Rujak Center for Urban Studies, bekerja sama dengan Urban Poor Consortium dan Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya menyelenggarakan sayembara terbatas desain penataan Kawasan Stren Kali Surabaya.
Posts Tagged ‘ruang tinggal’
01 Jul 2010
Ruang untuk Budaya Rakyat
Oleh Jo Santoso: Pertama adalah bahwa budaya hanya bisa berkembang, atau dikembangkan kalau “Lebensraum” yang diperlukannya tersedia.Tidak ada budaya bisa berkembang tanpa keterikatan pada tempat atau teritori/ruang dalam arti fisik. Proses perkembangan budaya terjadi di
sebuah tempat dan dilakukan secara bersama oleh sejumlah kelompok masyarakat.
Jadi kalau kita bicara tentang budaya urban yang tradisional, yang non-feodal, maka selama ini kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta tidak pernah memberikan tempat yang memungkinkan perkembangan semacam itu bisa berlangsungi. Memang kita tidak seburuk Singapura yang membabat habis perkampungan tradisional mereka, dan sekarang secara budaya mati suri, tetapi kitapun tidak pernah secara sadar memberikan ruang bagi munculnya sebuah budaya urban yang berbasis pada pola kehidupan masyarakat kita. Budaya kota yang unggul baru bisa (suatu hari) muncul kalau kita juga menyediakan ruang hidup bagi budaya urban untuk semua lapisan masyarakat, terutama untuk rakyat biasa. Karena kalau budaya rakyatnya tidak bisa berkembang, karena digusur habis seperti di Singapura, sekolah tinggi seni sebanyak apapun tidak bisa menggantikan. Kalau tidak ada budaya rakyat, budaya tinggipun tidak bisa muncul.
Lihat juga Ruang Khalayak dan Kebudayaan serta City Life, from Jakarta to Dakar dan Jakarta Utara
15 Sep 2009
Apa arti rumah?

Apakah definisi rumah? Apakah itu berarti sebuah bangunan dengan alamat yang tertera dalam KTP masing-masing? Atau sebuah tempat dimana kita menghabiskan sebagian besar waktu, entah itu tidur atau bermain? Atau tempat yang penuh dengan memori dan keluarga? Atau hanya tempat kita tidur, dan esok pagi bertolak pergi ke tempat lain?
Apakah berarti tempat yang kita kunjungi satu tahun sekali setiap libur raya?
Mari renungkan arti rumah? Munkinkah rumah tak hanya lagi berarti kelompok-kelompok ruang yang terdiri atas ruang tidur, ruang keluarga dan ruang makan? Toh cafe, lounge, restaurant mampu menjadi pengganti ruang-ruang itu?
Sementara ada warga-warga yang menghabiskan waktunya di kota lain yang bukan domisilinya, seperti hasil survey disini. Apakah dengan demikian rumahnya adalah tempat dia menghabiskan banyak waktu?
Jakarta pun demikian. Kota yang pada malam hari berjumlah sekitar 8 juta penduduk, sedangkan siang harinya hampir berlipat ganda. Kota dimana warganya dapat tinggal berdampingan dengan kereta api disaat bersamaan ada yang berdomisili di kaki langit. Ada juga yang terus mendeskripsikan ruang-ruang tinggal itu, seperti eksplorasi arsitek-arsitek muda ini. Lalu bagaimana dengan anda?
Apakah rumah itu?

Foto oleh Dita Wisnuwardani
15 Sep 2009
Ketika Ruang Tinggal Dipertanyakan
Melalui utopia arsitektur berhenti sebagai proyek rancangan pesanan individual. Ia ingin berpikir ‘menyempurnakan’ masa depan semua. Ia menjadi pemikiran. Ia menjadi alat kolektif membincangkan ideal bersama. Karena kota menjadi obyek yang tepat. Pada ruang kota, arsitektur berhenti menjadi alat pesanan pribadi, sebab ia harus menjadi alat kolektif (Marco Kusumawijaya, 2009)
Setidaknya kalimat diatas berulang kali dikutip, mulai dari undangan hingga pada saat pembukaan Pameran Workshop Arsitek Muda Indonesia yang bertajuk Ruang Tinggal dalam Kota. Pemikiran utopis inilah yang menjadi dasar materi pameran yang mempertanyakan ruang tinggal. Di saat ruang tinggal ditempatkan dalam kota, maka arti kata ruang tinggal tersebut bisa terdekonstruksi, berevolusi dan memiliki makna lain menjadi lebih dari sekadar bangunan di alamat KTP.
Ada banyak hal yang tersirat dan tersurat dalam 14 hasil workshop. Mereka berangkat dari fenomena, derita, kekinian, peluang, persepsi, definisi akan tinggal didalam kota. Tema akan kota dan ruang tinggal begitu dekat dalam keseharian. Di tangan para arsitek muda dan mahasiswa arsitektur, 14 proposal itu menjadi usulan yang unik, berani, sedikit naïf, penuh mimpi, idealis dan bersemangat. Namun bukankah itu yang diharapkan dari generasi penerus bangsa?
Kenyataan bahwa Jakarta adalah kota kontemporer menjadikan Jakarta sebagai isu favorit dalam workshop ini. Kekontemporeran Jakarta menjadi kota dan warganya yang selalu bergerak. Jakarta seakan meradikalkan mobilitas warganya, entah secara visual maupun fisik. Itulah yang menjadi isu proposal seperti: Mobile House, diDedikasikan untuk Komuter, metabolism of Jakarta city, ruang mimpi, dan ruang.waktu.tinggal.
Dua proposal pertama berkutat pada masalah waktu tempuh dari dan ke rumah tinggal. Mobile House pada akhirnya menyediakan struktur-struktur utama di berbagai penjuru Jakarta, sebagai sarang rumah-rumah untuk bermetabolis dan tinggal – memungkinkan rumah tersebut untuk berpindah tempat sesuai dengan kebutuhan. Seperti layaknya apartemen-apartemen di tengah kota, Mobile House mendekatkan jarak penghuni ke tempat aktivitas, hanya si penghuni dan unitnya dengan mudah berpindah tempat ke antero kota. Sementara diDedikasikan untuk Komuter adalah upaya untuk mengembalikan para komuter ke dalam kota dengan menempati ruang yang memang selama ini mereka tempati sepanjang perjalanan, yaitu Jalan Tol Dalam Kota. Proposal ini menggugat keberadaan jalan tol dalam kota yang tentu saja berlawanan dengan prinsip transportasi publik. Dan disaat bersamaan iapun menggugat kediaman (mobil) akibat macet di jalan tol, sehingga dalam kediaman adalah gerak itu sendiri. Mobil dianggap sebagai home in homelessness untuk jangka waktu tertentu di jalan tol itu.
Pergerakan dan mobilitas dapat dilihat juga seperti sistem metabolisme dalam tubuh manusia, setidaknya itu yang diutarakan oleh kelompok metabolism of Jakarta city. Didalam tubuh (kota) yang sehat, tentunya memerlukan aliran (pergerakan) yang sehat pula. Proposal ini seakan berupaya untuk menghilangkan kadar kolesterol dalam darah, seperti halnya mencoba menyehatkan pergerakan dan sistem yang terjadi dalam daerah Blok M.
Benturan antara pergerakan semu dan kediaman absurb muncul pada proposal ruang mimpi. Pergerakan yang muncul dari indahnya magnet kota, namun disaat bersamaan menyaring calon warganya, hingga terpaksalah warga menempati no-man’s land, dalam hal ini pinggir rel kereta api. Menjadikan kediaman tersebut sewaktu-waktu bisa digugat, tergusur dan berpindah ke tempat lain.
Ruang-ruang kota marjinal tak hanya berhenti sebatas pinggir rel kereta api, tapi bisa juga kolong jembatan dan bantaran kali. Bahkan untuk konteks kota Jakarta, jalur pejalan kaki pun menjadi ruang tak bertuan, seperti banyak yang terjadi di balik gedung-gedung kantor. Proposal ruang bayangan melihat ruang-ruang tersebut sebagai peluang yang dapat dikembangkan menjadi serial ruang tinggal.
Sementara ide akan kota sebagai hidup nomaden muncul dalam proposal ruang.waktu.tinggal. Dalam hal ini, hidup nomad adalah intermezzo. Mereka percaya bahwa ruang tinggal adalah segala sesuatu yang memiliki waktu kebersamaan dengan seseorang dalam kurun waktu tertentu. Berangkat dari konsep film The Terminal, berubah menjadi konsep arsitektural paradoks nomadisme, menjadikan waktu sebagai penentu desain, bukannya klien ataupun kebutuhan ruang. Seakan waktu yang dijual, dan kemudian dikemas dalam bentuk ruang.
Berlawanan dengan gugatan terhadap gaya hidup nomad, proposal ruang kembali justru memperlihatkan konsep kota dan ruang tinggal di masa lampau. Ruang tinggal kembali menjadi kediaman dalam arti sesungguhnya, yaitu sebagai rumah, tempat untuk berhenti total dari pergerakan – menjadi tempat untuk pulang.
Isu-isu populer seperti keberlanjutan (sustainability) pun muncul dalam beberapa proposal, seperti Tropical Capsule Bungalow, Linear City dan nenek moyangku seorang pelaut. Tropical Capsule Bungalow berangkat dari isu pembangunan di Bali yang cenderung merusak alam, maka dari situ lahirlah ide bungalow dengan bahan sampah daur ulang dan kemudian ditempatkan di lokasi terbengkalai sudut kota. Sementara Linear City berangkat dari konsep abad 19 akhir dengan nama yang sama. Proposal tersebut berusaha untuk mengkompakkan area Kuningan disepanjang jalan, dan lalu merelokasikan area-area lain di belakangan jalan Kuningan hingga berubah menjadi area konservasi dan preservasi. Tentu pembentukan dan luasan bangunan disepanjang Kuningan serta perbandingan lahan memakai perhitungan jejak kaki ekologis. Kenyataan akan perubahan iklim, buruknya lingkungan dan kerap rutinnya banjir melanda Jakarta, mendasari proposal nenek moyangku seorang pelaut. Dengan demikian, diharapkan warga Jakarta di masa mendatang mampu adaptif terhadap bencana yang kini menjadi rutinitas.
Kota Bandung turut menjadi inspirasi, terutama bagi 2 proposal yang berasal dari Bandung yaitu kota skala kita dan fashion, Bandung, arsitektur. Keduanya mengambil lokasi sama yaitu di Dago, namun berangkat dari pemahaman yang berbeda. Proposal pertama berupaya mengembalikan skala kota di sepanjang jalan Dago kepada manusia, dengan memberikan kekayaan dan kuasa ruang terhadap pejalan kaki. Kota skala kita melakukan pemisahan yang jelas dan mutlak antara pejalan kaki dan bukan. Sementara proposal kedua: fashion, Bandung, arsitektur, mencoba menarik benang merah antara mode dan arsitektur dengan mempertanyakan kemungkinan deskripsi ruang tinggal sebagai elemen (aksesoris) dalam kota. Aksesoris dalam busana terkadang bisa menjadi pelengkap pakaian bahkan penyatu, seperti halnya dengan menempatkan ruang-ruang kecil dengan tepat pada titik-titik kota tertentu. Mungkin sejalan dengan idealisme Coco Chanel: Fashion is no something that exists in dresses only. Fashion is in the sky, in th street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening.
Dua proposal lain membahas keintiman antara tubuh dalam ruang. Blackout Architecture menggali akan kemungkinan jika perencanaan ruang tidak bergantung pada indera penglihatan. Bagaimana jika para perencana kota dan arsitek mulai juga memperhatikan indera-indera lain dalam merencanakan ruang. Blackout Architecture hadir dengan instalasi yang diharapkan mampu memberikan stimuli dan kepekaan indera. Rumah ini tidak untuk dijual, berangkat dari personalisasi rumah berdasar pemiliknya. Proposal ini seakan menjadi kritik terhadap tendensi komersialisasi, standarisasi dan industrialisasi rumah lewat produk developer.
Dan ruang tinggal pun beragam dan menggelitik. Ada beberapa hal yang menarik dari 14 proposal ini. Waktu menjadi krusial, karena dalam ruang tinggal unsur waktu sangat erat. Penolakan akan ruang-ruang yang steril dan tidak unik pun terjadi. Ada yang memperhatikan kaum marjinal kota dan ada pula yang bermimpi ‘hijau lestari’. Lalu bagaimana pemahaman anda terhadap ruang tinggal? Apa arti ruang tinggal bagi anda?
Pameran Workshop AMI 9-19 September 2009
Galeri Komunitas Salihara
Jalan Salihara No. 16
Pasar Minggu – Jakarta Selatan
Foto oleh Dita Wisnuwardani dan Kezia Paramita
Trailer Final AMI Ruang Tinggal Dalam Kota from wagionobustami on Vimeo.
allowscriptaccess=”always” allowfullscreen=”true”>
Trailer AMI Ruang Tinggal Dalam Kota from wagionobustami on Vimeo.
15 Sep 2009
Berpolitik di Ruang Tinggal dan Kota

Membelakangi lensa: Bapak Hari Sasongko, Kepala Dinas Pengawasan Mendirikan Bangunan
Kota bagi seorang Hannah Arendt bukanlah sekadar benda arsitektural, melainkan ‘ruang’ yang memungkinkan keadaban public (public civility). Sementara idealisme Aristoteles menyatakan bahwa kota adalah komunitas hidup bersama, sehingga mungkin bisa juga dikatakan jika kota itu adalah realitas sosial yang menspasial atau meruang. Karena ia merupakan suatu bentuk sosial yang muncul dari interaksi warganya, maka ia tidak bisa direncanakan; dan kalaupun di’skenario’kan oleh perencana kota, maka interaksi sosial tersebut mampu mebawa spasialitas kota kearah berlawanan. (more…)














