Posts Tagged ‘inisiatif warga’


05 Feb 2010

Aksi Bersih Sampah Suaka Margasatwa Muara Angke, 7 Februari 2010

Dear Monsters,
Selamat Hari Lahan Basah Sedunia, 2 Februari 2010
“Caring for Wetlands, an Answer to Climate Change”

Dalam rangka menyambut Hari Lahan Basah Sedunia, Jakarta Green Monster kembali mengadakan acara Bersih Sampah Angke

Mari-mari gulung lengan bajumu untuk membersihkan sampah bersama
Jakarta Green Monster dan masyarakat lainnya,,,

Minggu, 7 Februari 2010
Lokasi: Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA)
pukul 08.00 – 12.00 WIB.

Apa saja yang harus dibawa??
1. Pakaian ganti
2. Botol Minuman (Panitia hanya menyediakan air minum isi ulang)
3. Sepatu/sepatu boot)
4. Makanan ringan

Untuk informasi dan pendaftaran peserta, hubungi:
Yulia Es Campur : 081314366870
Hendra ‘Kobe’ Aquan : 08157988053
Putri Ayusha : 085648177747

salam,
Putri Ayusha

Mengapa bersih sampah?

sampah-sampah yang mengalir masuk ke SMMA bisa menutupi akar mangroove
dan menyebabkan pohon2 tersebut mati,,,
SMMA merupakan rumah bagi 7 spesies mangroove, 91 spesies burung
seperti Bangau Bluwok, Kareo Padi, Pecuk Ular Asia, dsb, serta monyet
ekor panjang, dan lain sebagainya.

Kawasan ini juga menjadi tempat perlindungan bagi burung Bubut Jawa
(Centropus nigroforus) yang merupakan burung endemik Pulau Jawa. Saat
ini bubut Jawa berjumlah tidak lebih dari 10 ekor.

Jakarta yang merupakan hutan beton ternyata masih memiliki lahan basah
yang dihuni oleh berbagai jenis burung,,,tanpa lahan basah ini Jakarta
bisa lebih kebanjiran dan tenggelam air pasang

kosongkan jadwal mari-mari selamatkan lahan basah tersisa di Jakarta
dari tumpukan sampah

Bagaimana Menuju Suaka Margasatwa Muara Angke?

Menggunakan Kendaraan Umum

1. Busway
Naik busway Harmoni – Kalideres, turun di Halte Jelambar (samping
Citraland). Cari angkot berwarna merah nomer B 01 jurusan Grogol -
Angke. Turun di pintu gerbang Pantai Indah Kapuk. tepat di ujung Jl.
Muara Karang, ditandai dengan Pizza Hut dan apartemen. Jalan kaki
masuk ke Pantai Indah Kapuk, setelah menyeberang jembatan (sekitar 50
meter dari gerbang, di sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa
Muara Angke. Ikuti jalan setapak di seberang kompleks ruko Meditarania
Niaga, pintu masuk Suaka Margasatwa Muara Angke sekitar 300 meter dari
jembatan.

2. Bus dari Terminal Grogol
Naik kendaraan apa saja yang berhenti di Terminal Grogol. Cari angkot
berwarna merah nomer B 01 jurusan Grogol – Angke. Turun di pintu
gerbang Pantai Indah Kapuk. tepat di ujung Jl. Muara Karang, ditandai
dengan Pizza Hut dan apartemen. Jalan kaki masuk ke Pantai Indah
Kapuk, setelah menyeberang jembatan (sekitar 50 meter dari gerbang, di
sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa Muara Angke. Ikuti jalan
setapak di seberang kompleks ruko Meditarania Niaga, pintu masuk Suaka
Margasatwa Muara Angke sekitar 300 meter dari jembatan.

3. Bus dari Terminal Blok M
Naik bus Steady Safe Non AC No 37 Jurusan BLOK M – Muara Angke,
ongkosnya cukup Rp. 2000. Bus ini umumnya gak sampai Muara Angke
(sesuai info dari keneknya), tapi cuman sampai Megamall Pluit.
Dari Megamall Pluit dilanjutkan naik angkot dua kali, nomornya 11
warna merah, dengan ongkos Rp. 2000 turun di Jl Mandara. Dari situ
naik lagi angkot warna merah yang melewati kawasan Pantai Indah Kapuk
dengan ongkos Rp. 1000 turun di depan ruko Mediterania yang langsung
berseberangan dengan pintu masuk Suaka Margasatwa Muara Angke.

Menggunakan Kendaraan Pribadi Roda Empat atau Lebih

1. Melalui Tol Dalam Kota
Ambil pintu keluar Pluit. Ikuti jalan melintasi Mega Mall Pluit. Lurus
hingga masuk Jl. Muara Karang yang ditandai dengan perempatan dengan
jembatan. Ikuti terus sampai ujung Jl. Muara Karang, ditandai dengan
Pizza Hut dan apartemen. Belok ke kiri, masuk ke Pantai Indah Kapuk,
setelah menyeberang jembatan (sekitar 50 meter dari gerbang, di
sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa Muara Angke. Anda bisa
parkir di kompleks ruko Meditarania Niaga, persis di seberang pintu
masuk Suaka Margasatwa Muara Angke.

2. Melalui Tol Bandara
Ambil pintu keluar Pantai Indah Kapuk. Masuk dalam kompleks Pantai
Indah Kapuk. Ikuti jalan yang menuju Mediterania. Anda bisa parkir di
kompleks ruko Meditarania Niaga, persis di seberang pintu masuk Suaka
Margasatwa Muara Angke.

Menggunakan Motor atau Sepeda
Dari arah Grogol, masuk ke Jl. Jembatan Tiga, ikuti hingga Jl.
Jembatan Lima. Ikuti terus jalan utama sampai melewati Mega Mall
Pluit. Lurus hingga masuk Jl. Muara Karang yang ditandai dengan
perempatan dengan jembatan. Ikuti terus sampai ujung Jl. Muara Karang,
ditandai dengan Pizza Hut dan apartemen. Belok ke kiri, masuk ke
Pantai Indah Kapuk, setelah menyeberang jembatan (sekitar 50 meter
dari gerbang, di sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa Muara
Angke. Anda bisa parkir di kompleks ruko Meditarania Niaga, persis di
seberang pintu masuk Suaka Margasatwa Muara Angke.

Catatan:
Warga sekitar Suaka Margasatwa Muara Angke mengenalnya dengan nama
Cagar Alam. Jadi, jika Anda hendak bertanya, tanyakan di mana lokasi
cagar alam.

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: Jakarta Green Monster |


01 Feb 2010

Sampaikan Pandangan dan Harapan Anda atas Jakarta!

Tahukah Anda, saat ini nasib kota Jakarta 20 tahun ke depan sedang dipertaruhkan?

Kota bukanlah hanya sebagai tempat kita tinggal atau mencari nafkah, tapi juga tempat membesarkan anak-cucu, menuntut ilmu, menjalin pertemanan, berekreasi, dan beragam aktivitas lainnya.

Rancangan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2030, sebuah perencanaan yang menentukan wajah kota Jakarta dalam 20 tahun mendatang, saat ini sudah di tangan DPRD dan bisa disahkan sewaktu-waktu. Tapi sayangnya, rencana yang akan menentukan nasib warga tersebut justru disusun nyaris tanpa melibatkan warga.

Padahal sebagai warga kota, Anda tentu punya mimpi tentang masa depan kota Jakarta. Kota yang layak huni tidak hanya bagi orang dewasa yang aktif, tapi juga anak-anak, remaja, lansia, ibu-ibu, dan difabel.

Survei ini bertujuan untuk menggali aspirasi warga Jakarta dan komuter tentang masa depan kota Jakarta dalam 20 tahun mendatang. Survei ini dilakukan oleh dan dari warga, untuk masa depan kota Jakarta yang lebih baik.

Sampaikan aspirasi Anda sekarang. Perlu 1 juta suara terkumpul dalam waktu sesingkat-singkatnya untuk membuat perubahan berarti. Kini nasib kota ada di tangan Anda!

Ajaklah sebanyak-banyaknya anggota keluarga, tetangga, kerabat, teman, anak didik, dan kenalan Anda untuk mengisi survei ini.

Tertarik menjadi relawan surveyor? Hubungi Koalisi Warga untuk Jakarta 2030 melalui emailjakarta2030@gmail.com

Catatan:
Warga Jakarta = semua orang yang tinggal di Jakarta baik pemegang KTP Jakarta maupun tidak
Komuter = warga Bodetabek yang sehari-hari bekerja/bersekolah ke Jakarta

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |


19 Jan 2010

Undangan Seminar: “Sustainable Urbanism and Its Challenges to Civil Society.”

Hari/Tanggal : Jumat/5 Februari 2010
Pukul : 14:00
Tempat : Aula The Japan Foundation Jakarta

The Japan Foundation mengundang anda untuk hadir dalam acara Ceramah Kebudayaan yang akan diberikan oleh mantan ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta, bapak Marco Kusumawijaya.

Beliau baru saja kembali pada bulan Desember 2009, dari kunjungan dua bulannya ke Jepang atas undangan the Japan Foundation dan International House of Japan. Dari hasil kunjungan tersebut, beliau mendapatkan banyak tambahan pengetahuan dan wawasan yang menarik dalam bidang kebudayaan dan kesenian, yang hendak ia bagi kepada orang-orang di Indonesia.

Acara Ceramah Kebudayaan ini adalah untuk membagi hal-hal yang ia lihat dan dapatkan di Jepang, yang ia harapkan dapat menambah kaya wawasan kebudayaan di Indonesia

Hadir mendampingi beliau adalah dua orang pakar sebagai berikut:

  1. Dr. Bachtiar Alam, Antropolog dan Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Universitas Indonesia.
  2. Latipah Hendarti, Ph.D Students Ecological Economy, Department of Forest Sciences, Seoul National University.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Dipo di (021) 520 1266.

Tempat terbatas!

Profil Singkat Marco Kusumawijaya

Marco Kusumawijaya, Ketua Pengurus Harian  Dewan Kesenian Jakarta saat ini, adalah seorang arsitek yang juga aktif dalam bidang tata kota, pelestarian lingkungan hidup, seni, dan pembangunan berkelanjutan. Beliau diundang pada bulan September hingga November 2009 yang lalu ke Jepang, dalam Asia Leadership Fellow Program yang diselenggarakan oleh the Japan Foundation dan Intenational House of Japan.

1 Comment »

Topics: , , , , , , , , , , | Agent of Change: none |


07 Jan 2010

Public Expose Draft Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030

Warga Jakarta,

Pernahkah rekan-rekan membayangkan akan seperti apa Jakarta dalam 20 tahun mendatang ? Akankah Jakarta memiliki jalur sepeda dan jalur pejalan kaki yang aman dan nyaman? Akankah kemacetan menjadi hal yang tidak lagi dihadapi warga Jakarta? Masihkah kita menghadapi masalah banjir dan sampah? Akankah banyak tersedia ruang terbuka hijau untuk anak-anak bermain serta fasilitas lapangan olahraga bagi warga kota? Masih akan adakah lahan yang diperuntukan sebagai permukiman? Lalu, bagaimana dengan nasib gedung-gedung bersejarah dan museum-museum di Jakarta?

Saat ini Pemprov DKI Jakarta sedang mengupayakan diterbitkannya Perda mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2030. Peraturan ini nantinya akan sangat menentukan kualitas kehidupan warga kota Jakarta dalam 20 tahun ke depan. Namun sayangnya, dalam proses perancangan RTRW Jakarta 2030, Pemprov nyaris tidak melibatkan partisipasi warga kota itu sendiri.

Jika rancangan RTRW Jakarta 2030 sama sekali tidak menampung aspirasi warga kota yang perikehidupannya sangat tergantung pada daya dukung kota, akankah Jakarta menjadi sebuah kota yang nyaman untuk dihuni?

Sekelompok warga yang menamakan dirinya ‘Koalisi Warga untuk Jakarta 2030’  mengundang Warga Jakarta untuk bergabung di dalam koalisi tersebut dan hadir di acara pertemuan yang akan membahas masa depan warga kota Jakarta hingga tahun 2030. Koalisi ini juga akan mendorong Pemprov DKI untuk membuka diri bagi aspirasi warga kota dan mendukung sebuah proses perancangan RTRW yang partisipatif.

Ini merupakan momen yang tepat bagi seluruh warga kota Jakarta untuk berkolaborasi & bersinergi demi menentukan masa depan bersama.

Acara ini akan diselenggarakan pada:

Hari/ Tanggal     : Kamis/ 7 Januari 2010
Waktu                : pk. 12.00 – 15.00 WIB (diawali dengan makan siang)
Lokasi               : R. Pelatihan Jurusan Perencanaan Kota dan Real Estat (Planologi), Fakultas Teknik

Kampus I Untar Gedung L Lantai 4

Jl Letjen S. Parman No. 1 Grogol, Jakarta Barat

Sebagai info, rancangan RTRW Jakarta 2030 bisa diunduh di: http://koalisijakarta2030.wordpress.com

Acara ini terbuka bukan hanya bagi warga Jakarta, namun juga warga Bodetabek.

Info lebih lanjut hubungi Elisa di 0816 913260 esutanudjaja@gmail.com

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


28 Dec 2009

Sayembara Prakarsa Mayarakat untuk Kota Lestari

Forum Hijau Bandung, salah satu pemenang sayembara Prakarsa Masyarakat untuk Kota Lestari, bersama dua anggota dewan juri, Yuyun Ismawaty (pemenang Goldman Prize untuk lingkungan, 2009), dan Marco Kusumawijaya, editor Rujak.org

Forum Hijau Bandung, salah satu pemenang sayembara Prakarsa Masyarakat untuk Kota Lestari, bersama dua anggota dewan juri, Yuyun Ismawaty (pemenang Goldman Prize untuk lingkungan, 2009), dan Marco Kusumawijaya, editor Rujak.org. Foto: Tripod, Forum Hijau Bandung, 21 Desember 2009

Prakarsa Masyarakat untuk Kota Lestari adalah sayembara yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Tata Ruang, Departemen Pekerjaan Umum, bekerja sama dengan Kelompok Kerja Kota Lestari yang sebagian anggotanya adalah pendiri rujak.org. Tanggal 21 Desember 2009 Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, menyerahkan piagam dan plakat kepada enam pemenang dari seluruh 46 proposal yang diajukan.

Seluruh proposal yang diajukan dapat dibaca disini.

Karena keterbatasan kemampuan, dewan juri hanya memilih enam pemenang (bukan juara). Tetapi, sebenarnya semua proposal yang diajukan layak mendapat dukungan. Karena itu rujak.org memuat semuanya. Silakan membantu menyebarkan semua prakarsa ini untuk mendapat dukungan dari siapa saja yang berminat.

Para pemenang tidak mendapatkan hadiah langsung; tetapi dijanjikan akan mendapat dukungan dana untuk melaksanakan prakarsa yang telah diusulkannya dalam tahun anggaran 2010 nanti. Bila ini terlaksana, maka boleh jadi inilah pertama kalinya prakarsa masyarakat yang diusulkan secara terbuka melalui sayembara mendapatkan dukungan pendanaan langsung dari pemerintah pusat.

Para pemenang adalah (urutan tidak mencerminkan tingkat kejuaraan. Tidak ada juara, hanya pemenang):

1. Judul: Noto Tuladha Resik Ingkang Morokrembangan, Usulan
Penataan Kawasan dengan Pendekatan Lokal oleh Gabungan
Mahasiswa Peduli Rakyat
Pemrakarsa : Barefoot Architect-ITS Surabaya, dan kawan-kawan
Lokasi : Permukiman Kawasan Boezem Morokrembangan, Surabaya Utara

2. Judul : Menciptakan Masyarakat Kampung Code Utara Berdaya
dengan Optimasi Komunitas Warga
Pemrakarsa : Bapak Ariyanto dan kawan-kawan
Lokasi : Kampung Code Utara RT 01/RW 01 Kotabaru, Yogyakarta

3. Judul : Penataan Bantaran Sungai Berbasis Masyarakat (Pbs-Bermas)
Pemrakarsa : Tim dari Prodi Arsitektur Universitas Teknologi Yogyakarta yaitu
Endy Marlina ST, MT, dan kawan-kawan
Lokasi : Kelurahan Cokrodingratan dan Kelurahan Terban, Kecamatan Jetis

4. Judul : Pengelolaan dan Pembinaan Kebun Bibit Pohon Oleh Siswa
Sekolah Dasar di Kota Bengkulu dalam Rangka Penghijauan
Kawasan Non Hutan di Kota Bengkulu
Pemrakarsa : Bowo Tamtulistio, SP, dan kawan-kawan
Lokasi : Kota Bengkulu

5. Judul: Memperkuat Pendekatan Partisipatif Dalam Penataan dan
Pengelolaan Kanal “Sungai Jawi” Kota Pontianak
Pemrakarsa : Palang Merah Indonesia (PMI) Daerah Kalimantan Barat
Lokasi : Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat

6. Judul: Kolaborasi Antar Partisipan Forum Hijau Bandung menuju
Kota Lestari
(Penerapan 3 Program Kolaborasi: Peta Hijau Persampahan,
Eco-Hotel Rating, dan Masuk RT)
Pemrakarsa : Irmansjah Madewa (Penasehat Forum Hijau Bandung) dan kawankawan
Lokasi : Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat

Penggagas sayembara ini, yaitu Direktorat Jenderal Penataaan Ruang, Departemen PU, dan Kelompok Kerja Kota Lestari, mengganggap penting mendorong prakarsa dari masyarakat dalam rangka transisi menuju kota lestari. Sebab, pada akhirnya perubahan harus terjadi pada tingkat komitmen pribadi, baik secara individual maupun secara berkomunitas, sehingga kepemilikan masyarakat atas perubahan penting dibangkitkan melalui prakarsa aktif.

Kelompok Kerja Kota Lestari adalah kelompok prakarsa terbuka yang terdiri dari antara lain Elisa Sutanudjaja (dosen Universitas Pelita Harapan, editor rujak.org), Nana Firman (campaigner WWF), Yuli Kusworo (arsitek), Armely Meiviana (editor Freetodecide.org, pendiri Green Lifestyle), Shanty Syahril (pekerja lingkungan, pendiri freetodecide.org, pendiri Green Lifestyle dan koordinator Rumah Bersama), Suryono Herlambang (Ketua Jurusan Perencanaan Kota dan Pengembangan Real Estat, Universitas Tarumanagara), Andrea Fitrianto (aritek pada Uurban Poor Consortium), dan Marco Kusumawijaya.

Dewan Juri terdiri dari Deni Ruchyat (Sekretaris Ditjen Tata Ruang, Departemen PU), Yuyun Ismawaty (direktur Bali Fokus, pemenang Goldman Prize untuk lingkungan, 2009) dan Marco Kusumawijaya (Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta, editor rujak.org).

6 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: GreenLifeStyle Rumah Bersama |


28 Nov 2009

Kiat Konyol Gaya Hidup Hijau

kiat
Background

To continue the success of ‘350. berani?!’ (‘350. Dare?!’) campaign, The Climate Project Indonesia and 89.2 FM Green Radio has just started a new campaign together with kompas.com, Gramedia Book Store, and the Body Shop Indonesia. We call the campaign “Silly Green Things for the Earth” in English or “Kiat Konyol Gaya Hidup Hijau” in Indonesian (The back translation of the Indonesian tittle is “Silly Tips for a Green Lifestyle”).

Along with the executions of AIT presentations and  ”350. Dare?!” campaign, TCPI presenters found that many of the participants already had or implemented a green lifestyle. Sometimes, they do it, without even recognising it. Now that we have done our ‘initial’ awareness activities, we would also like to recognise people’s efforts and habits towards a green lifestyle.

We hear a lot about the tips towards a greener lifestyle, in paper, audio visual, and electronic media… They are everywhere. But, no one has ever done it in a silly way… This is when the ‘Silly Green Things” idea was born.

Format

We ask people to make a confession. A silly confession, on what they do in their everyday life to cause less damage to the Earth. For each confession, we add the facts that support their confession.

Kompas Newspaper, as the largest distributed and read Indonesian newspaper participate in this program through its online version kompas.com. All the confessions and facts are listed in the sub-page of their special edition ”Green Journey”.

Green radio will also use these confessions as “ad lips”. They will read the confessions in their radio programs.

Link to “Silly Green Things” Page: http://www.kompas.com/lipsus112009/gjgayakonyol


Period

16 Nov – 19 December 2009

Prices will be given a week after the program ends.


Participation

To participate, readers can simply use the form at the bottom of the page. Their confessions will then be filtered, edited, while TCPI team will find the supported facts.

The readers’ confession will enter a competition. 15 winners will get the prices from Gramedia Bookshop and The Body Shop.

Although kompas.com is an Indonesian portal, we are allowed to use 2 languages. Indonesian and English.


For those who are interested in writing their confession in English, please send e-mail to info@tcpindonesia.org and cc to akniode@yahoo.com, arif@hasyim.org, and nhadad@indonesia.bicusa.org

In the email, please mention:

Your complete name, your age (optional, for statistics use), Mobile number (optional, but we want to be in touch with you!), Profession (your profession, and your type of business, example, ‘director of an international renewable energy company in Indonesia), e-mail address, and your confession (up to 1,000 characters)

3 Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


18 Nov 2009

Angin Pembaharu di Pecha Kucha Jakarta

Para Pembicara Pecha Kucha Jakarta

Para Pembicara Pecha Kucha Jakarta (www.maverick.co.id)

14 komunitas dan individu berupaya memberikan inspirasi bagi orang lain, dengan menghadirkan alternative pemikiran, gaya hidup dan pandangan. Setidaknya itu yang berupaya digaungkan dalam Pecha Kucha Jakarta dengan tema Agents of Change. Sekilas info, Pecha Kucha adalah ajang pertemuan dan presentasi antar desainer dan pemikir kreatif bermula dari Jepang di tahun 2003 dengan penggagas Astrid Klein dan Mark Dytham. Berbeda dengan presentasi konvensional, maka Pecha Kucha menggunakan format 20/20: 20 slide presentasi dengan masing-masing side dipasang selama 20 detik, sehingga total waktu presentasi per orang menjadi 6 menit 40 detik. Jakarta adalah kota ke 177 di dunia yang menyelenggarakan ajang Pecha Kucha.

Berbeda dengan kota-kota lain, Pecha Kucha Jakarta menghadirkan tak melulu hanya isu desain, tetapi juga merangkul banyak komunitas diluar desain, seperti Komunitas Sepeda Tua, Lembaga Warkop Indonesia, Bunga Matahari Poetry Readings, Green Lifestyle hingga Rujak. Isu-isu yang dihadirkan akrab dengan kekinian dan kehidupan metropolis Jakarta sendiri.

Malam Pecha Kucha keempat dengan tema Agents of Change tersebut berlangsung di Rasuna Epicentrum dan menjadi salah satu rangkaian acara British Council: Global Entrepreneurship Week. Kali ini 14 presenter menyajikan mengapa mereka pantas menjadi ‘agen pembaharu’, yaitu memiliki kepedulian dan menfokuskan diri untuk mendorong terjadinya perubahan positif bagi lingkungannya. Dari masalah sampah hingga manajemen air, media hingga sepeda, angklung hingga pedagogi, itulah ragam isu yang diangkat.

Greenlifestyle, Telapak dan The Climate Project Indonesia misalnya sama-sama mengangkat isu pemanasan global sebagai titik mula gerakan, namun memiliki pandangan dan pendekatan yang berbeda dengan tujuan yang sama. Sementara Spare for Share dan XS Project menyikapi masalah sampah dan peluang dibaliknya: jika yang satu melihat dari sisi membagi dengan sesame sementara XS Project mencoba merubah sampah menjadi produk kreatif melalui teknik desain produk.

Bina Antar Budaya dibawah bendera AFS dan Creative Education mencoba menghadirkan alternatif dalam pendidikan dan pengajaran. Sementara Bike To Work dengan berapi-api memperkenalkan komunitas mereka. Perhatian akan kemiskinan ditunjukkan oleh karya dan kontribusi dari Red Nose Circus dan Water Sanitation Action. Ajang kaum muda juga menarik perhatian disini, dengan upaya-upaya yang dilakukan menjelang Indonesian Youth Conference , sementara Saung Angklung dalam upayanya untuk tetap berada dalam kehidupan masyarakat moderen. Sementara Rujak memperkenalkan akan pentingnya partisipasi, inisatif dan prakarsa masyarakat, dengan menjadikan situs Rujak sebagai melting pot antara komunitas dan masyarakat dalam menuju Jakarta yang lebih baik.

Aspiratif, itulah yang ditangkap dari presentasi beragam. Forum ini membuka banyak kemungkinan, juga memberikan kesempatan bagi komunitas untuk memperkenalkan program kepada masyarakat dan komunitas lain.

1 Comment »

Topics: , | Agent of Change: none |


25 Oct 2009

Daur-Ulang Sampah dengan Peran Aktif Warga di Nagoya

Warga berperan Aktif memilah dan membawa sampahnya ke tempat pengumpulan.

Warga berperan Aktif memilah dan membawa sampahnya ke tempat pengumpulan.

39 ton dari total 107 ton “sampah” kota Nagoya per hari didaur ulang. Ini pada tahun 2006. Pada tahun 1998, hanya 14 ton dari total 114 ton per hari yang didaur ulang.

Perubahan besar terjadi pada tahun 1999, ketika rencana kota mengubah hamparan lahan basah (wetland), yang menjadi tempat singgah burung berpindah, menjadi Tempat Pembuangan Akhir ditolak Kementerian Lingkungan Hidup Jepang. Maka terjadi krisis.

Tetapi, Kota Nagoya menjawab krisis dengan melirik kepada alternatif daur ulang yang telah dirintis suami isteri Hagiwara sejak tahun 1980, ketika Pak Hagiwara berusia 27 tahun, melalui Perkumpulan Gerakan Daur Ulang Chubu. Pada tahun 1980an, ekonomi Jepang sedang mencapai puncaknya dengan pasar baru non-Amerika terbuka. Konsumsi meningkat. Begitu juga sampah. Pak Hagiwara yang ketika itu sudah bekerja sebagai salary man tergugah, merasakan ada yang tidak beres. Ia keluar dari pekerjaannya, dan merintis Chubu. Seperti banyak orang Jepang ketika merintis banyak hal, mereka turun ke jalan dalam arti harafiah memperkenalkan kegiatannya.

Pada tahun 2008, Chubu mengelola sejumlah 3700 ton bahan daur-ulang. Ia mengurus 46 stasiun pengumpulan. Sekitar 5,000 keluarga datang dua minggu sekali ke tempat-tempat ini menyerahkan “sampah”nya. Umumnya sudah dipilah secara garis besar: kertas, botol, kaleng, tekstil, keramik, dan lain-lain. Para sukarelawan memilah lebih lanjut: berbagai macam botol dipilah menurut warnanya, juga botol yang dapat dikembalikan ke produser (misalnya coca-cola) dipisahkan tersendiri. Sistem ini bertumpu pada peran aktif warga. Bahan-bahan daur-ulang yang telah dipisah kemudian dijemput oleh para pembeli (pemilik pabrik daur ulang).

Chubu mengurus sekitar 26 prosen dari total 14,235 ton per tahun bahan daur ulang Kota Nagoya. Sisanya dikelola berbagai pihak lain dan pemerintah dengan mencontoh sistem dari sumi-isteri Hagiwara. Pada kasus sampah tekstil: 30 persen menjadi bahan pengisi bantal dan tempat duduk/sandaran, 30 prosen lain menjadi bahan pengepel, 30 prosen lain lagi dijual di pasar barang bekas, dan hanya 10 prosen yang harus dibuang.

Total sampah Kota Nagoya hampir stabil atau turun sedikit selama 30 tahun terakhir , dengan jumlah penduduk stabil dan jumlah keluarga meningkat (dengan rata-rata jumlah anggota per keluarga mengecil). Tetapi residu sampah yang benar-benar harus dibuang menurun drastis dari 100 ton/hari pada tahun 1998 menjadi hanya 68 ton per hari pada tahun 2006. Ini menunda krisis pembuangan sampah akhir setidaknya sampai beberapa tahun lagi sejak sekarang. Setelah itu? Sangat tergantung pada seberapa banyak total sampah yang dapat didaur-ulang, dan seberapa banyak sisa (residu) yang dapat dikurangi.

Pak Hagiwara adalah juga pemrakarsa Peta Hijau di Nagoya.

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


30 Jul 2009

Cohousing: Inisiatif Warga Jakarta untuk Membangun Perumahan Ramah Lingkungan

4_Anggota Komunitas Rumah Bersama modified

Oleh Armely Meiviana.

Ada ratusan kawasan permukiman yang tersedia di Jakarta dan sekitarnya, mulai dari rumah sederhana hingga rumah mewah. Semuanya menawarkan berbagai kelebihan, seperti harga murah, lokasi strategis dekat tol, bebas banjir, desain mengikuti bentuk rumah di Eropa atau AS. Belum lagi fasilitas olahraga dan rekreasi keluarga,  fasilitas perkantoran, sekolah, rumah sakit serta pusat perbelanjaan yang mudah dijangkau. Belakangan pasar properti bahkan diramaikan oleh proyek hunian baru yang mengklaim dirinya berwawasan lingkungan.

Lalu apa yang kurang? Apa yang membuat sekelompok warga Jakarta yang menamakan diri Komunitas Rumah Bersama, berupaya untuk mengembangkan konsep cohousing, jenis permukiman yang didesain oleh komunitas? (more…)

3 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


30 Jul 2009

Ruang Keluarga Jakarta

Suatu ketika di kantor camat, tanggal 30 Juli 2009 pukul 15.30 WIB. Dimanakah sebaiknya anda mengantri untuk mendapatkan pelayanan? Didalam atau diluar?

Suatu ketika di kantor camat, tanggal 30 Juli 2009 pukul 15.30 WIB. Dimanakah sebaiknya anda mengantri untuk mendapatkan pelayanan? Didalam atau diluar?

Rasa frustasi saya jika pergi ke kantor pemerintah sudah dimulai sejak 12 tahun lalu,  ketika harus berurusan dengan Dinas Tata Kota (sekarang Dinas Tata Ruang). Saat itu tidak ada petunjuk yang jelas, arahan yang diberi orang sekitar tidak jelas, dan didalam pun tidak tahu berurusan dengan pihak yang benar atau oknum. Dan itu semua demi secarik dua carik lembar rancang kota.

Sama lagi ketika saya harus mencari statistik kehidupan beragama di Jakarta, kemana saya bisa pergi? Yang jelas bukan Departemen Agama? Dan bukan juta Biro Pusat Statistik. Atau jika ingin melihat foto dan peta Jakarta jaman kolonial, kemanakah kita pergi?

(more…)

6 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |