Kemana Air Pergi?

Sepanjang masa Jakarta, entah itu saat masih bernama Batavia, di era Orde Baru hingga suatu hari di bulan Desember, bahkan di hari penggantian tahun 2019-2020, ada satu perbincangan yang tak pernah kunjung usai, yaitu banjir. Berbagai tulisan, buku hingga jurnal dan lagu bermunculan tentang banjir Jakarta ini. Misalnya salah satunya Abidin Kusno, Professor di York University, yang membuat tulisan kritis-agak-jenaka dengan judul Where Will the Water Go? tentang kisah “kelebihan air” dan polemiknya yang tak pernah usai di Jakarta dengan mengambil kutipan dari dua pernyataan Gubernur Basuki Purnama terkait genangan yang terjadi di Kawasan Bundaran HI hingga Istana pada 31 Agustus 2016 pasca hujan deras selama 1 jam dan proyek Deep Tunnel:

“Nggak masuk akal. Jalur Tengah ini nggak ada cerita banjir. Selama Waduk Pluit beres, nggak ada cerita tergenang ini, termasuk Istana.”

Berikutnya Gubernur Basuki memperkirakan bahwa genangan terjadi hanya karena ada sumbatan pada saluran air. “Sebenarnya bukan genangan, hanya sumbatan saja. Pasar Baru saja bisa tenggelam, gimana? Padahal Gunung Sahari sungainya sudah dalam. ‘Ketutup pintunya, Pak’, ya udah buka.”

Dan berikutnya tentang rencana infrastruktur raksasa Deep Tunnel:

“Saya hanya butuh mereka untuk menjawab pertanyaan saya: Kemana airnya pergi? Tak satupun mereka menjawab pertanyaan saya, karenanya, saya gak yakin.”

Tulisan Abidin Kusno yang dimuat dalam jurnal Indonesia yang diterbitkan oleh Cornell University tidak berupaya memecahkan masalah banjir dan genangan di Jakarta. Abidin juga tidak membicarakan masalah kapasitas pemerintah, krisis iklim, lingkungan hidup dan segala solusi teknokratis lainnya. Abidin menuturkan bagaimana banjir dipahami dan dikelola secara budaya; bagaimana  banjir terlibat dalam pengetahuan dan kekuasaan; dan bagaimana isu banjir membentuk “kepemerintahan” yang menghasilkan kesadaran kritis di kalangan masyarakat tentang krisis lingkungan.

Terinspirasi dari tulisan Abidin, ulasan Rujak kali ini ingin mengangkat sisi politis dan puitis dari kelebihan air. Juga tentang bagaimana narasi akan banjir dan genangan tersampaikan kepada publik. Bagaimana kondisi poitik nasional dan lokal mempengaruhi narasi tersebut serta bagaimana infrastruktur mempengaruhi rasionalitas pemerintah. Membicarakan soal air dan banjir memang seperti kondisi aliran air itu sendiri.

Banjir atau Genangan: Eufemisme atau Sains?

Saat Fauzi Bowo masih menjabat sebagai Gubernur DKI, beliau menyatakan perlu ada pembedaan antara banjir dan genangan. Foke, demikian panggilan akrab beliau, membedakan tersebut banjir dan genangan dengan durasi terperangkapnya air.

Mungkin dalam Bahasa Inggris, maka genangan bisa disebut sebagai inundation dan banjir adalah flood. Namun, jika kita mengutip beberapa definisi tentang banjir atau flood secara keilmuan, maka banjir adalah kejadian yang terkait dengan meluapnya air dari aliran air alami yang disebabkan oleh curah hujan deras. Namun dalam konteks lain, banjir tidak selalu disebabkan oleh hujan deras. Misalnya di pesisir, banjir bisa disebabkan oleh gelombang pasang, badai, hingga tsunami. Ini yang kerap kita sebut sebagai banjir rob. Ada lagi banjir yang disebabkan karena kegagalan infrastruktur, misalnya bendungan gagal dan membanjiri daerah hilir.

Sementara perencana kota dan insinyur sipil memisahkan antara banjir sebagai fenomena alam dengan genangan di kawasan perkotaan (urban inundation) yang berkaitan dengan kapasitas drainase. Kejadian banjir di perkotaan sendiri adalah fenomena dan kejadian yang kompleks, dia bisa merupakan kombinasi dari luapan alami, kegagalan infrastruktur hingga desain jaringan drainase dan sistem air. Dalam kasus Banjir Jakarta 2013 yang terjadi di bulan Januari, ada kombinasi hujan deras yang jatuh di Jakarta, hujan deras di kawasan Hulu (Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan Depok), laut pasang, gagalnya infrastruktur (Banjir Kanal Barat), matinya pompa-pompa kawasan Pluit serta tidak maksimalnya kinerja drainase akibat sampah dan sedimentasi.

Memahami jenis dan asal muasal air, entah itu banjir dengan berbagai macam rupanya, dan apakah itu genangan?, sesungguhnya membantu pengambil kebijakan dan warga kota sendiri dalam bagaimana bersikap terhadap kelebihan air ini. Keduanya sama-sama merugikan kota dan warga serta menggangu aktivitas dan bisa menimbulkan korban jiwa. Luapan air sungai yang hanya 5 cm pun akan tetap disebut banjir, dan tetap membahayakan dan menghanyutkan. Sama berbahayanya dengan genangan air setinggi 60 cm yang dapat mengakibatkan konsleting dan hilang nyawa.

Namun pada kenyataannya, dan di masyarakat umumnya, pembedaan antara genangan dan banjir ternyata bisa saja politis dan personal. Foke diolok-olok sebagian warga Jakarta saat beliau pertama kali menegaskan perbedaan antara banjir dan genangan. Namun ada juga yang mengamati bahwa pemberitaan media terkait banjir dan genangan pun situasional dan tergantung tokoh, misalnya tulisan satu ini. Terkadang, akibat politisasi dan eufemisme, baik yang mengolok-olok Foke maupun yang berbasis ketokohan situasional, sesungguhnya dapat mengaburkan upaya perencanaan, bahkan tidak membangun ketahanan dan resiliensi pada masyarakat. Kegagalan memahami air dan fenomenanya, yang sesungguhnya terjadi secara rutin tiap tahun, pada akhirnya membawa kota terus terpuruk dan berkutat pada masalah yang sama tanpa pemecahan. 

Akankah Jakarta bebas genangan dan banjir?

Restu Gunawan, sejarawan, mengulas sejarah panjang pergulatan Jakarta (Batavia) dengan banjir dalam buku Gagalnya Sistem Kanal. Kutipan yang menghiasi sampul bukunya dapat merangkum isi buku itu:

Sistem kanal tidak berhasil karena topografi Jakarta yang datar sehingga air tidak bisa mengalir secara gravitasi. Sedimentasi lumpur dan sampah juga menyebabkan aliran air tidak lancar. Pengendalian banjir dengan pembangunan kanal atau saluran hanya mampu mengurangi beban banjir sesaat.

Jakarta bukanlah kota instan yang baru sehari jadi. Ratusan tahun berlalu, dibawah berbagai penguasa dan penghuni, dengan segala kebijakannya. Jakarta hari ini adalah akumulasi lapisan dan produksi ruang dan kebijakan. Termasuk didalamnya adalah lapisan dan kompleksnya hubungan antara Jakarta dan air. Jauh sebelum masa kita sekarang, sistem yang dipilihkan untuk Jakarta pada masa itu dan bahkan seterusnya adalah sistem kanal atau kanalisasi. Mudahnya, kanalisasi adalah cara pengubahan pengairan dan bentuk sungai alami menjadi deretan kolam dan kanal yang dibatasi dengan sistem pintu air/bedungan dan pompa. Melalui kanalisasi maka kecepatan air dapat diatur sehingga memperlambat arus demi menghindari pengaruh pasang surat laut terhadap sungai. Sistem ini sangat relevan untuk kota-kota Belanda yang memang secara alami berada dibawah permukaan air laut.

Begitu diterapkan di Jakarta, ternyata Pulau Jawa berbeda konteks dengan Belanda yang merupakan bagian dari kontinental Eropa. Selain topografi Jakarta yang datar, sementara daerah hulunya tinggi dan membawa sedimen. Kenapa topografi datar tersebut menjadi penentu? Air selayaknya mengalir berdasarkan gravitasi dan kemiringan tertentu. Semakin miring pun semakin laju. Karena Jakarta sudah memilih sistem kanal, air permukaan di Jakarta yang datar ini membutuhkan waktu lebih lama untuk mengalir dan terpaksa bergantung pada desain drainase yang mampu mengalirkan air secepat-cepatnya. Tentu akan berbeda jika konsep dan kebijakan yang terpilih oleh Jakarta adalah berbasis alami dan berupaya menyerapkan air sebanyak-banyaknya ke tanah.

Tumpahan air di meja sebagai ilustrasi relasi antara topografi Jakarta yang datar dengan air permukaan (sumber: https://pxhere.com/id/photo/1595601)

Kala saya membaca buku Restu Gunawan, saya pun bertanya-tanya, “Sudah tahu sistem kanal tidak cocok dan bahkan membuat banjir menjadi semakin besar, kenapa Jakarta terus terjebak pada solusi yang sama bertahun-tahun?” Namun itu bukan pertanyaan yang Jakarta butuhkan saat ini. Pertanyaan yang sebaiknya diajukan adalah “Dengan kondisi Jakarta seperti ini (termasuk sudah kadung sistem kanal serta konteks geografis dan geologis) apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalkan dampak banjir dan genangan?”

Dr Fakhrudin, peneliti ketua pada Kelompok Penetlian Mitigasi Bencana Lingkungan Perairan Darat di Pusat Penelitian Limnologi LIPI, dalam paparannya menyatakan banjir awal tahun 2020 yang terjadi di Jabodetabek disebabkan karena beberapa faktor selain sebaran curah hujan lebat di hulu atau daerah penyangga (yakni Bogor dan Depok). Depok dan Bogor mengalami pembangunan pesat dan di saat bersamaan terjadi juga penurunan kualitas ekologi Jabodetabek secara umum lewat terkonversinya lahan-lahan hijau menjadi ruang terbangun. Dua hal diatas, ditambah dengan hujan ekstrem lokal wilayah Jakarta, aliran banjir dari daerah hulu dan kondisi pasang muka air laut, mempengaruhi mekanisme banjir 2020.

Beliau menambahkan lagi:

“Perubahan lahan yang berlangsung cepat menyebabkan kemampuan daya resap sistem daerah aliran sungai di Jabodetabek terhadap air hujan menjadi menurun. Hal ini menyebabkan proporsi jumlah air hujan yang dikonversi langsung menjadi aliran permukaan atau direct run-off akan cenderung terus meningkat.”

Perubahan lahan besar-besaran tak hanya terjadi di Jakarta. Sepanjang periode 1985-2006, Jakarta menyaksikan konversi besar-besaran ruang terbuka hijau menjadi kawasan terbangun, seperti hotel, mal dan perumahan yang akhirnya konversi tersebut diputihkan dalam Rencana Tata Ruang Jakarta 2010. Akibat dari konversi tersebut, menurut Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan DKI, hampir 90% permukaan Jakarta telah tertutupi oleh beton. Di saat bersamaan, Jakarta tidak mengalami penambahan ruang terbuka hijau. Dan total ruang terbuka biru Jakarta pun hanya 3%. Bahkan normalisasi CIliwung disinyalir tidak menambah ruang biru, alih-alih penggusuran pada Kampung Pulo dan Bukit Duri malah mengubah permukiman yang ada menjadi jalan inspeksi. Jadi apakah mungkin air dari hujan intensitas tinggi di seluruh permukaan Jakarta serta kiriman dari hulu dapat ditampung oleh ruang terbuka biru yang hanya 3%?

Jadi, sebelum sampai pada pertanyaan akankah atau kapan Jakarta bebas banjir dan genangan, maka sebaiknya kita bertanya:

Kemana air pergi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *