Posts Tagged ‘spatial plan’


15 Oct 2011

Draft Rencana Detil Tata Ruang Jakarta 2030

Rujak mendapatkan Draft RDTR (Rencana Detil Tata Ruang) Jakarta tahun 2010 kemarin. RDTR merupakan turunan dari RTRW, dimana ia merupakan masterplan per kotamadya di Jakarta dan akan mengatur hingga kecamatan dan kelurahan.
Disini warga dapat melihat lebih jelas lagi apa yang akan terjadi pada lingkungan kehidupannya hingga tahun 2030, apa yang direncanakan pemerintah daerah lewat konsultan dan Dinas Tata Ruang, yang disusun tanpa banyak partisipasi masyarakat.

Silakan menelaah isi Naskah Akademis Rencana Detil Tata Ruang ini: (Naskah Akademis adalah dokumen persiapan yang menganalisa sebuah produk peraturan dan undang-udang, sebelum disusun.)

http://www.scribd.com/fullscreen/68829985?access_key=key-n9p25d4mxfrgy8wyqb6

http://www.scribd.com/fullscreen/68830169?access_key=key-1w8t6nqoqv32lcjxofvs

http://www.scribd.com/fullscreen/68830263?access_key=key-1oi2nhm37e7gutk1iuoq

http://www.scribd.com/fullscreen/68830664?access_key=key-moyzd9p0u5thkgel2jl

http://www.scribd.com/fullscreen/68831114?access_key=key-dbxjuh3iid5fpzflpso

http://www.scribd.com/fullscreen/68830970?access_key=key-hb7vzpshzlinwu75zm4

http://www.scribd.com/fullscreen/68830450?access_key=key-yth7gdveth1z451qafv

http://www.scribd.com/fullscreen/68831521?access_key=key-1b8hpbwgpun333xr21zz

Berikut adalah Draft Raperda Rencana Detil Tata Ruang Jakarta 2030:

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |


06 Apr 2011

Susah Payah Jalan Kaki di Manggarai

Semesta transportasi Manggarai. Foto dari Lantai 5, Pasaraya.

Siapa warga Jakarta yang tak tahu Manggarai? Disitu ada Pasar Rumput, surga bagi pemburu bahan bekas, dan beken sebagai gudangnya saniter bekas. Bagi yang tinggal di daerah Bodetabek dan pengguna kereta api, pasti akrab dengan stasiunnya. Lalu di musim penghujan, kita warga Jakarta pun was-was dengan ketinggian di pintu air Manggarai, karena begitu pintu air tersebut dibuka di saat ketinggian berbahaya, maka Istana Negara pun bisa tergenang.

Manggarai pun menjadi cermin tak bercela atas sabarnya warga kota ini dan semerawutnya infrastruktur kota. Bukti bahwa warga kota sangat toleran terhadap kota ini ada pada saat kita mulai turun Stasiun Manggarai, atau saat kita menggunakan Halte TransJakarta.

Tepat didepan Halte TransJakarta, ada Pasaraya Manggarai, namun pengunjung tidak bisa dengan mudah masuk kedalam pertokoan, karena harus melewati jalan raya tanpa jembatan penyeberangan, dan mengelilingi pagar sebelum akhirnya masuk ke pintu utama.

Dengan adanya Stasiun Manggarai dan Halte TransJakarta Manggarai (dan dahulu sempat ada Waterway), Manggarai adalah bagian kota yang diberkahi segala kemudahan transportasi. Tapi benarkah demikian? Esai foto berikut menggambarkan urban hiking dari halte TransJakarta ke Stasiun Manggarai: Februari 2010. Padahal, undang-undang menjamin hak-hak pejalan kaki (Editorial).

1. Selepas turun dari bus, pintu keluar mengarah ke Pasaraya Manggarai, sementara Stasiun Manggarai berada diarah sebaliknya. Maka kita harus memutari halte, berjalan di tepian jalan – berhadapan langsung dengan kendaraan yang lalu lalang.

2. Setelah berhasil memutari maka masuklah kedalam terowongan, hati-hati karena jalur tersebut tak rata dan sempit.

Melewati terowongan. Di atasnya: rel kereta api.

3. Sebelum sampai ke ujung seberangilah jalan tersebut, dan akan berjumpa dengan ini

Ada taman kecil dipagari

4. Lalu di sebelah selatan ada ini

Panjatlah tangga ini...

dan hati-hati ketika naik ‘tangga’.

Hati-hati dengan pegangan...ada paku!

5. Setelah menaiki tangga batu, masih ada lagi yang satu ini.

hati-hati saat menuruni tangga

6.  Lalu jangan lupa untuk membayar Rp 1000 kepada bapak berbaju putih

Bayar 1000 untuk jasa penempatan tangga-tangga

7. Dan anda akan langsung bertemu dengan rel-rel Stasiun Manggarai, silakan ikuti rel untuk menuju Stasiun Manggarai. Tidak dianjurkan bagi pengguna sepatu hak. Stasiun Manggarai ada disebelah kanan.

Melintasi rel: hati-hati, tengok kiri-kanan dulu.

Setelah sampai di platform, ada tangga lagi menuju platform stasiun, dan ini adalah bagian belakang stasiun. Sehingga ada kemungkinan untuk naik kereta tanpa membeli karcis lagi.

Sesuatu yang seharusnya mudah, dibuat sulit di Manggarai. Antara Stasiun Manggarai dan Halte TransJakarta ternyata saling bertolak belakang, dan keduanya berada dalam ketinggian berbeda. Hal itu mungkin kesannya sepele, tapi menjadi masalah besar bagi keberhasilan transportasi umum di Jakarta.

Selepas Stasiun Manggarai, maka ada opsi lain jika sungkan melewati tangga, bisa juga menaiki rakit penyeberangan yang dioperasikan warga kampung Menteng Jaya.

8. Hati-hati menuruni tepian kali Ciliwung

naik rakit untuk kembali ke halte TransJakarta

Ruwetnya Manggarai ini ternyata tidak mampu mehalangi ambisi Pemprov Jakarta. Di awal tahun 2010 ini, pemerintah bahkan menetapkan Manggarai sebagai stasiun utama komuter, bahkan saat Rujak berkunjung, pintu platform otomatis tengah dipersiapkan. Mari kita tunggu, bagaimana langkah pemprov demi mewujudkan impian tersebut. Minimal impian tersebut seyogyanya mampu membuat para pelaju (komuter) untuk mempu berjalan kaki selayaknya manusia.

7 Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: Institute for Transportation and Development Policy |


09 Feb 2011

Bagaimana Masa Depan Jakarta 20 tahun kedepan?

Tentu tidak mungkin kita membaca masa depan. Namun setidaknya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lewat perencanaan Bapeda sudah merencanakan bagaimana kota Jakarta di masa 20 tahun kedepan.
Rupa-rupa rencana tersebut terekam dalam Raperda Rencana Tata Ruang Jakarta, yang versi terakhirnya bisa diunduh di situs resmi DKI Jakarta: www.jakarta.go.id

Tentu tidak mudah membaca dokumen sebanyak 171 halaman dan berisikan 250 pasal lebih. Tetapi disitulah langkah awal masa depan Jakarta. Untuk sedikit mempermudah warga dalam proses mengenali Raperda Rencana Tata Ruang Jakarta 2030, maka berikut kami sampaikan sedikit rangkuman:

1. Rencana Tata Ruang Jakarta berlaku 20 tahun disebut #RTRWJakarta2010-2030, disusun sebagai revisi atas yang sebelumnya (tahun 2005), karena ada UU 26/2007 tentang Penataan Ruang

2. UU dan PP baru terhadap #RTRWJakarta: UU Penataan Ruang 2006, PP RTRW Nasional 2008, Perpres Jabodetabekpunjur 2008, UU LH 2009, UU Informasi

3. #RTRWJakarta berlaku selama 20 tahun dapat direvisi setiap 5 tahun sekali.

4. #RTRWJakarta wajib berkoordinasi dengan wilayah sekitar: Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok hingga Puncak Cianjur, terutama terkait masalah transportasi dan air.

5. #RTRWJakarta disusun oleh Bappeda Jakarta dibantu konsultan. RDTR (Rencana Detil Tata Ruang) disusun oleh Dinas Tata Ruang dan konsultan

6. #RTRWJakarta disusun atas dasar asumsi sebagai berikut: Penduduk 10 jt, kepadatan 150/Ha (data BPS), pertumbuhan ekonomi 6-7% (hsl diskusi FGD)

7. Basis Ekonomi dlm #RTRWJakarta:pariwisata, perdagangan, industri kreatif, jasa dan keuangan, industri teknologi tinggi dan non polutif

8. #RTRWJakarta adalah KHUSUS karena statusnya sebagai ibukota, Pusat Kegiatan Nasional, Propinsi-kota dan masuk dalam megapolitan Jabodetabekpunjur

9. Isu2 stategis dalam #RTRWJakarta 20 tahun kedpn: sistem&prasarana transportasi, tata air&pengendalian banjir, RTH, climate change, ekonomi, urban sprawl, mitigasi bencana, sarana prasarana publik dan pendanaan

10. Visi menurut #RTRWJakarta: Jakarta adalah Ibukota NKRI yang nyaman, berkelanjutan dan dihuni oleh masyarakat yang sejahtera.

11. Dalam #RTRWJakarta penduduk tahun 2030 tertera sejumlah 12,5 juta jiwa, tanpa jelas maksudnya jika lebih dari jumlah itu maka akan bagaimana?

12. Strategi #RTRWJakarta dalam kaitan tata ruang&ekonomi adalah prioritas pengembangan ke Utara, Timur Barat, & pembatasan pertumbuhan Selatan, reklamasi dan revitalisasi pantai Utara

13. Terkait dengan reklamasi dan revitalisasi Pantai Utara, Pasal 122 ayat D menyatakan perlu kembangkan perumahan menengah atas di Reklamasi

14. Strategi #RTRWJakarta juga mengendalikan, membatasi, dan mengurangi pembangunan berpola pita; contohnya: ruko sepanjang jalan

15. Target RTH di #RTRWJakarta 20 th ke dpn, RTH Publik 14.27% & Private 20.24%. Akan ada lahan sebesar 40xLapangan Monas terkonversi utk publik

16. Arah pengembangan #RTRWJakarta bangun kawasan Sentra Primer Barat, Sentra Primer Timur, Segitiga Emas Setiabudi, Manggarai, Jatinegara, Bandar Baru Kemayoran, Dukuh Atas, Mangga Dua, Tanah Abang, Pantura, KEK Marunda & lainnya

17. #RTRWJakarta juga meminta mempercepat revitalisasi kawasan kota tua sebagai pusat kegiatan pariwisata sejarah & budaya.

18. Rencana struktur ruang Jakarta dibagi jd: Pusat Kegiatan, transportasi, Sarana&Prasarana SDAir, Jaringan Utilitas

19. sistem pusat kegiatan adalah kawasan yg diarahkan bg pemusatan bbg kegiatan campuran, spesifik, fungsi strategis #RTRWJakarta

20. Pusat kegiatan primer #RTRWJakarta seperti Medan Merdeka, Mangga2, Kemayoran, Tanah Abang, Dukuh Atas,

21. Pusat kegiatan sekunder #RTRWJakarta seperti glodok, harmoni, senen, jatinegara, kelapa gading, Blok M, Grogol dan Pulau.Pramuka

22. Tetapi kegiatan primer&sekunder tidak diatur lebih lanjut dalam #RTRWJakarta, melainkan nanti di dalam peraturan gubernur  (Pergub)- yg diputuskan sepihak oleh gubernur

23. Selain Pusat Kegiatan Primer, Sekunder, Tersier, dalam #RTRWJakarta ada juga Kawasan Strategis Nasional dan Daerah. Semua akan diatur Pergub

24. Kawasan Strategis Lingkungan #RTRWJakarta adalah kawasan di sepanjang Kanal-Banjir Timur, Kanal-Banjir Barat, dan S.Ciliwung

25. Dalam visi #RTRWJakarta disebutkan kota yang berkelanjutan, karenanya mereka bermaksud kurangi pembangunan pola pitahttp://bit.ly/exaiIg

Tetapi pembangunan pola pita yg tdk berkelanjutan itu malah dianjurkan di pasal 94, di kawasan ekonomi berintensitas tinggi (berlantai banyak)

Pasal 94 ayat 2d: Pemanfaatan ruang di kawasan strategis campuran permukiman dapat berbentuk pita dan superblok, dengan proporsi 35-65% terkait resapan air

26. Kawasan Strategis #RTRWJakarta untuk sosial-budaya: Kota Tua, Taman Ismail Marzuki dan Menteng.

27. Menurut #RTRWJakarta pengembangan pantai-utara harus menjamin pemanfaatan pantai untuk kepentingan umum (Pasal 99). Bgmn dgn Ancol?

28. Sektor Informal:pengembangan kawasan perdagangan harus alokasikan sektor informal sesuai proporsi kegiatan ekonomi yg dikembangkan (tadak ada%nya)

29. Tertarik dengan isu transportasi di #RTRWJakarta? Pasal 6 ayat 2b: membangun sistem angkutan umum massal sebagai tulang punggung

30. Strategi transportasi #RTRWJakarta kembangkan pusat kegiatan pada simpul angkutan umum massal melalui konsep TOD (Transit Oriented Development)

31. Pengembangan sistem & pola jaringan jalan arteri, dapat dilaksanakan secara layang pada koridor tertentu & harus memiliki jalur khusus utk angkt massal

32. Sistem Prasarana Sumber Daya Air (SDA) #RTRWJakarta mencakup isu: konservasi, pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air (banjir+genangan)

Rencana soal SDA di #RTRWJakarta mencakup bangun waduk/situ di wilayah tepat DAS Ciliwung (atau yg lain). Belum jelas dimana tepatnya

33. Rencana soal daya rusak air di #RTRWJakarta yaitu tingkatkan kapasitas aliran Banjir Kanal, Cengkareng Drain dan bangun Cengkareng Drain 2

34. Rencana soal daya rusak air di #RTRWJakarta termasuk didlmnya adl membangun sumur resapan&lubang biopori. Tp tdk ada kejelasan lg disitu

Rencana soal daya rusak air di #RTRWJakarta : pelebaran & pendalaman muara sungai di Teluk Jakarta, serta mensinkronkan rencana reklamasi

35. Terkait dgn distribusi air bersih, #RTRWJakarta berjanji utk pengembangan jaringan distribusi air bersih ke wilayah barat, timur, utara

Untuk penjelasan lebih lanjut, sila simak Raperda RTRW jakarta 2030 dibawah ini.

Apakah anda optimis dengan masa depan Jakata?

Selengapnya, silakan klik:

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


08 Feb 2011

Rapat Dengar Pendapat Umum Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030

Raperda Rencana Tata Ruang Wilayah yang akan berlaku selama 20 tahun sudah masuk kedalam ranah DPRD Tk.1 Jakarta. Karena itu DPRD mengadakan Rapat Dengar Pendapat Umum mengenai Raperda terkait.

Hari & Tanggal: Selasa & Rabu, 8 & 9 Februari 2010

Waktu : jam 10.00 WIB

Lokasi : Gedung Rapat Panitia II Lt.2, DPRD Jakarta, Jl. Kebon Sirih 18 Jakarta Pusat

Kopi Surat Undangan:

Stop Press:

Mendadak, pihak DPRD membatalkan pertemuan kedua, yang sedianya diadakan tanggal 9 Februari 2011, dengan alasan ” Masukan dari warga dianggap sudah cukup “. Padahal masih banyak pertanyaan dari warga yang belum ditanggapi oleh DPRD maupun Pemprov.

Masukan HANYA bisa dikirim via jalur email: balegdadprddkijakarta@yahoo.co.id

Namun hingga kini tidak ada sama sekali mekanisme pemberian masukan yang jelas, baik dari pihak DPRD dan Pemprov. Bagaimana proses memberikan masukan, dan apakah masukan diterima atau tidak.
View Jalan Kebon Sirih in a larger map

1 Comment »

Topics: , | Agent of Change: none |


22 Jan 2011

Peluncuran Program Pemantauan Tata Ruang oleh Warga

Konferensi Pers

oleh Rujak Center for Urban Studies (RCUS)

Selasa
25 Januari 2011
Jam 15:00

Di
Kantor KPBB,
Gedung Ranuza, Lantai 3,
Jalan Tiimor No 10
Menteng, Jakarta Pusat.

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |


03 Dec 2010

Mal dan Universitas, Kambing Hitam baru Kemacetan Jakarta?

Hari Minggu, 14 November 2010 lalu, Detik.com mengeluarkan artikel menganjurkan pemindahan mal dan kampus ke luar kota Jakarta sebagai solusi macet. Detik.com mewawancarai Danang Parikesit dan Emil Salim sebagai sumber argument artikel. Danang Parikesit mengatakan, “Mal dan kampus pasti menyumbang kemacetan karena menyebabkan mobilitas orang bergerak”, dan “Itu bagian dari strategi besar. Jangan lupa kalau mau relokasi siapkan jaringan angkutan umum yang massal. Karena kalau tidak itu hanya memindahkan kemacetan baru ke pinggir kota”. Sementara Emil Salim mengambil contoh Washington DC, menurut beliau mal tidak terdapat didalam kota. Tambahnya, “Gula-gula mari kita distribusikan ke Jabodetabek. Siapa yang pergi ke mal? Itu orang bermobil, dan mal selalu punya kawasan pelataran parkir.”

Lalu pertanyaannya, benarkah demikian? Dan benarkah semudah itu?

Tentu opini ini tidak ingin menyoroti ketidakakuratan komentar Emil Salim, soal keberadaan mal di dalam kota Washington DC. Nyatanya ada mal sebesar 2 kali luas tanah Plaza Semanggi dan memiliki 1000 tempat parkir, dengan jarak 5 kilometer dari Gedung Putih. Selain mal berukuran sedang yang bertebaran di pusat kota, kampus utama Georgetown University menempati lebih dari 40 hektar (atau lebih dari 40 kali lapangan sepak bola) di distrik Georgetown dengan jarak kurang dari 5 kilometer juga dari Gedung Putih.

Jika menengok kawasan Grogol, ada 3 kampus besar berdekatan, yaitu Fakultas Kedokteran Gigi Trisakti, Sekolah Tinggi Trisakti, Universitas Trisakti dan Universitas Tarumanagara. Sementara di sisi Barat terdapat Fakultas Ekonomi Universitas Tarumangara dan UKRIDA.  Memang benar jika keberadaan kampus tersebut menimbulkan mobiitas. Tapi tidak benar jika mobilitas tersebut menimbulkan kemacetan. Sebagian besar mahasiswa tersebut tinggal di dekat kampus, atau tepatnya di rumah kost maupun apartemen dengan jarak kurang dari 1 kilometer dari bangunan kampusnya. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik angkutan umum, dan ada yang memilih motor, serta memilih mobil.

Ternyata titik kemacetan bukan berada di universitas-universitas tersebut, melainkan sekitar 100 meter dari Universitas Tarumangara, lokasi kongesti pertemuan antara jembatan layang Grogol, pintu masuk tol dalam kota, jalan layang masuk tol Kebon Jeruk-Tangerang hingga perputaran balik. Jalan Jenderal S.Parman menjadi gerbang menuju Utara-Selatan sekaligus pintu transportasi logistik antar kota dan pulau. Kondisi diperparah dengan penyempitan lebar jalan dari 30 meter menjadi 17 meter sebelum pintu masuk Tol Dalam Kota, hingga tinggal 12 meter saat menaiki jembatan layang masuk ke Jalan Tol Kebon Jeruk-Tangerang.

Lalu apakah mal dapat dijadikan kambing hitam karena fasilitas parkirnya? Adalah terpulang bagi pengembang dan arsitek mal dalam memanfaatkan Koefisien Dasar dan Luas Bangunan sesuai peraturan, termasuk besaran alokasi tempat parkir. Jangan-jangan yang menjadi masalah bukan berapa sedikit jumlah parkir, melainkan masalah aksesibilitas mal tersebut terhadap transportasi umum dan trotoar. Bangunan-bangunan di Jakarta jarang memberikan akses murah hati menghubungkan bangunan dengan halte dan trotoar; dimana pengunjung tanpa mobil dan pejalan kaki dapat mudah memasuki bangunan tanpa berpeluh maupun kehujanan. Bahkan hanya sedikit bangunan dan mal rela memberikan kemudahan perpindahan pengunjung dari gedung satu ke gedung yang lain, entah itu dalam memberikan jembatan penghubung hingga pintu masuk yang berhadapan, atau minimal tidak memagari seluruh batas bangunan. Masalahnya bukan di pemanjaan terhadap yang bermobil, tapi penganaktirian terhadap yang tidak bermobil.

Lalu masalah berkembang tak berhenti pada aksesibilitas, tapi bagaimana menarik minat golongan menengah untuk mau menggunakan transportasi umum. Jika hal seperti ini tidak dipecahkan, percuma saja ada fasilitas transportasi umum di mal luar kota.  Jika mau ditarik lebih panjang lagi, bagaimana dengan tata ruang permukiman Jakarta, serta kecenderungan suburbanisasi kota.

Penyebaran gula-gula di luar Jakarta pun bagai pindahkan masalah, bahkan cenderung memperburuk kondisi. Gula-gula di luar kota akan mendorong pertumbuhan sporadis dan menyebar, atau kerap disebut sprawling. Sprawling tak terkendali sudah terjadi di periperi Jakarta, seperti Serpong, Bintaro, Cinere, Cimanggis, Depok, Cibubur, dan lain lain, yang tak hanya mengikis daerah resapan air di Selatan Jakarta juga mengurangi lahan pertanian perkotaan. Dari sekian pengembangan sporadik tersebut hanya segelintir seperti Depok dan sebagian kecil Serpong dan Bintaro yang terhubung dengan trasportasi rel, sementara sisanya bergantung pada pertemuan jalan-jalan tol, termasuk diantaranya Jakarta Outer Ring Road 2 yang belum selesai dibangun. Sedangkan arah kebijakan transportasi terkini adalah pembangunan MRT di dalam kota Jakarta, melewati jalur yang sama tempat Universitas Atmajaya hingga Plaza Indonesia berada. Sementara Universitas Tarumanagara, Trisakti, Central Park, ITC Roxy Mas hingga Mal Taman Palem nantinya akan berdekatan dengan rencana koridor MRT Timur-Barat.

Jika begitu ingin memreteli fungsi di Jakarta serta memindahkannya keluar Jakarta, mari jeli dulu perhatikan Jakarta. Contoh mengingat mahalnya tanah Jakarta maka pindahkanlah kegiatan yang memakan lahan besar namun nilai ekonominya rendah. Tentu tidak masuk akal jika masih ada pabrik plastik dan sepatu dalam radius 10 kilometer dari Monas. Sama tidak masuk akalnya keberadaan penampungan mobil baru berlokasi strategis di Sunter dan akan dilewati TransJakarta, dengan luas total lebih dari 15 hektar.

Teliti dulu sebelum serta merta menuduh Universitas Atmajaya dan Plaza Semanggi menyumbang mobilitas tinggi lewat kendaraan pribadi sehingga menimbulkan kemacetan di mulut Jembatan Semanggi. Jeli melihat kondisi Jalan Sudirman-Thamrin sebagai pertemuan koridor Utara-Selatan, dan Timur-Barat, tentunya beban jalan tersebut sudah menumpuk dari sejak hilir hingga ke hulu, jangan mudah mereduksi langsung pada keberadaan universitas dan mal. Keberadaan kedua fungsi tersebut hanyalah dua dari sekian banyak faktor penarik mobilitas kendaraan pribadi di kota yang memang belum memiliki sarana transportasi umum yang memadai, aksesibilitas antar bangunan serta penghubung sarana pejalan kaki yang ideal dan nyaman. Permasalahan kota Jakarta tidak bisa dipecahkan jika kita hanya dengan mudahnya mereduksi masalah yang ada, dan mengabaikan yang lain.

7 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


10 Aug 2010

URBANIZATION IN CLIMATE CHANGE: Call for Papers

EXTENDED DEADLINE FOR ABSTRACT SUBMISSION

August 13, 2010

Indonesian Association of Planners (IAP) – International Conference on

URBANIZATION IN CLIMATE CHANGE:

Spatial Planning as a Strategy Towards Resilient and Low Carbon Cities

19-20 October 2010, Jakarta, Indonesia

http://conference-iap2010.com/

Final Call for Papers

In response to the growing global concern on climate change and its impact to the cities, and hope to formulating the near ideal solution to maintain and improve the sustainability of the cities, Indonesian Association of Planners (IAP) is pleased to present international conference with the theme “URBANIZATION IN CLIMATE CHANGE: Spatial Planning as a Strategy Towards Resilient and Low Carbon Cities”. This event is an initiative of the IAP in collaboration with Directorate General of Higher Education – Ministry of Education and Urban Studies Postgraduate Program UI (Universitas Indonesia), to be held on 19 – 20

October 2010 at

Hotel Borobudur, Jakarta.

The aim of the conference is to promote a stronger collaboration among practitioners, academicians, community leaders, public and

government officials, policy-makers, civic activists and other professionals from diverse disciplines and regions around the

world

in order to capture the benefits of urbanization, as well as mitigate and adapt to climate change and socioeconomic change and their

impacts. Its objective is to share and learn from international and local experiences regarding current issues, best practices and

policy implications of creative collaboration on spatial planning.

The following four suggested topic areas are

intended to guide your submissions; however, they should not be viewed as exclusive

which are:

1.       Climate Change Impact to Urban Infrastructure, including the topic of housing and settlement; road and other transportation

infrastructure; social and economic facilities, and urban heritage building as well.

2.       The Risk of Urban Coastal Community, including the topic of vulnerability of the coastal area, the risk of economic

activities, social behavior changes, and the lifestyle adaptation.

3.       Planning tools for Resilient City (adaptation), including the topic of saving resources consumption, climate governance,

adapted community planning, and social capital for community resilience.

4.       Planning tools for Low-Carbon City (mitigation), including the topic of public  transportation system, energy saving,

green lifestyle, carbon emission, and re-urban design.

We expect the papers will come from the interdisciplinary approach which emphasize on integrating the spatial planning approach

to the climate change factors.

For further information please visit http://conference-iap2010.com/

Conditions

* Participants with best papers are excluded from participation’s fee

* Papers selected for the conference will be given assistance for either national or international publications by the reviewers.

- Papers written in English shall be addressed for international publications

- Papers written in Indonesian shall be addressed for national publications

Further information please visit http://conference-iap2010.com/abstrak.php

Or send an email to info@conference-iap2010.com

Registration

Registration has been opened since July 20th.

Please visit http://conference-iap2010.com/registrasi.php to register for the International Conference on Urbanization in Climate Change.

Registration fees:

Early bird registration (Before August 15th):

- General participants (IDR 300.000)

- Student (IDR 150.000)

After August 15th:

- General participants (IDR 500.000)

- Student (IDR 300.000)

Payment should be transferred to:

Bank Mandiri Cabang Jakarta-Tebet

Account No. 124-0095032018

on behalf of Ikatan Ahli Perencana

Send the payment slip to info@conference-iap2010.com

Organizing Committee

IAP International Conference 2010 on Urbanization in Climate Change:

Spatial Planning as A Strategy Towards Resilient and Low Carbon Cities

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


19 Jul 2010

Lebih Baik Bikin Kolam Terbuka di Lapangan Monas

Pemda akan bikin reservoir bawah-tanah di Lapangan Monas (Kompas hari ini). Apakah tidak lebih baik bikin kolam besar sekalian yang terbuka sehingga menjadi feature yang berfungsi menampung air sekaligus bisa dinikmatii?Lapangan Monas sekarang dari segi landscape sangat datar dan karenanya sangat bising. Galian tanah untuk bikin kolam besar bisa untuk membentuk bukit dan lembah yang akan menjadi ruang-ruang mikro yang terlindung dari bising jalan sekitarnya.

Berikut ini visi yang pernah diajukan pada “Imagining Jakarta, 2004″ hasil kolaborasi antara seniman dan arsitek.

Lapangan MONAS dan Kota Bukittinggi

Medium: kayu, kaca

Marco Kusumawijaya, Hedi Harijanto

Lapangan Merdeka (dan sesungguhnya: seluruh Jakarta) perlu belajar dari Kota Bukittinggi tentang: ukurannya sendiri, keragaman dalam kepadatan melalui mixed-use, ekologi, topografi yang berbukit-bukit dan skala yang manusiawi.

Hampir seluruh inti-kota Bukittinggi muat di dalam Lapangan MONAS. Dengan topografi Bukittinggi, Lapangan MONAS (dan Jakarta) akan memiliki permukaan hijau yang lebih luas. Bukit akan juga menciptakan oase yang hening di lembah dan lereng dalamnya, melindunginya dari bising jalan di sekitar. Waduk raksasa berbentuk Ngarai Sianok akan menyimpan air. Topografi akan memberikan rentang probabilitas pengalaman yang tak terbatas. Dengan peningkatan kapasitas ekologis ini, maka ke dalam Lapangan MONAS dapat dimasukkan stasiun kereta api khusus dalam-kota yang sangat dibutuhkan oleh seluruh Jakarta, dan sebaliknya akan membuat Lapangan MONAS dapat dijangkau secara murah dan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.

Imagining Jakarta is a collaboration in 2004 by architects, urban designers/planners, poets, graphic designers, photographers, sculptors, and multi-media artists, to “imagine” visions for some urban spaces and issues in Jakarta. It was conducted through a series of  workshop in 2004, and the results were exhibited at Gallery Cemara in December 2004. The participants are: Marco Kusumawijaya, Adi “Mamo” Purnomo, Dewi Susanti, Bonifacius Djoko Santoso , Yuka, Irwan Ahmett, Paul Kadarisman, Erik Prasetya, Enrico Halim, Akhmad “Apep” Tardiyana, Gregorius Supie Yolodi, Hedi Hariyanto, Budi Pradono ,Yuka Dian Narendra and David  Setiadi.

DSC05079

Bagaimana kalau Lapangan Monas berkontur Bukittinggi? Dengan ngarai untuk menampung air, dan bukit serta lembah-lembah sebagai ruang mikro yang lebih dapat dinikmati daripada keadaan sekarang.

MarcoWork3IJ

Ruang pameran: sepadat dan sehiruk pikuk metropolis Jakarta. Bundaran HI (kini HIK) yang permukarannya diturunkan, dengan stasiun MRT di bawahnya, suatu visi yang kini mau tidak mau akan/harus terwujud segera.

For more pictures, see: http://www.flickr.com/photos/rujak/sets/72157620952348995/ (more…)

2 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


15 Jul 2010

Arsitektur dan Produksi Ruang Kota

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


29 Jun 2010

URBANIZATION IN CLIMATE CHANGE: Spatial Planning as a Strategy Towards Resilient and Low Carbon Cities

INTERNATIONAL CALL FOR PAPERS – Abstracts due 30 July 2010

Indonesian Association of Planners (IAP) – International Conference on

URBANIZATION IN CLIMATE CHANGE:

Spatial Planning as a Strategy Towards Resilient and Low Carbon Cities

http://conference-iap2010.com/

(more…)

2 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |