan
  15. yang selamanya dalam proses belajar
  16. yang pekerjaannya tidak selalu menyediakan melainkan juga memfasilitasi
  17. yang tidak bangga dengan apa yang dia lakukan tetapi menjadi sebab
  18. Mereka bukan individu melainkan tim. Mereka bekerja bersama dan kebersamaan adalah etos mereka. Sinergi adalah mantra mereka. Mereka multi-disipliner dalam hal keahlian dan karakter.
  19. Bukan menyediakan jasa melainkan pemberdayaan adalah visi mereka
  20. Proyek kecil adalah pijakan untuk belajar, up-scaling dan city-wide adalah tujuan
  21. yang bertindak lokal dan berpikir global. Yang ruang semestanya mikro maupun makro
  22. Yang memimpikan perubahan sistem/ kemapanan, yang mereformasi persepsi dan praktek.
  23. Tidak terlatih secara formal kadang justru berasal dari komunitas.

Demikian sebagian 23 dari sekian karakter yang dimiliki olek arsitek komunitas seperti disampaikan oleh Kirtee Shah, seorang arsitek komunitas senior dari Ahmedabad, India.

Box.1 Asian Coalition for Housing Rights  (ACHR)
ACHR berawal dari sekumpulan arsitek dan aktivis dari belasan

negara-negara Asia yang bergerak bersama menentang penggusuran

berkaitan dengan penyelenggaraan Olimpiade di Korea Selatan pada

tahun 1986. Adalah Arsitek-Pastor J.E. Anzorena yang dalam 30 tahun

terakhir secara teratur mengunjungi negara-negara di Asia dan

menulis tentang arsitek yang bekerja bersama komunitas dalam jurnal

Selavip. Tahun 2009 ACHR meluncurkan program Asian Coalition for

Community Action (ACCA) untuk perbaikan kampung-kampung miskin kota

di Asia. Somsook Boonyabancha menjabat sekretaris jendral ACHR.

1 Comment »

Topics: , | Agent of Change: none |


09 Jun 2010

Ziarah Arsitektur, Seminar, Lomba Foto

Ikatan Arsitek Indonesia – Jakarta menyelenggarakan  ”3 in One Konservasi:  Ziarah Arsitektur, Seminar, Lomba Foto”.

Pembekalan materi & tinjauan foto Cina Benteng
oleh Jay Subiakto & Yori Antar
Jumat, 11 Juni 2010
18.00-21.00 WIB
di JDC, Orchid 1, lantai 6, Slipi, Jakarta.

3 in One
Sabtu, 12 Juni 2010
07.00-18.00 WIB

objek :
Bentara Budaya – Romo Mangun
Istana Negara RI
Gereja Cilincing – Romo Mangun

Untuk keterangan lebih lanjut silakan hubungi IAI Jakarta

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


03 May 2010

Rujak Center for Urban Studies

Lahir pada 1 Mei 2010, RCUS dimaksudkan untuk mengisi kesenjangan dalam proses peralihan masuk ke dalam abad ekologi. Semboyannya adalah “Menuju kelestarian kota dan wilayah”.

Namun, perlu ditegaskan bahwa menjadi lestari bukan hanya berarti selamat dari perubahan iklim dan bencana ekologis lainnya, tetapi juga menyelesaikan berbagai masalah perkotaan lainnya yang telah mendahului kesadaran kita tentang tentang masalah-masalah ekologis. Tetapi, kami percaya bahwa kesadaran akan ekologi, dan produksi pengetahuan yang dipercikkannya, telah memberikan perspektif dan kesempatan untuk merumuskan tindakan secara berbeda dalam rangka menyelesaikan masalah-masalah perkotaan yang telah lama menunggu kita seperti misalnya kemiskinan, keadilan, pluralisme dan keberagaman, dan lain-lain. Sesungguhnyalah, semua itu telah memungkinkan suatu cara baru dalam membangun kota.

RCUS bermaksud memusatkan kerjanya pada kota-kota sebagai wilayah manusia yang merangkum kebanyakan, kalau bukan semua, persoalan masa kini dan masa depan manusia. Pada tahun 2007 dunia telah mencapai tingkat urbanisasi 50% karena terutama tingkat-tingkat urbanisasi tertinggi di kota-kota negeri sedang berkembang.
RCUS memandang keluar ke seluruh Asia Tenggara dan Timor Leste sebagai wilayah kerjanya, sementara mulai dengan berpijak kuat di Indonesia.

RCUS dibangun di atas pengalaman dan latar-belakang berbeda dari para pendirinya yang telah melakukan berbagai kegiatan penelitian, pembangunan kapasitas dan advokasi kebijakan secara tersebar di dalam dua dasawarsa terakhir, seringkali tanpa dukungan organisasi apa pun, karena mereka melakukannya sebagai “individu yang tidak terlembaga”, sebagai sukarelawan warga. Dalam perjalanannya, kami juga perlahan mengumpulkan dukungan yang tidak teratur, kadang dari orang perorang, kadang dari lembaga-lembaga. Para pendiri juga memiliki beberapa pengalaman profesional yang berhasil dalam bidang kepemerintahan yang baik, seni dan budaya, pusaka budaya, strategi pembangunanj, dan pembangunan kemabli pasca bencana (di Aceh).

Ketika kami belajar sambil berbuat, akhirnya kami sadar bahwa perubahan memerlukan rancangan langkah-langkah, skala dan kerjasama yang lebih besar, komitmen jangka panjang, daya tahan, dan karena itu peng-organisasi-an yang sungguh-sungguh. Kami berharap menggabungkan penelitian, pembangunan kapasitas dan advokasi kebijakan di bawah satu atap RCUS untuk membuat upaya kami lebih efektif.

Orientasi tetap kami adalah terus menerus memperluas kepemilikan perubahan lestari oleh warga, melalui prakarsa dan partisipasi aktifnya dalam membangun kota dan wilayah. Optimisme kami didasarkan pada pengalaman bertahun-tahun bertemu dan bekerja dengan makin banyak prakarsa bebas dan otonom warga di tingkat akar-rumput. Dalam semua kerja kami, kami ingin selalu membangun prasarana, ruang dan kebiasaan bagi prakarsa dan partisipasi warga, bukan sebagai produk-sampingan, tetapi sebagai tujuan itu sendiri. Kami mendudukan diri kami sebagai fasilitator agar beragam pemangku-kepentingan dapat melanjutkan pekerjaan yang dimulai bersama-sama.

Born on May 1, 2010, RCUS is founded to fill the gaps in the necessary process of transition into the ecological age. Our tag-line is “Towards sustainability of cities and regions”.

However, it must emphasised that by sustainability we mean not only surviving climate change and other ecological disasters, but also solving other urban problems that have predated our awareness about ecological problems. Nevertheless, we do believe that the awareness about ecology, and new production of knowledge that it sparked, have created a new perspective and opportunities for conceptualising our actions differently to solve those other outstanding urban problems such as poverty, justice, pluralism and diversity, etc. Indeed, they make possible a new way of building cities.

RCUS wishes to focus on cities as human territories that amalgamate most, if not all, of contemporary and future human problems. In 2007 the world has passed the irreversible 50% urbanisation rate, due mostly to the highest rates in cities of developing countries.
RCUS is looking out to the whole South East Asia and Timor Leste as it area of works, while starting firmly in Indonesia.

We are building on different experiences and backgrounds of RCUS’s co-founders who have been doing a multitude of research, capacity building and policy advocacy sporadically in the past two decades or so, often without any organisational support, as they did so as “non-institutionalised individuals”, as voluntary citizens. In the process we have gathered a lot of sporadic supports, too, sometime from individuals, sometime from institutions. They have successful proffesional working experiences in the fields of good governance, arts and culture, heritage, development strategy, and post-disaster reconstruction (in Aceh).

As we learned by doing, however, we realised that changes require designed steps, bigger magnitude and collaboration, long-term commitments, perseverence, and hence serious organising. We wish to combine research, capacity building and policy advocacy under one roof of RCUS to make our efforts more effective.

Our persistent orientation is towards ever expanding ownership of sustained changes by citizens, through their initiatives and active participation in city- and region-building. Our optimism is based on many years of encountering and working, at grass root levels, with growing number of citizens’s independent and autonomous initiatives. In all our works we wish to always build infrastructures, spaces, and habits for citizens’ initiatives and participation, not as by-products, but as the very goal itself. We envision ourselves as facilitators for multi-stakeholders to carry on works that we start together.

7 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


24 Apr 2010

Pluit Village: Berapa Hijaukah Pengembang Kita yang terkenal itu?

Gunawan Tanuwidjaja
(Dari milis Green Map Jakarta)
Beberapa saat yang lalu, diadakan Sustainable Jakarta Conference, yang memang merupakan upaya untuk membuat Jakarta lebih berkelanjutan.[1] Ada sebuah pengembang terkenal yang mengajukan konsep Green Master Plan. Tetapi mirisnya ternyata pengembang ini hanya menjual konsep “Green”-nya yang kosong dan tidak menerapkan dalam bisnisnya.

Pengembang tersebut terlibat dengan sebuah di proyek Kawasan Jakarta Utara, Pluit Village.
Ternyata pengembang ini tidak mempraktekkan “Green and Responsible Water Resource Management.”

Pertama, Pengembang diduga telah “menkonversi badan air menjadi komersial, helipad dan jalan internal (melanggar UU Tata Ruang no 26 tahun 2007 dan UU Sumber Daya Air no 7 tahun 2004)”. Selain itu pengembang ini diduga telah mengganggu sistem polder yang ada dengan menutup saluran air yang masuk ke dalam Danau Pluit dan meninggikan lansekap di sekitar Danau tsb. Sehingga terjadi genangan di kawasan perumahan di Utara dan Selatan. Sungguh pengembang ini diduga tidak memiliki “kesatuan kata dan perbuatan.”

Terbukti pada 2008 – 2010, Warga Pluit telah menikmati beberapa serangan “Rob.” Padahal tadinya warga sempat merasakan aman dari Banjir Besar 2007 karena Polder Pluit yang berjalan dengan baik.

Mungkin sebuah sentuhan baru yang ditawarkan oleh Pluit Village.[2] Dari tinggal di dalam polder seperti di Belanda, menjadi “tinggal di Venesia, Italia, (alias setengah terendam banjir ketika hujan atau pasang laut datang). Jadi konsepnya dengan pengembang biasa yang menjual promosi BEBAS BANJIR. Mungkin judulnya silahkan tinggal di kawasan yang PASTI BANJIR!

Kalau kami boleh mengutip sebuah kata-kata bijak “Janganlah memutarbalikkan KEADILAN, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. ” Kmemang mengakui bahwa pengembang ini mampu mengatasi segala birokrasi untuk mewujudkan keinginannya di atas. Tetapi apakah hal ini tidak berlawanan dengan cita-cita mulia dan pelayanan Bpk James Riady,[3] bos besar pengembang ini. Apakah memang halal untuk merusak sistem lingkungan orang lain demi kepentingan ekonomi semata-mata?

Jika ada pertanyaan atau tanggapan silahkan baca dulu artikel kami di website kami dengan link sbb:

http://greenimpactindo.wordpress.com/2010/04/24/challenges-in-creating-sustainable-urban-polder-in-developing-countries-case-study-development-of-pluit-polder-jakarta/

Atau dapat kontak lewat email saja gunteitb@yahoo.com atau telpon ke 0812 212 208 42.

Terimakasih
Gunawan Tanuwidjaja
Pemerhati Pluit

Pro: Kami juga minta dukungan semua pihak agar Sistem Polder Pluit bisa direvitalisasi, Dan 14 Pompa yang dibeli dan dikonstruksi oleh PU DKI Jakarta bisa dipakai untuk operasi Polder Pluit dengan perencanaan yang baik “bukan merusak sistem polder yang sudah ada.”

Footnote
1 – Mr Gordon Benton OBE, architect and urban planner, giving lecture `The future of urban development in Jakarta and role of private developer’ in Sustainable Jakarta Convention, http://www.sjconvention.com/Downloads/Sustainable%20Jakarta%20Seminar%20Speakers.pdf

2 - http://www.lippokarawaci.co.id/retailmalls/pluitvillage.aspx

3 - http://en.wikipedia.org/wiki/James_Riady
http://www.grii.org/
http://www.ladangtuhan.com/komunitas/jadwal-acara-gathering/seminar-ekonomi-antisipasi-krisis-global-bagi-indonesia/

No Comments »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


23 Apr 2010

Kaki Lima Kota dan Arsitektur

23 April – 2 MeiKami dari panitia HUT SKETSA,

Lomba Desain Konsep

Workshop (23,24,27 April 2010)

Lomba Fotografi (penjurian 28 April 2010)

Seminar Arsitektur (29 April 2010)

Pameran Arsitektur di eX (30 April-2 Mei 2010)
Talkshow: Fengshui dalam Arsitektur (2 Mei 2010 )

Launching: Public Expose jilid 1 (1 Mei 2010)

INFO:
Vincent (08978820856)Lydia (08170139193)

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |