Menziarahi Teluk Jakarta

Peta teluk Jakarta terpajang di ruang pameran Rujak Center for Urban Studies, Karya ini merupakan rekaman perjalanan Jorgen, Hannah, Irwan dan Tita selama 10 hari dari Kampung Dadap sampau Marunda

Pada bulan Februari 2018, Rujak Center for Urban studies kedatangan tamu dari Australia, yaitu dua orang seniman yang juga seorang ahli geografi, Hannah Ekin dan Jorgen Doyle. Mereka berdua bersama dua orang seniman Indonesia, Irwan Ahmett dan Tita Salina bersama-sama berjalan kaki sepanjang 42 km dari Kampung Dadap sampai ke Marunda. Upaya perjalanan untuk “merekam” wilayah utara itu diberi nama dengan “ziarah utara.” Kini hasil dokumentasi ziarah kami sudah terpampang di ruang pameran Rujak Center for Urban Studies.

Perjalanan ziarah ini setidaknya telah memakan waktu selama 11 hari. mereka menelusuri wilayah pesisir Jakarta dengan berjalan kaki. Mereka memulai perjalanannya di Kampung Dadap, sisi paling barat teluk Jakarta yang secara adminstratif sudah masuk bagian Tangerang, hingga rumah susun di Marunda, bagian paling timur dari teluk Jakarta. Persiapan dari perjalanan ini adalah selama 6 bulan dengan menggunakan biaya pribadi.

Pada malam pertama, Hannah dan Jorgen menginap di Kampung Dadap. “Di kampung ini kami menemukan permukiman yang tergenang banjir akibat pasang air laut,” jelas Hannah. Lalu mereka melanjutkan perjalanannya dan menginap di berbagai kampung nelayan seperti di Muara Baru, Kampung Akuarium, Cilincing, di Pantai Ancol dengan menggunakan hammock, di Terminal Tanjung Priok, di ruko-ruko, hingga Green Bay Apartment di Pantai Indah Kapuk yang ditawari penginapannya oleh salah seorang temanya.

Saat di Kampung Akuarium, mereka bermalam di shelter penampungan. “Kampung ini sangat merepresentasikan kampung-kampung di Jakarta yang digusur dua tahun lalu. Di sini juga banyak pedagang kaki lima dan anak kecil yang sedang bermain tentu menggambarkan kehidupan kampung,” ujar Jorgen.

“Selama perjalanan itu, kami mencoba mendalami lingkungan yang sangat terpisah dari kota dan setiap kampung yang kita lewati. Walaupun satu pesisir, satu teluk, itu sangat beragam,” tambah Hannah.

Melihat kondisi di Jakarta, salah satu hal yang membuat mereka tertarik adalah desain kampungnya, juga mereka menganggap pesisir utara secara geografis sangatlah unik karena merupakan bagian terlebat di Jakarta. Sebagai desainer pun mereka memikirkan bagaimana orang-orang di kampung-kampung dapat saling terhubung karena mereka merasakan banyaknya pembatas di wilayah pesisir tersebut.

Ada banyak dinding besar yang bisa memutus hubungan warga Jakarta dengan laut dan kawasan pesisir. Keterbatasan akses menuju pantai dan interaksi antar kampung membuat wilayah-wilayah ini sulit untuk diakses dan membutuhkan waktu yang lama. Secara lingkungan mereka terdampar dan secara administratif mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Perjalanan ini dilakukan dengan menyisir lintas pesisir dengan mencari jalan pintas, karena mereka harus menempuh akses yang sulit.  Selain akses yang sulit, perjalanan ini pun cukup memakan waktu, karena harus melewati hutan bakau, menyebrang sungai dan meminta izin untuk masuk ke suatu kawasan di wilayah pesisir utara tersebut.

Melalui jalan kaki ini, mereka merasa lebih terkoneksi kembali dengan bumi. Hal itulah yang menjadi material ziarah mereka di teluk utara Jakarta. Selain itu mereka merasa menjadi lebih sehat dan dapat merasakan emosi kehidupan pesisir utara Jakarta secara rill dalam dimensi yang begitu beragam.

Meskipun banyak melewati dinding-dinding pembatas yang telah berperan menghilangkan konektifitas interaksi manusia dengan alam, tentunya ada banyak yang yang dapat kita kagumi, mengenai kreatifitas manusia pesisir membangun konektifitas yang hilang tersebut. Secara sukarela mereka menghubungkan kampung-kampung yang terpisah dengan navigasi.

Begitulah kenyataan alamiah yang terjadi di kehidupan kampung pesisir. Ada mobilitas yang parallel, ada juga yang cepat dan pelan. “Hidup di wilayah tersebut merupakan pencarian strategi untuk tetap bertahan, kenyataan inilah yang terekam dengan berjalan kaki. “ujar Jorgen.

Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah teluk Jakarta menjadi sumber pencaharian warga sehari-hari dalam mengais rezeki, di hutan mangrove misalnya yang menjadi pembatas Pantai Indah Kapuk 1 dan Kampung Dadap terdapat empang yang bisa digunakan untuk pemancingan, para warga yang membuat itu sendiri. Ada wilayah-wilayah yang tidak hanya menjadi mata pencaharian,  namun juga menjadi sumber bagi “kota” untuk menikmati teluk Jakarta.

“Namun ada salah satu yang cukup terlihat di kawasan utara itu yaitu banjir. Salah satu alasan karena teluk Jakarta itu daerah hutan bakau dan rawa-rawa. Dan itu menjadi lapisan alami untuk melindungi Jakarta. Namun karena sekarang sudah banyak “dihancurkan” telah membuat pengawasaan dan pengendalian banjir di kawasan tersebut, umunya wilayah Jakarta menjadi tidak terkontrol.

Ada sistem alami yang melindungi, seharusnya itu yang dipelihara karena itu sangat bermanfaat. Selain itu, tanaman bakau tidak hanya membatasi Jakarta dari banjir namun juga membersihkan air. Namun hal yang terpenting ialah tanaman bakau telah memberi konektifitas,” ungkap Hannah.

Disini sangat banyak informasi yang dapat diambil dan dapat dikatakan bahwa koneksi antara manusia dan kampung (alam) menjadikan sangat sulit diakses itulah kenyataan yang kita hadapi ketika tinggal di sini.  Lalu di malam terakhir, Hannah dan Jorgen bermalam di Marunda yang terdiri atas banyak rumah susun. “Ini merupakan rumah susun terbesar di sini dan di Asia Tenggara. “Ujarnya.

 

penulis: Delaneira Humaira, Mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah Kota, Universitas Brawijaya, Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *