Kota (Belum) Tanggap Banjir Yang (Tidak) Ramah Anak

IMG_0433

 

Oleh : Gita Hastarika

 

Anak-anak selalu terlihat gembira, bahkan saat mengalami banjir. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya.

Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, khususnya Muara Baru sudah akrab dengan banjir atau rob karena letaknya yang dekat dengan laut. Akan tetapi banjir di awal tahun 2013 ini mereka anggap kiamat kecil. “Saat banjir besar tahun 2002, ketinggian air masih di bawah satu meter. Tahun ini ketinggian air mencapai dua meter,” ungkap Mardiyah, warga Muara Baru, Penjaringan.

Salah satu penyumbang parahnya banjir di wilayah ini adalah terjadinya penurunan tanah. Tempo.com menulis pada 2008-2009, permukaan tanah Muara Baru (salah satu RW di kelurahan ini) turun sampai -14 cm dari permukaan air laut. Pada 2009-2010, angka itu bertambah menjadi -15.2 cm dari permukaan air laut.

Maka, bisa disimpulkan selama Jakarta belum bisa mengatasi masalah penurunan tanah ini, warga Muara Baru sulit berharap banjir tak akan terjadi lagi. Namun hal yang bisa dilakukan adalah menyiapkan daerah ini agar tanggap bencana. Masalahnya, belum ada sistem tanggap bencana di Penjaringan yang siap dalam mengoordinasi pengungsi dan bantuan, termasuk distribusi perahu karet, dan membuat dapur umum yang siap melayani orang banyak.

Herannya, kepanikan seperti yang dirasakan oleh Mardiyah jarang kita lihat dari anak-anak. Di berita-berita, kerap terlihat anak-anak girang meski rumah mereka terendam. Mungkin karena mereka bisa berenang gratis, atau sekolah mereka diliburkan, atau senang masuk TV.

 

IMG_0425

Padahal, saat banjir, anak-anak adalah korban yang paling menderita. Buktinya, pasca banjir, pasien Posyandu menumpuk. “Anak saya terkena muntaber. Banyak yang demam tinggi dan terkena penyakit kulit,” ujar Mardiyah, Kader Posyandu. “Kesannya mereka tidak mengerti kalau banjir itu bencana, padahal tubuh mereka tidak bisa berbohong jika situasi itu tidak nyaman bagi mereka,” tambahnya.

 

IMG_0659

Kondisi pengungsian yang sesak dan sekolah yang terendam juga membuat anak-anak tak bisa berkegiatan normal.

Permasalahan yang memperparah dampak banjir di Kelurahan padat penduduk ini adalah tidak adanya titik-titik evakuasi yang terencana. Masih untung di kelurahan ini terdapat sekolah negeri, mesjid, dan Rusun Penjaringan yang bisa dialihfungsikan sebagai shelter yang kering, walau tidak bisa menampung seluruh pengungsi. “Banyak keluarga, khususnya yang rumahnya bertingkat, tidak mengungsi, karena setelah sampai di posko, ternyata poskonya sudah penuh. Anak-anak tidak bisa tidur, mau selonjor saja susah.” Selain itu anak-anak yang selalu bermain akan merasa stress karena hari-harinya berlalu tanpa kegiatan yang berarti.

Dalam kondisi seperti ini, warga RT 19 dan 20 yang mengungsi di Rusun Penjaringan beruntung karena bisa memanfaatkan Ruang Sahabat Anak (RSA) yang dibuka Wahana Visi Indonesia (WVI).  RSA merupakan shelter yang didesain untuk memberikan kenyamanan dan mengisi waktu anak-anak dalam masa tanggap bencana. Di  RSA, sekitar 100-200 anak mendapat berbagai fasilitas termasuk mobil perpustakaan. Salah satunya Adinda (8), “Senang, di sini bisa bermain dan membaca, jadi tidak bosan.”

 

IMG_1670

 

 

IMG_0937

 

Selain itu, WVI juga menerjunkan tim fasilitator yang mengajarkan anak-anak menggambar, mewarnai, juga bermain. Gambar-gambar anak-anak ini kemudian dipajang di dinding Rusun sehingga menciptakan suasana yang menyenangkan. WVI juga memberikan pelatihan bagaimana memberi makan anak yang sehat dan higienis, yang sering dilupakan pada masa banjir.

 

IMG_0972

 

 

IMG_1739

Sulitnya mendapatkan makanan dan peralatan anak-anak juga dirasakan oleh ibu-ibu di Penjaringan. “Semua toko tutup. Saya sempat berjalan kaki ke Pluit berharap Pluit Imperium buka, tapi ternyata tutup juga,” ungkap Mardiyah. Ia mengatakan saat terjadi banjir, bantuan yang paling sering disalurkan adalah mie instan, dan banyak anak-anak balita apalagi batita yang belum diperbolehkan mengkonsumsi makanan seperti itu.

Wahana Visi Indonesia yang memiliki program pengembangan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan anak di Kelurahan Penjaringan y juga memiliki program tanggap bencana. Ini mengapa saat banjir kemarin, mereka bisa langsung mengerahkan perangkat yang sudah siap untuk merespon bencana. “Kami langsung membuka Ruang Sahabat Anak di posko-posko yang memungkinkan, menyalurkan bantuan children kit yang terdiri dari selimut, bedak, minyak telon, sabun, odol, sikat gigi anak, dan school kit, serta bekerja sama dengan Kader Posyandu menyalurkan makanan pendamping ASI untuk batita dan balita,” jelas Shintya Kurniawan, Media Relation WVI.

Program tanggap bencana seperti yang dilakukan oleh WVI memang sudah banyak dilakukan oleh LSM-LSM lokal dan internasional, pemerintah, atau organisasi masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah yang terkena bencana alam seperti gempa bumi atau tsunami. Namun melihat bencana lingkungan semakin mengancam kawasan urban seperti Penjaringan yang minim fasilitas umum dan tempat evakuasi, maka sistem tanggap bencana yang ramah pada anak-anak juga patut diaplikasikan di kawasan urban yang rawan banjir atau mungkin kebakaran.

Fabianus Boli Uran, senior field facilitator WVI mengatakan Maret ini akan bicara dengan seluruh stakeholder di Penjaringan untuk membangun sistem tanggap bencana yang komprehensif. Dengan demikian bantuan yang datang akan terkoordinasi dengan BNPB dan pemerintah setempat, dan didukung perangkat yang ada di wilayah tersebut seperti Kader Posyandu, Kelurahan, Karang Taruna, dsb. Sistem ini dapat direplika oleh kawasan-kawasan rawan banjir lainnya, khususnya yang memiliki keterbatasan fasilitas dan ekonomi, serta padat penduduk. “Wilayah lain seperti Kampung Melayu sudah lebih tanggap menghadapi banjir. Seharusnya, Penjaringan, yang hampir selalu tergenang saat laut pasang, juga memiliki sistem tanggap bencana yang ramah anak-anak.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *