Bagaimana Memahami Situasi Sosial Masyarakat Jakarta dalam Perspektif Sosio-Psikologi

Permasalahan yang dihadapi dalam memahami situasi masyarakat di Jakarta cukup kompleks, khususnya masyarakat kampung kota yang memiliki karateristik yang sangat dinamis. Melihat pada praktek open government di Korea Selatan dengan cirinya yaitu adanya partisipasi dan kolaborasi masyarakat. Kedua ciri open government tersebut benar-benar diterapkan sehingga efektifitas dalam menghadapi COVID-19 menjadi contoh bagi negara lain dimana dari 11.400 kasus positif yang ada, 10.300 diantaranya sembuh dan hanya sebesar 269 yang meninggal dunia.

Korea Selatan sudah melakukan pelonggaran atau yang kita sebut dengan istilah new normal pada 6 Mei 2020. Namun, pada 28 Mei 2020, kebijakan karantina kembali diberlakukan setelah 3 pekan dilakukan new normal karena melihat adanya lonjakan gelombang kedua dari penyebaran COVID-19 sebanyak 79 kasus di Seoul, Ibukota Korea Selatan. Kasus tersebut merupakan kasus tertinggi kedua dalam waktu satu hari yang berarti gelombang kedua telah di mulai di Korea Selatan.

Kondisi New Normal di Korea Selatan. Sumber: REUTERS

Hal ini menjadi peringatan bagi Indonesia bahwa Indonesia belum memasuki episode melandai sehingga diperlukan kesiagaan dan kesiapan bukan hanya dari struktur kekuasaan tapi juga dari struktur sosial di tengah masyarakat. Perspektif sosiologis harus digunakan dalam upaya memahami masyarakat. Istilah yang diungkapkan oleh Durkheim, “Verstehen”, yaitu bagaimana kita yang masuk dalam city society betul-betul memahami masyarakat yang sebenarnya. Struktur politik pemerintah harus memahami masyarakat secara detil.

Oleh karena itu, cara kita membuka partisipasi masyarakat secara berkelanjutan memang harus benar-benar memahami masyarakat dan dari situlah pentingnya riset sosial. Dulu, ada satu data riset sosial yang utuh tentang 457 RW atau 12 kelurahan di Jakarta dalam hal sanitasi dan kehidupan masyarakat masih cukup memprihatinkan. Ada 12 kelurahan dan lebih dari 450 RW yang menurut data BPS menunjukan bahwa situasi sosialnya perlu diperhatikan secara spesifik. Hal ini menjadi tanda tanya apakah ada data sosial yang utuh terkait lebih dari 450 RW tersebut. Karena jika kita tidak memiliki data sosial yang utuh, menjadi sangat sulit untuk mendorong partisipasi masyarakat.

Salah satu prinsip penting dalam negara modern, khususnya ibukota, logika yang dipakai adalah knowledge to policy, research to policy, dan data to policy. Jika pemerintah membuat program namun tidak memiliki data maka program tersebut dapat salah sasaran atau salah agenda. Di dalam cara memahami ciri masyarakat kampung kota adalah selain dari kelemahan yang disebutkan sebelumnya, mereka memiliki tingkat solidaritas dan kekeluargaan yang cukup tinggi. Hal ini yang harus dioptimalkan untuk mengambil langkah-langkah dalam mendorong partisipasi masyarakat. Jika dilihat secara rasional, kita juga diuntungkan dengan budaya gotong royong yang tinggi secara kultural. Dapat dibayangkan jika negara ini tidak memiliki budaya gotong royong di tengah masyarakat, negara mungkin tidak akan kuat dalam menghadapi situasi pandemi ini. Seperti contohnya ada bantuan sosial yang luar biasa dari masyarakat yang nilainya bahkan mencapai triliunan dan melebihi kapasitas negara dalam membantu masyarakat. Itu adalah salah satu ciri dan potensi penting bagaimana masyarakat memiliki semangat untuk menolong.

Ada satu riset yang dilakukan oleh Central for Social and Political Studies yang menemukan bahwa masyarakat memiliki daya yang kuat untuk melakukan solidaritas, namun masyarakat hanya memiliki kekuatan sekitar 2-3 bulan dalam mempraktekan solidaritas tersebut. Hal ini berarti perlu ada data lain yang mendukung dimana setelah 2-3 bulan masyarakat mengalami proses sosiologis yang luar biasa (membantu tetangga dan solidaritas pada sesama), yaitu data psikologis sosial mengenai apa yang terjadi pada situasi psikologi sosial masyarakat.

Analisis sosiologi memiliki kaitan erat dengan peristiwa non sosiologi. Pandemi ini adalah peristiwa non-sosiologis tapi dampak sosiologisnya luar biasa. Di arena sosiologis ada yang namanya psiko-sosial dan hal tersebut harus diungkap. Misalnya, setelah 3 bulan masyarakat melakukan praktek sosial yang luar biasa, seberapa besar mereka mengalami tingkat stress? Seperti apa mereka stress dalam hidup di rumahnya? Jika rumah yang ditempat cukup besar kemungkinan memiliki tingkat stress yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di rumah yang kecil seperti di kawasan permukiman yang padat dimana menjadi ciri masyarakat kampung kota.

Hal ini menghadirkan diksi-diksi yang disebut dengan symbolic violence atau kekerasa simbolik yang memungkinkan muncul di tengah-tengah masyarakat. Misalnya, ketegangan simbolik muncul di tengah permukiman padat maka dapat memunculkan ketegangan sosial dan naiknya tensi sosial. Antisipasi yang dapat dilakukan warga supaya tensi sosial yang naik tidak menimbulkan kekacauan. Misalnya, tingkat keamanan meningkat karena jalan ditutup, tetapi di dalam dapat memunculkan ketegangan sosial yang luar biasa, apalagi di daerah padat. Jika ketegangan sosial muncul dan memicu tensi sosial, peranan treatment sosiologis menjadi sangat penting yang mengaitkan perspektif psikologis sosial. Misalnya, bagaimana bisa menghibur warga? Misalnya membangun permainan tradisional di kampung kota tetap berjalan sambal melakukan physical distancing. Hal tersebut merupakan praktek sosial yang secara psikologis menjadi budaya yang sempat hilang selama 2-3 bulan terakhir. Misalnya anak-anak biasa bermain petak umpet dan permainan tradisional lainnya dan budaya tersebut hampir hilang dalam 2-3 bulan ini.

Yang pertama adalah data sosial menjadi sangat penting, yang kedua adalah bagaimana kita memahami masyarakat (dapat menggunakan konsep “Verstehen”), yang ketiga adalah memahami kultur yang hilang dalam 2-3 bulan terakhir dan apa yang harus kita lakukan. Hal lain yang menjadi penting adalah bagaimana respon kita saat tensi sosial naik, bagaimana kita mendorong masyarakat berpartisipasi untuk mencegah ketegangan sosial terjadi. Kita perlu membaca bagaimana peran struktur sosial di lingkup paling kecil. Dalam analisis sosiologis ada konsep struktur sosial. Dalam lapisan-lapisan sosial yang paling bawah perlu dipetakan dan diajak bersama mendorong partisipasi masyarakat. Misalnya memanfaatkan peran tokoh non-formal, dalam logika Weberian ada yang disebut dengan otoritas formal dan otoritas non-formal, otoritas formal seperti RT/RW dan ada otoritas non-formal seperti tokoh kampung, tokoh adat, atau tokoh agama yang dapat diperankan dalam membangun partisipasi warga dalam situasi seperti ini. Hal-hal tersebut yang disebut dalam prinsip open government sebagai kolaborasi, yaitu melibatkan semua unsur dalam struktur sosial masyarakat baik yang formal maupun non-formal.

Terakhir, struktur kekuasaan elit harus membuat kebijakan yang mendukung gerakan-gerakan yang bersifat partisipatoris. Misalnya, apa yang harus dilakukan oleh Pemda DKI untuk mendorong masyarakat memiliki partisipasi tinggi. Kemudian Lembaga NGO seperti Rujak, ITDP, dan lain-lain didukung dalam bentuk kebijakan karena kebijakan menjadi sangat penting untuk mendorong partisipasi masyarakat di lapisan paling bawah.

 


Tulisan ini merupakan rangkuman dari tanggapan Ubedilah Badrun pada Webinar RCUS-ITDP: “Siasat Warga Hadapi Korona”. Disarikan oleh: Jonathan Hardianto Wibisono.

Ubedillah Badrun merupakan Peneliti dan Analis sosial politik nasional. Saat ini menjadi Ketua Asosiasi Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Se-Indonesia (APPSANTI), Mengajar Sosiologi Politik di UNJ. Direktur Pusat Studi Sosial Politik Indonesia (Puspol Indonesia), Direktur Eksekutif Center for Social Political, Economic, and Law Studies (CESPELS), peneliti, penulis, dan pembicara di berbagai forum seminar nasional. Latar belakang studi : S1 Pendidikan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial UNJ (Universitas Negeri Jakarta), Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, S2 program studi Ilmu Politik di Pascasarjana FISIP UI (Universitas Indonesia), Institute for Science and Technology Studies (ISTECS) Chapter Jepang 2004-2006, S3 bidang Ilmu Sosial di Pascasarjana FISIP Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya.

 

2 thoughts on “Bagaimana Memahami Situasi Sosial Masyarakat Jakarta dalam Perspektif Sosio-Psikologi

  1. Abiyya says:

    Halo, tulisan ini menarik sekali karena menggambarkan tentang pentingnya peran ilmuan sosial dalam merumuskan kebijakan yang sebaiknya dibuat pemerintah dalam menangani pandemi. Ternyata aspek sosial juga menjadi bagian yang penting dalam pertimbangan penanganan pandemi. Namun saya ingin meluruskan bahwa konsep verstehen merupakan konsep metodologi sosial untuk memahami fenomena sosial yang dikemukakan oleh Max Weber, bukan Durkheim.
    Terima kasih atas perhatiannya. Insight yang bagus dalam tulisan ini

  2. Pingback: Siasat Warga Hadapi Covid-19 - Rujak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *