
Mari berefleksi.
Hanya 20% penduduk Jakarta yang memiliki akses terhadap pelayanan air, dengan 7.2 juta penduduknya TIDAK memiliki akses terhadap air bersih.
Hanya 1% penduduk Jakarta terkoneksi dengan sistem pembuangan dan pengolahan limbah.
70% wilayah Jakarta terendam banjir di tahun 2007, sementara 40% wilayah Jakarta berada dibawah permukaan air laut.
Ruang Terbuka Hijau Jakarta kurang dari 10%, sementara target Rencana Tata Ruang Wilayah adalah 13%.
Sementara:
Total nilai konstruksi yang diperlukan untuk membangun 12 stasiun dan rel MRT sepanjang 14.5 km dari Lebak Bulus ke Dukuh Atas adalah 9 triliun rupiah ($ 1 milyar USD), atau 620 milyar rupiah/km. Dana yang didapat berasal dari pinjaman ringan JICA (Jepang).
Konstruksi MRT akan dimulai 2011, rencananya akan selesai 2016. Sementara Jakarta diperkirakan akan mengalami kemacetan luar biasa di tahun 2011.
MRT bukan solusi terhadap masalah kemacetan, namun hanya memberikan solusi terhadap mobilitas dan meningkatkan kualitas hidup. Hal tersebut ditegaskan pula di situs MRT Jakarta, yang menyatakan bahwa MRT dan kemacetan adalah 2 hal yang sangat berbeda.
Apakah MRT menjadi relevan dengan masalah Jakarta saat ini?

Jelas tidak.
Dengan dana demikian, masih banyak proyek pembenahan kota yang salah satu efeknya adalah juga menurunkan tingkat kemacetan.
Penertiban bus, peningkatan tingkat keamanan secara umum, peningkatan utilisasi jalur hijau, peningkatan mutu air (termasuk pembersihan kali), dll, akan jauh lebih efektif dan besar kemungkinannya akan memakan biaya kurang dari 9 triliun rupiah.
Akankah itu mengurangi kemacetan? Kemacetan tidak hanya disebabkan oleh banyak kendaraan. Coba saja lihat sekarang. Macet disebabkan oleh peraturan lalu lintas yang tidak konsisten, pemasangan roadblock Extra Joss yang seenaknya (sudah ada kontrak mungkin ya), jalan yang tadinya tinggal lurus suka diputar ke mana-mana, pejabat-pejabat yang mau lewat seenaknya saja minta fasilitas khusus, genangan-genangan air yang disebabkan pembatas jalan yang tebal dan tidak diberi rongga, genangan yang disebabkan oleh saluran pembuangan yang mampet, kondisi jalan rusak yang disebabkan pembangunan apartemen dan properti tiada henti, dsb dsb.
Pembangunan infrastruktur besar2an seperti MRT justru rawan menimbulkan efek samping yang negatif. Seperti kita tahu, orang Indonesia masih belum bisa untuk merawat barang. Busway saja yang seumur jagung sudah banyak masalah (sulit membayar hutang bahan bakar, dll). Apalagi MRT akan berisiko tinggi apabila ada kelalaian manusia (sekali lagi, kereta api dan busway saja masih terkadang keluar jalur, bagaimana jadinya kalau itu MRT?).
Kalau mau pembangunan infrastruktur, lebih baik bangun akses jalan tol (autobahn) antar kota. Stop penyemburan lumpur Lapindo. Tadinya saya mau usul bangun jembatan Jawa-Sumatra, tapi jembatan Surabaya-Madura saja sudah kewalahan, bautnya suka dicopotin, dll, jadi ngeri saya kalau ada jembatan lebih panjang lagi.
Ya memang MRT utamanya tidak dimaksudkan untuk mengatasi kemacetan kok. Melainkan sekedar sebagai “simbol bahwa kota Jakarta akan menjadi kota yang sejajar dengan kota Megapolitan Asia seperti Singapura, Hongkong, Bangkok, New Delhi, Seoul dan Tokyo” menurut situs Pemda DKI Jakarta berikut 🙂
http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/tentang-jakarta/jakarta-masa-depan/64-mrt-jak
Kenapa ya simbol-simbol lebih digemari daripada menyelesaikan persoalan yang sebenarnya…
Kebayang deh 14,5 km MRT itu akan butuh waktu konstruksi 58 bulan (nyaris 6 tahun). Artinya selama itu pula kemacetan makin parah 🙁
Menurut perhitungan ahli transportasi; Jakarta 2014 akan terjadi ‘dead lock’ alias jalan2 sudah tidak bisa dijalani lagi karena seluruhnya macet.
Menurut perhitungan ‘ahli perhitungan joyoboyo + Master I Ching + Mayan Calendar’: 2012 ada bencana besar. Kalau proyeknya baru mau mulai 2011…. ya menurut orang Jawa; salah perhitungan.
US$ 1 milyar; bisa dipakai untuk memperbaiki pedestrian sejakarta plus semua system sanitasinya dan pemeliharaan pedestrian dari serbuan PKL (pedagang kaki lima). Kalau pedestrian di jakarta bisa di pakai untuk berjalan kaki dari suatu tempat sampai 1,2km (jarak tempuh nyaman pejalan kaki) maka akan mengurangi beban kendaraan umum kecil (ojek, bajaj, angkot, metro mini).
(Pedestrian standard LOS (Level of Service) dangan lebar rata2: 1m -kira2 3 feet- dengan kecepatan pejalan kaki ‘moderate’ atau rata2: diperkirakan dapat mengangkut 1.080 orang/jam platooning. Data thn 2000). Pedestrian di negara2 maju sekarang ini (sejak 2004) mempunyai minimum lebar: 7.5 feet = 2.286 meter. Kalau dipergunakan data 1.080 org/jam; maka dalam 12 jam = 12.960 org/jam. Bayangkan kalau seluruh Jakarta dapat dipedestriankan…. tersedia jalur transportasi manusia selama 24 jam dengan daya angkut ……… silahkan hitung sendiri….
Masalahnya proyek Pedestrian tidak memberikan ROI (Return on Investment). Sedangkan MRT walaupun pinjaman lunak tetap memberikan ROI… apalagi pinjaman ke Jepang yang memang harus membuang kelebihan dollarnya dengan bunga 0%… mestinya… ;-D
Dana itu juga masih bisa dipakai untuk memperbaiki ‘sistem bus kota’ dengan menambah, memperbaiki dan merawat bus kota biasa dan jalur khusus.
Tetaplah… kalau yang ingin dipecahkan adalah masalah – modus transportasi – atau -pemindahan manusia dari satu titik ke titik yang lainnya-… pedestrian adalah modus yang tercepat dan termurah dan paling ‘reliable’ plus lagi ranking satu dalam: sustainability dan ranking satu dalam Healthy Life Style…
But …. no ROI…. ;-((
Salam
Dian
Yaahh.. memang kondisinya di sini.. mau bikin megaproyek terusss.. biar komisinya jalan.
Jangan seperti Dubai dong.
Sekadar info, Dubai World mengalami kegagalan bayar hutang minggu lalu, yang akibatnya turut mengganggu bursa saham. Dubai dengan latar belakang kekuatan uang minyak saja bisa terguncang, bagaimana dengan Jakarta??
MRT jelas perlu walau sangat terlambat. saat ini yang diperlukan moda transportasi yang bisa membuat warga kota penyangga jakarta : depok, bogor, bekasi, tangerang bisa ada moda transportasi yang nyaman dan cepat. perihal MRT bisa dipadukan apakah bawahtanah atau melayang.
warga komuter saat ini sudah cape macet di jalan tol setiap hari.
tapi tidak ada pilihan lain.
mau naik kereta api, kondisi sangat jelek.
busway juga sama saja kondisi semakin bobrok.
Hmm… sepertinya tidak perlu. Masalahnya Jakarta buat Monorel aja belum selesai. Katanya tahun 2007 sudah bisa dipakai. Ternyata ngadet sampai sekarang juga belum sampai 50%. Masa mau bikin MRT lagi?
MRT bukan solusi Jakarta dlm jangka pendek. Dlm jangka panjang MRT diperlukan utk menopang mobilitas. Tetapi solusi kemacetan Jakarta bukan MRT, tetapi “hi-rise apartment” & superblok. Jadi solusi transportasi dibikin mengikuti tata-ruang yg berbasis konsep hi-rise & superblok.
MRT jelas sangat diperlukan untuk jangka panjang, tetapi untuk jangka pendek/segera adalah transportasi yg nyaman,aman & dapat diandalkan (reliable) dari kantong2 hunian di Bodetabek ke Jakarta. Kenapa “jangka pendek/segera” menjadi penting? karena kalo gak segera,makin banyak orang stress/gila di Jakarta terutama yg berkendara baik roda 2 maupun roda 4.
Sejauh ini saya sebagai pengguna & penikmat bis umum & KRL cuma bisa berkontribusi sbb:
– Bayar tiket/ongkos sesuai tarif.
– Nggak nyampah di bis/KRL (untk smpah kecil sy masukin kantong,nnt kalo ud turun & ketemu tmpt sampah, lantas dibuang)
– Nggak meludah di bis/KRL
– Nggak merokok di bis/KRL
– Nggak iseng2x destruktif contoh: menguji kekuatan kulit sintetis sarung jok bis dengan kuku kita or else)
Mungkin masih bisa ditambah dengan yg lain.
Yg immediate juga adalah,Pemerintah Pusat & Daerah harus ikut bantu kelangsungan Perusahaan2 Otobus agar mereka bisa mengganti bis lama dengan bis yg baru yg lebih irit dan aman.
Salam,
Taufik
mrt jelas diperlukan. kenyamanan dan perawatan transportasi umum bergantung kepada disiplin warga jakarta. penggunaan anggaran untuk pembangunan mrt atau infrastruktur lainnya adalah masalah kebijaksanaan.
Menurut saya, kita sudah terlalu sering tambal sulam masalah. Seharusnya MRT bisa betul2 jadi solusi untuk Jakarta nantinya. Tentu MRT tidak akan mengurangi kemacetan bagi pengguna kendaraan pribadi di jalan raya. Tapi kalau ada MRT, mungkin orang2 akan berpikir 2x untuk memakai kendaraan pribadi. Apalagi saat ini biaya parkir di mana-mana semakin mahal.
Ini langkah bijak buat pemerintah. Saya dukung. Akan lebih bijak lagi kalau pembelian mobil & motor nantinya dibuat lebih fair. Supaya orang2 yang memag “belum sanggup” membeli mobil, jangan membayar dp yang sangat ringan lalu menyicil dengan mudahnya. Itu budaya konsumtif yg sangat tidak baik.
Kenapa saya ukung MRT? Sederhana. Kota seluas ini, mau peri dari 1 titik ke titik lain saja tidadk ada alternatif transportasi. Beda dengan kota-kota seperti Bangkok. Meskipun kondisinya mungkin tidak semodern Jakarta, untuk commute dari satu lokasi ke lokasi lain sangatlah mudah. Tidak diperluka rocket science untuk tahu cara pergi dari satu tempat ke tempat lain. Berbeda dengan Jakarta yang sangat tidak nyaman dan tidak kondusif kondisi jalannya, untuk orang-orang yg tidak tahu jalan bermobilitas di Jakarta.
Semoga kondisinya tdk seperti ini terus. Kita sudah waktunya malu dengan negara lain yang GDPnya tdak sebesar kita, tapi kondisi kota-kotanya jauh lebih baik dari kita.