Tulisan oleh Andi Sahcrul dan Elisa Sutanudjaja
Sejak tanggal 12 Desember 2018 hingga 5 Januari 2019, Rujak Center for Urban Studies bekerja sama dengan FES Indonesia dan Museum MH Thamrin, mengadakan pameran Ini Kampung yang mengangkat narasi kampung kota Jakarta. Pameran tersebut juga merupakan hasil kerja sama dengan Jaringan Rakyat Miskin Kota Jakarta, Urban Poor Consortium, Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Indonesia, Komunitas Bambu dan Arsitektur Swadaya dan Fasilitasi (ASF) Indonesia.
Adapun isi pameran tersebut adalah tentang sejarah perkampungan yang ada di Jakarta, dengan mengambil sekeping kisah di era Batavia 1930 hingga sekarang. Pameran Ini Kampung berlokasi di halaman Museum MH Thamrin. Bangunan museum itu dulunya adalah tempat pergerakan MH Thamrin bersama dengan rekan-rekannya dalam salah satu bagian dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. MH Thamrin juga dikenal sebagai pelopor perjuangan perbaikan kampung kota di Jakarta. Tokoh lain yang juga dikisahkan dalam pameran, termasuk Muhammad Hatta, yang memiliki perhatian besar dalam isu perumahan rakyat.
Panel-panel dalam Ini Kampung memaparkan defisini kampung kota, dilihat dari sis sejarah, perspektif akademisi, kutipan para ahli, hingga kutipan warga kampung. Selain itu, ada panel yang berkisah tentang ragam kehidupan kampung kota, termasuk problematika kampung serta upaya warganya mensiasati hidup di Jakarta dan mempertahankan keberadaan kampung kota. Panel lain juga menyoroti peralihan narasi kampung kota dari permukiman produksi sosial yang malah turun distempeli “tidak layak huni”, “kumuh”, dan “sarang penyakit”.
Selain itu juga ada panel panjang yang berkisah tentang panjangnya upaya perbaikan kampung yang dilakukan berbagai pemimpin. Diantaranya yang terbaru adalah program Community Action Planning yang merupakan kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta dan warga kampung dalam proses perencanaan dan perbaikan kampung. Program CAP ini mengharuskan pelibatan masyarakat, misalnya untuk mengetahui seperti apa masalah yang ada di kampung tersebut, karena terkadang yang mengetahui permasalahan yang ada di suatu daerah adalah warga kampung itu sendiri. Terkadang Pemerintah tidak selalu benar dalam mengambil keputusan terkait kampung , oleh karena itu kolaborasi ini diharapkan akan membuat suatu hasil yang lebih baik dan targetnya tepat sasaran karena sedari awal warga dilibatkan untuk berdiskusi tentang apa yang mereka rasakan dan mereka butuhkan.
Ada Pak Gubernur di Ini Kampung
“Kampung itu bukan hanya dilestarikan, tapi dikembangkan karena masalah di Jakarta ini bukan kampungnya, tapi kumuhnya, oleh karena itu yang harus ditiadakan adalah kumuhnya bukan kampungnya, sering kali kita melihat ada kampung kumuh lalu kampungnya mau dihapus diubah jadi gedung tinggi. Kampungnya dihilangkan, warganya dipindahkan. Bukan itu.”
“Yang harus dibangun adalah kampung yang bersih, kampung yang nyaman, kampung yang kita rasa bisa memiliki anak tumbuh berkembang dengan sehat, masyarakatnya juga berinteraksi dengan sehat. Nah disini kita menyaksikan ide-ide yang dipamerkan adalah, satu gagasan untuk kedepan dan gagasan yang sudah di praktekan, contohnya Kampung Tongkol dan kampung lain. Itu menunjukkan bahwa masyarakat di kampung itupun ingin kampungnya ditata dengan baik,” demikian komentar Pak Gubernur saat mengunjungi Ini Kampung tanggal 23 Desember 2018 silam.

Lanjutnya lagi, “Saya senang dengan apa yang teman teman lakukan , karena saya merasa program kita sejalan untuk mengembalikan kampung kumuh menjadi kampung bersih dan pemerintah disini sebagai fasilitator, hal itu bisa dimulai dengan Community Action Plan.”

Hal serupa pun disampaikan oleh antropolog Geger Riyanto, Ph.D. dari University of Heidelberg, Jerman, saat menghadiri diskusi karya Anggreani Widiasih, yaitu Lihat Kampungku di aula Museum MH Thamrinn bersama dengan Komunitas Teras Kota. Geger Riyanto berpendapat bahwa kampung adalah salah satu penopang kehidupan yang tidak boleh ditidakan begitu saja. Kampung adalah faktor yang tidak bisa dihindari di Jakarta, (dan) citra yang selama ini melekat tentang kampung kota yang kumuh dan jauh dari kata layak hal itu harus disegera dihilangkan, karena kampung adalah penyangga Ibukota. Kampung janganlah dilihat dari gangguannya , tapi kegunaannya dalam kehidupan
Presentasi Anggreani tentang Lihat Kampungku menggali tentang cara pandang anak-anak yang tinggal dalam kampung kota terhadap lingkungan yang dihuninya. Mengutip dari deskripsi Anggreani, dalam proyek ini, aksi produksi penglihatan dilakukan dengan aktivitas menggambar tentang tempat mereka tinggal, yaitu sebuah lingkungan RT di kawasan Poltangan, Pasar Minggu. Selain menawarkan anak-anak akan pengalaman menggambar bersama tanpa sekat usia ataupun ruang kelas, proses ini rupanya mengingatan kembali tentang berbagai gagasan lain yang terkait dengan pendidikan dan interaksi anak-anak di ruang urban.


Selain menyampaikan pandangan tentang karya Anggreani, Geger Riyanto juga berkomentar mengenai Ini Kampung, “Pameran seperti ini sangatlah penting walaupun untuk merubah citra tentang kampung kota itu sangat susah, (tetapi) kampung itu sangat diperlukan karena bagi masyarakat yang hidup di kota besar seperti Jakarta. Mereka pasti makan di warteg dan warteg itu sudah pasti disuplai oleh kampung kampung di sekitar kota, dan tinggal di perkampungan itu bisa menghemat biaya dari pada harus tinggal di apartemen yang tentu saja menghabiskan dana yang besar. Kita juga tidak bisa menghindari fakta bahwa Jakarta merupakan sebuah Kampung Besar, dimana kita akan selalu hidup berdampingan dengan Kampung yang satu ekosistem dan saling menyangga kota, jadi kampung kota itu sangat jauh dari kata mengganggu.”
Aksi Warga di Ini Kampung
Sebagai bagian dari Ini Kampung, terdapat satu rangkaian acara berupa TARKAM (Antar Kampung) edisi mural kampung. Pesertanya pun terdiri dari perwakilan kampung yang mengikuti program Community Action Plan, antara lain adalah Kampung Kunir, Kampung Marlina, Kampung Gedong Pompa, Kampung Tongkol, Kampung Lodan, dan Kampung Rawa. Enam kampung tersebut melukis mural di beberapa tempat seperti, dinding rumah, tembok pertigaan jalan dan jalan. Ide mural yang mereka buat pun terinspirasi dari kegiatan dan keuninkan yang ada di kampung masing-masing, misalnya memancing, bermain di kali dan gedung-gedung sekitar kampung. Disini mural bisa menjadi sebuah cerminan kehidupan mampung tersebut, sekaligus refleksi tentang kearifan lokal yang terjadi setiap hari.

Visi Kampung Gedong Pompa adalah kampung pesisir wisata memancing yang dikelilingi oleh bangunan rusunawa di sekitar kampung mereka, dan mural yang dibuatpun termasuk mural yang masih ada hubungannya dengan visi misi kampung mereka sendiri, yaitu gambar seseorang sedang memancing, menangkap ikan dan sebagainya.

Kampung Kunir yang tergusur paksa pada tahun 2015 silam, juga ambil bagian dalam TARKAM Mural Kampung. Karena saat ini warga Kunir tinggal di dalam shelter, maka mereka memutuskan untuk mewarnai jalan, terinspirasi dari konsep 3D, berbeda dengan kampung lain yang menggunakan dinding sebagai media lukis.
Sebagai bagian dari puncak acara, enam kampung tersebut mendapatkan wejangan dari Leonhard Bartolomeus, dari Studi Kolektif dan Ekosistem Seni Rupa Kontemporer (GUDSKUL), Barto, demikian panggilannya, menyatakan, “Yang perlu dipertegas tentang mural kampung adalah kesadaran, karena pewarnaan mural bukan hanya sekedar mewarnai dan dekorasi , tapi ada nilai lain dari hal itu. Mural bisa dijadikan alat komunikasi untuk orang dalam kampung dan orang luar kampung itu sendiri. Dan bisa digunakan juga sebagai media untuk mengkritik pemerintah, dan mural bisa diposisikan sebagai ruang diskusi, karena setiap pembuatan mural pasti membutuhkan beberapa faktor seperti komunikasi antar warga mengenai identitas kampungnya dan penggambarannya nanti seperti apa.”
Lenggak Lenggok Kampung

Dari kampung di Jakarta Utara hingga kampung tepi sungai di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Ini Kampung juga menghadirkan 9 acara kesenian dan sekaligus memamerkan kehandalan warga kampung dalam berkesenian. Inilah TARKAM edisi Kesenian. Dari pembacaan puisi oleh Kampung Marlina, Jaipongan dari Kampung Lengkong, Kasihadan dan 2 tarian Saman dari Kampung Rawa, Ondel-Ondel dan Jaranan dari Kali Apuran, Genjring dari Kampung Gedong Pompa, serta Ondel-Ondel dari Kampung Tongkol.

Kemeriahan itu membawa nuansa lain di halaman Museum MH Thamrin. Selain dipadati pengunjung Ini Kampung, warga dari sekitaran museum seperti Kampung Kenari dan Cikini Ampiun juga turut menonton rangkaian acara kesenian itu. Dari anak-anak hingga emak-emak, lenggak-lenggoknya mewarnai kampung dan Ini Kampung.

Tentang Penulis

Andi Sahcrul adalah warga Kampung Akuarium yang baru saja selesai mengikuti Program Fellowship Kampung selama 2 bulan yang diadakan oleh Rujak Center for Urban Studies.
Program Fellowship Kampung adalah program 2 bulan yang memperkenalkan pengetahuan urbanisme kepada warga kampung melalui berbagai kegiatan Rujak Center for Urban Studies. Dalam program ini, Sahcrul terlibat dalam perencanaan pameran, riset konten pameran serta penulisan artikel.
Baca tulisan Sahcrul lainnya disini.

