Bulan ini, Rujak Center for Urban Studies merayakan semangat yang sejak awal menjadi napas kami: kerja kolaborasi. Dalam menghadapi krisis ruang hidup, ketidakadilan kota, dan perubahan iklim, tidak ada jalan lain selain membangun kekuatan bersama—menghubungkan warga, komunitas, peneliti, aktivis, dan seniman dalam kerja-kerja kolektif.
Berikut kegiatan-kegiatan kami sepanjang bulan April, yang selalu mengedepankan koalisi, kolaborasi, dan koproduksi pengetahuan:
- Pada 15 Februari 2025, kami bersama warga Kampung Akuarium menerima kunjungan alumni Young Progressive Academy (YPA) kedua, inisiatif penguatan kapasitas orang-orang muda dari seluruh penjuru Indonesia yang diorganisir mitra kami Friedrich Ebert Stiftung (FES) Indonesia di Kampung Susun Akuarium. Tidak hanya antusias bertanya, setelah mendengarkan cerita dan hasil kolaborasi bersama masyarakat dan organisasi pendamping di Kampung Akuarium, alumni YPA sebagai penggerak di komunitasnya juga menjadikan kesempatan ini sebagai ruang bercerita, konsultasi, dan tukar gagasan pada dinamika kerja sosial kami masing-masing. Jika silaturahmi memperpanjang usia, maka kami percaya solidaritas seperti yang hendak dibangun pada kegiatan ini dapat memperpanjang nafas gerakan.
- Pada 23 April 2025, RCUS bersama Koalisi Maleh Dadi Segoro mengadakan focus group discussion (FGD) di Desa Timbulsloko sebagai upaya mendalami perspektif gender di wilayah (peri) urban Semarang dan Demak, khususnya di Tambakrejo, Timbulsloko, dan Mangkang. Diskusi ini menyoroti peran dan kontribusi perempuan dalam membangun resiliensi komunitas menghadapi dampak krisis iklim, khususnya banjir rob yang secara signifikan mempengaruhi kehidupan sehari-hari warga di ketiga kawasan tersebut. Dalam kesempatan tersebut, tim RCUS juga memaparkan hasil observasi lapangan terkait strategi pengelolaan rumpon yang berpotensi diterapkan di Tambakrejo dan Timbulsloko.

- Pada awal April 2025, Dian Tri Irawaty, mewakili RCUS, diundang oleh Universitas Brown (Amerika Serikat) untuk berbicara di simposium “Narrating Change: Stories from Urban Southeast Asia”, yang diselenggarakan pada tanggal 12 April. Sebelum simposium tersebut, Dian juga menjadi dosen tamu dalam mata kuliah URBN 0215: Urban Life in the Global South pada tanggal 8 dan 10 April. Kuliahnya mencakup topik-topik yang sejalan dengan pekerjaan Rujak, termasuk advokasi pembangunan Kampung Akuarium, perubahan iklim, dan kampanye perumahan kolektif. Undangan ini menandai kelanjutan dari kolaborasi RCUS dengan Departemen Studi Perkotaan Universitas Brown, yang sebelumnya menyelenggarakan Sekolah Lapangan pada tahun 2024. Program tersebut memungkinkan 12 mahasiswa Studi Perkotaan untuk terlibat langsung dengan tiga kampung kota – Blok Eceng di Muara Angke, Marlina di Muara Baru, dan Lengkong di Cilincing – di mana mereka mengeksplorasi kehidupan kampung dan upaya warga untuk mendapatkan hak atas perumahan/keamanan bermukim.

Suasana Mengajar di Brown University - Sudah mulai terlihat hilalnya! Tanggal 22 April silam, Koalisi Perumahan Gotong Royong (KPGR) menghadiri diskusi Konsep Pengembangan Perumahan Melalui Koperasi yang diselenggarakan oleh Bappenas dengan mengundang berbagai pihak, meliputi, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, Kementerian Koperasi, PT. SMF, dan juga dua orang praktisi pembiayaan perumahan. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut rencana KPGR selama ini untuk mendorong kebijakan dan bantuan dari pihak Pemerintah ke dalam pengembangan perumahan berbasis gotong royong, dengan dua pilot project yang diinisiasi, yakni Blok Eceng (Jakarta) dan Notoyudan (Yogyakarta). Dalam diskusi tersebut, para pihak yang hadir terbuka untuk bekerja sama dan mendukung kebutuhan pilot project, terutama dalam mengatasi masalah pendanaan dan tanah yang menjadi kendala utama. Selain itu, dukungan juga akan diberikan kepada dua koperasi kampung untuk kelayakan penerimaan dana LPDB. KPGR juga mengkonkritkan penyelesaian masalah tanah di Eceng, sambil merumuskan rencana skema pembangunannya dan menyelesaikan masalah pembiayaan tanah di Notoyudan serta pencarian akses pembiayaannya.
Foto Bersama Diskusi Konsep Pengembangan Perumahan Melalui Koperasi
- Sekali lagi tentang Climate Finance. Rujak mendapatkan kesempatan belajar dan berjejaring, serta berpartisipasi dalam Climate Finance Conference & Capacity Building Workshop di Bangkok, yang diselenggarakan oleh Germanwatch, LAYA-INECC, IRID, dan ICSC. Workshop ini mempertemukan organisasi masyarakat sipil dari beberapa negara di Asia, seperti Indonesia, Filipina, Cina, Vietnam, dan India untuk memperdalam pemahaman tentang lanskap keuangan iklim terbaru dan memperkuat kapasitas dalam mengembangkan proyek-proyek iklim yang inklusif dan berdampak. Diskusi juga menyoroti peluang dan tantangan menuju akses pembiayaan iklim yang lebih adil, termasuk dalam kerangka New Collective Quantified Goal (NCQG) yang telah ditetapkan di COP20 silam.

