Membaca fenomena Sudirman, Citayam, Bojonggede dan Depok

Sudah hampir 2 bulan, berbagai media dan media sosial meliput tentang para remaja dari kota tetangga Jakarta yang nongkrong, berpose dan berlenggak-lenggok di sekitar Terowongan Kendal atau MRT Dukuh Atas. Aksi mereka viral via Tiktok, hingga masuk ke Twitter dan media sosial lain. SCBD (Sudirman Central Business District) pun berubah makna menjadi SCBD Citayam. Popularitas kegiatan Jeje, Slebew, Bonge dan teman-temannya telah membawa mereka jadi duta kebersihan (walau akhirnya dibantah) hingga konten berturut-turut Gubernur DKI Jakarta.

Beberapa minggu lalu muncul opini di media sosial bahwa Jeje dan teman-temannya memilih Dukuh Atas menjadi bukti akan kegagalan kota-kota seperti Depok dan Bogor dalam menciptakan sarana publik murah bagi masyarakat kecil. Wakil Walikota Depok menolak opini tersebut dan menyatakan bahwa Alun-Alun Kota Depok yang baru adalah alun-alun terkeren di Indonesia. Entah apa dasar penilaian keren atas alun-alun yang dibuat oleh Pemprov Jabar tersebut, mengingat Depok tidaklah mengenal tradisi alun-alun.

Rutin dan awetnya paparan berbagai tingkah laku Jeje, Siebew, Bonge dan kawan-kawan bahkan sampai menimbulkan dugaan bahwa ini kerja intelejen. Sementara kaum muda pinggiran metropolitan berlengggak-lenggok dan membuat berbagai konten, para tua-tua dari Boomer, Gen X hingga Millenial sibuk membuat analisa, berkomentar, berspekulasi, hingga mencela. Sebagaian celaan terhadap fenomena tersebut juga dibalas dengan  bahwa tingkah dan lenggok para remaja Depok dan Bogor tak ada bedanya dengan kelakuan para Jaxelnians saat sedang berkunjung ke Canggu dan Ubud.

Sebetulnya apa yang terjadi di Dukuh Atas, termasuk mengapa para remaja berkumpul dan menampilkan gaya terbaik mereka, bukanlah sesuatu unik yang hanya terjadi di Jakarta. Klaim ruang lewat ekspresi kelompok muda juga terjadi di berbagai kota-kota dunia, yang akhirnya melejitkan nama-nama distrik tertentu. Tokyo misalnya, tak akan bisa dilepaskan dari tren Lolita dan streetwear di Harajuku, Gyaru dan Shibuya, Agejo di Shinjuku atau cosplayer di Akihabara. Interaksi dan ekspresi komunitas dan pelakunya menjadi Lolita, Gyaru hingga Agejo sebagai subkultur yang kaya yang akhirnya membuat Tokyo dan budaya Jepang makin menarik.

Image
Kembar berusia 16 tahun dengan gaya busana kawaii (@tokyofashion)

Jika tidak berhati-hati, maka bisa saja ada yang menyamakan subkultur di Harajuku, Shibuya hingga Shinjuku dengan yang terjadi di Kendal Dukuh Atas. Memang, subkultur di Tokyo juga dimulai oleh remaja yang berkomunitas. Kelompok subkultur ini menjadi ruang aman dan kreatif bagi kaum muda untuk menggali identitas baru dan berbagai macam gaya yang tidak terakomodasi pada budaya dominan mereka (Winge, 2017). Alasan mereka bergabung dalam kelompok subkultur juga sebagai bentuk penolakan atas nilai dan praktek hidup yang terjadi pada orang tua mereka, termasuk keinginan untuk memperpanjang masa kanak-kanak dan menolak tanggung jawab. Yuniya Kawamura dalam buku Fashioning Japanase Subculture, memberi contoh subkultur Gyaru di Shibuya lahir saat Jepang sedang memasuki resesi di pertengahan 1990an. Mereka berkumpul di sekitaran gedung Shibuya 109, mall yang menjadi sumber dadanan dan fashion trendi bagi kelompok Gyaru. Dandanan khas Gyaru adalah sengaja menggelapkan kulit agar terliat tangguh dan memakai busana seksi dan mencolok. Mereka kerap mabuk-mabukan, merokok dan berpesta pora. Para pembaca manga pasti langsung dapat mengidentifikasi Gyaru dalam berbagai komik shoujo. Filosofinya adalah lakukan segala hal yang tidak bisa kamu lakukan saat kamu menjadi dewasa.

Untuk mengetahui apakah Bonge Bojonggede dan Roy Citayam memiliki jeritan hati sama seperti para Gyaru di Shibuya, tentu tidak bisa semudah mengadakan wawancara ala Tiktok, konten Youtube atau media selama 1-2 menit saja. Ini saatnya para etnografer dan antropolog juga turun langsung untuk menggali secara serius dan sistematis tentang alasan sesungguhnya mereka membanjiri sekitar zebra cross Kendal dan bukan di JPO Instagrammable? Studi etnografis dapat membuka pengetahuan baru dalam memahami Gen Z yang tinggal di tepian (peripheral) megapolitan. Apakah benar klaim bahwa kaum muda ini telah mengenal Dukuh Atas, sebelum mereka tergusur dari Waduk Melati, Tanah Abang? Mengapa Kendal-Dukuh Atas dan bukan Kalijodo? Dan berbagai pertanyaan lainnya.

Citayam Fashion Week Ala Remaja SCBD Digelar di Dukuh Atas pada Minggu (17/7/2022) malam
Kala zebra cross berubah menjadi Fashion Week SCBD Citayam (foto dari Kompas.com)

Cocoklogi Harajuku dan Fashion Week Citayam sebagai subkultur adalah pengamatan prematur dan mengabaikan konteks dan relasi antara industri fashion dan lokasi. Kelompok streetwear berkumpul di depan butik BAPE, NBHD dan Underground di Harajuku. Nigo, pendiri BAPE memulai usaha di Harajuku dan mendapatkan pengaruh dari kreativitas dan gaya unik individual subkultur yang mewabah di pertengahan 1990. Harajuku menjadi tempat bagi desainer pemula untuk memulai usaha dan mendapatkan inspirasi. Di saat bersamaan, kaum muda menjadi konsumen para desainer tersebut.

Namun Kendal dan Dukuh Atas sangatlah jauh dari kegiatan kreatif seperti Harajuku. Sekitarnya hanyalah hotel bisnis, restoran Manado yang terkenal dengan ikan tude bakar, bangunan bertingkat kumuh yang terbaikan sambil menunggu harga naik selangit, showroom mobil, rumah makan dan kedai. Sekitar 100 meter ke Utara dari Jeje dan Bonge mondar mandiri di zebra cross, persil-persil tanah sudah berpindah tangan ke developer dan kini kosong. Tak ada hawa-hawa industri kreatif. Satu-satunya yang berhubungan dengan dunia fashion mungkin hanyalah minimarket yang turut menjual benang dan jarum.

Terlepas dari tiadanya kegiatan dan kegiatan usaha terkait fashion dan industri kreatif di Kendal dan Dukuh Atas, setidaknya ada 1 kemiripan dalam perencanaan kota antara Kendal dan tempat-tempat subkultur Tokyo, yaitu keberadaan hokoten. Hokoten, kependekan dari Hokousha Tengoku (surga pejalan kaki), adalah praktek penutupan jalan kendaraan bermotor dalam tempo waktu tertentu untuk sepenuhnya digunakan oleh pejalan kaki. Penutupan bisa terjadi pada saat makan siang, akhir pekan, hingga dalam rangka festival. Hokoten di Harajuku yang populer di tahun 1990an terjadi setiap hari Minggu dan berada pada sebagaian jalan Omotesando hingga Yoyogi Park. Berbeda dengan hokoten umumnya yang banyak menjadi tempat berjualan juga, Harajuku menawarkan ruang yang penuh dengan kegiatan ekspresi anak muda, mulai dari band alternatif hingga berbagai kaum muda berdandan sebagai lolita hingga cosplayer. Kaum muda dan subkulturnya telah mengklaim Hokoten Harajuku. Saat Hokoten Harajuku berhenti tahun 1995 dan Omotesando kembali menjadi jalan arteri sepenuhnya, lenggak lenggok kreativitas kaum muda tetap ada dan berpindah ke jalan-jalan kecil atau ruang lain sekitar Stasiun, walaupun jumlah pelaku dan ragam kegiatan berkurang.

Terowongan Kendal dan jalan sekitar MRT Dukuh Atas tadinya adalah jalan 2 arah yang menghubungkan Jalan Sudirman ke arah Kuningan dan Manggarai. Jalan tersebut menjadi titik kemacetan dan pejalan kaki yang hendak naik kereta pun selalu mengalami kesulitan saat menyeberang ke arah Stasiun Sudirman. Hampir bersamaan dengan pengoperasian MRT di 2019, Pemprov DKI memutuskan untuk menutup Terowongan Kendal dari lalu lintas dan mengubahnya menjadi plaza pejalan kaki yang menghubungkan antara MRT Dukuh Atas, Stasiun Sudirman dan Stasiun BNI. Walaupun puluhan ribu orang lewat setiap harinya, namun sangat jarang orang duduk dan berkelompok dalam waktu lama. Ada kelompok pesepeda yang berhenti sebentar, atau kelompok skate-boards yang berusaha unjuk diri di tengah lalu lalang komuter. Tentu mural-mural di terowongan mengundang berbagai orang untuk berhenti dan swafoto. Terowongan Kendal dan Dukuh Atas awalnya sekadar tempat lalu lalang; sampai akhirnya tiba musim liburan sekolah 2022, pemuda pemudi Citayam, Depok dan Bojonggede datang dan mengklaim dan menduduki ruang tersebut dengan bersenjatakan Tiktok dan rupa gaya dan ekspresi. Jika Terowongan Kendal masih berupa jalan dua arah yang penuh klakson dan asap mobil motor, jangan harap Jeje mau nongkrong dan mengenakan busana terbaiknya di Dukuh Atas.

Jakarta sebetulnya memiliki beberapa tempat (sedikit sekali, tidak banyak) yang telah membebaskan diri dari kendaraan bermotor dan menjadi plaza pejalan kaki, misalnya Lapangan Fatahillah Kotatua (pasca revitalisai 2009 menutup setidaknya 4 jalan), dan Pasar Baru. Lapangan Fatahillah berada sekitar 200 meter dari Stasiun Kota, dan ongkos pulang pergi Bonge ke Stasiun Kota sama dengan ke Stasiun Sudirman. Fatahillah sudah ada sejak dulu, namun memiliki kerumuman yang berbeda dengan Dukuh Atas. Fatahillah tidak didesain sebagai tempat nongkrong, ia dikelilingi oleh bangunan kolonial dan berada pada struktur kota yang kuat dan simetri. Lansekap Fatahillah menggambarkan suasana formal dan otoritatif, serta lapisan bangunannya pun seragam.

May be an image of 3 people
Lesehan di Kotatua, menikmati sejuknya malam di Desember 2015. Sumber foto: Mules Kotatua

Hampir 1 dekade lalu, ada upaya rakyat untuk mencairkan suasana formal Fatahillah, saat berbagai orang membawa tikar dan lesehan sore hingga malam di lapangan tersebut, lengkap dengan kelompok PKL di antara Kantor Pos dan Gedung Jasindo. Namun dengan masuknya agenda revitalisasi Kotatua yang dibawa oleh korporasi di 2014 dan ambisi untuk menjadi “World Heritage”, kegiatan kerakyatan murah meriah dan nongkorong lesehan tersebut tergusur dan kini Lapangan Fatahillah yang didesain terbuka tersebut mendadak jadi punya jam buka tutup, seperti layaknya PLAZA Indonesia.

Kendal dan Dukuh Atas tidak berpagar. Tidak ada jam buka tutup. Jadwal kereta dan MRT terakhir yang membuat tempat tersebut secara alami menutup diri. Lapisan lansekap di sekitarnya pun beragam dan tanpa dominasi langgam tertentu. Mural oleh Darbotz dan berbagai seniman lain seakan mengundang kaum muda untuk membebaskan diri dari formalitas. Di saat bersamaan juga menghadirkan lansekap moderen yang menjadi latar belakang Dukuh Atas, sementara pada latar depan tak ada satu bangunan masif mendominasi, seperti layaknya Museum Fatahillah.

Tidak ada seragam pada permukaan Dukuh Atas dan sekitarnya. Lansekap beragam dan bermacam-macam orang yang lalu-lalang dari dan menuju stasiun menawarkan kehidupan kota, atau urbanity. Kota juga menawarkan orang untuk hidup secara individu unik dan berkelompok, dan secara bersamaan kota memungkinkan individu menutup diri atau menjadi pusat perhatian secara bersamaan. Seperti kata Richard Sennet (1974), sosiolog perkotaan dari LSE, “Urbanity is about the presence of differences and the experience of otherness in a city and about being immersed in the public sphere while breaking away from the tyranny of individuality.” Urbanity menawarkan gairah dan keberagaman kota dan ruangnya (Jane Jacobs, 1961). Kualitas yang ditawarkan urbanity tersebut hanya bisa dinikmati penuh melalui berjalan kaki yang eksploratif atau keluyuran ala flaneur. Dan apakah alun-alun paling keren se Indonesia di Depok yang tak punya tradisi alun-alun, mampu menawarkan kualitas ruang, lansekap dan kesempatan serupa?

Kehadiran Roy dan kawan-kawan di ruang publik Dukuh Atas seharusnya mengingatkan kita semua akan pentingnya ruang publik berkualitas, tanpa pagar dan demokratis. Ruang publik dan transportasi publik keduanya adalah contoh palace for the people (istananya rakyat). Perpaduannya dapat menghasilkan kreativitas dan pertemuan yang tak terduga. Ruang publik yang demokratis memungkinkan pengguna untuk mengontrol dan menjaga ruang tersebut secara bersama-sama, apalagi di bawah jutaan mata virtual yang turut hadir lewat ruang publik maya. Dalam waktu sekejap, munculnya sampah berlebihan di Dukuh Atas, tak hanya membawa Jeje dan Roy diangkat jadi Duta Sampah oleh Pemprov DKI-yang kemudian dibantah (suatu kebiasaan “unik” negeri ini, ketika pelanggar aturan tertentu malah menjadi Duta), tapi juga akhirnya mulai ada ajakan antara sesama mereka sendiri untuk sama-sama menjaga kebersihan.

Apakah SCBD Citayam hanya fenomena sesaat atau bisa menjadi subkultur sesungguhnya? Bisa jadi hanya fenomena sesaat, dan bisa saja akan berpindah atau menghilang, apalagi tanpa ditopang oleh interaksi dalam industri, produsen maupun ruang produksi saat fenomena tersebut muncul. Interaksi organik yang terjadi di Harajuku adalah hal yang sulit untuk direproduksi ulang. Lalu pertanyaan terakhir, apakah kemunculan dan viral Jojo dan kawan-kawannya di awal liburan sekolah benar operasi intelejen seperti klaim para Gen X (dan mungkin Boomer)? Tidak penting, dan tulisan ini adalah tentang kota, ruang publik dan urbanity serta Jeje dan Roy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *